Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Selama beberapa hari terakhir, Kara melakukan segala cara untuk menghindari suaminya. Tidur lebih awal, bangun lebih pagi dengan alasan keluar rumah, atau bahkan sengaja bangun lebih siang dari siapa pun di rumah. Semua dilakukan demi menghindari percakapan yang ia tahu akan terjadi cepat atau lambat. Namun, usahanya tampaknya sia-sia.
Saat ia terbangun pukul tiga pagi, sosok Deka sudah duduk di ujung sofa kamar. Wajahnya tenang, tapi tatapannya tajam, seperti sedang menilai dan menunggu. Dia tidak berbicara, hanya duduk dengan tangan bersilang di dada, menatap Kara yang perlahan bangkit dari tempat tidur.
“Aku tahu kamu udah bangu.” katanya akhirnya, suaranya rendah tapi dingin, menusuk keheningan malam.
Kara menggigit bibirnya, merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Dia tahu bahwa malam ini, dia tidak bisa lari lagi.
“Bisa kita bicara?” Deka melanjutkan, mencondongkan tubuh sedikit ke depan, seperti elang yang hendak menerkam mangsa.
Kara tidak langsung menjawab. Dia menunduk, mencari alasan apa pun yang bisa ia gunakan untuk menghindar. Tapi kali ini, tatapan Deka yang tajam membuatnya kehabisan kata.
“Aku yang ke sana, atau kamu yang kemari?” Nada ancamannya halus, tapi jelas membuat Kara merasa terpojok.
Dengan enggan, Kara bangkit dan berjalan mendekati sofa tempat Deka duduk. Langkahnya berat, seperti menanggung beban yang tak terlihat. Saat ia akhirnya duduk di sebelah Deka, jarak di antara mereka terasa seperti jurang.
Hening. Keduanya hanya duduk dalam diam, saling mengukur dan menunggu. Jam di dinding berdetak pelan, tapi setiap detiknya terasa seperti bom waktu yang menunggu meledak.
“Kamu sengaja menghindar?” Deka akhirnya memecah keheningan, suaranya tetap dingin, penuh kecurigaan.
Kara menggeleng cepat. “Enggak.”
“Bohong.” Desisnya, tajam dan penuh keyakinan.
“Aku enggak bermaksud begitu,” Kara mencoba membela diri, suaranya nyaris seperti bisikan.
“Terus apa?” Nada suara Deka naik, membuat Kara sedikit terlonjak.
“Aku... aku cuma belum bisa jawab pertanyaan kamu.” Jawabannya terdengar lemah, nyaris tidak terdengar.
Deka menyandarkan tubuhnya ke sofa, menarik napas panjang. Matanya tetap menatap Kara, meski kini ada sorot frustrasi di dalamnya. “Apa hamil anak aku itu menjijikkan buat kamu, Ra?”
Pertanyaan itu menusuk Kara. Ia memalingkan wajah, tidak sanggup melihat ekspresi Deka. “Bukan begitu...” bisiknya. “Aku cuma belum siap.”
“Kapan kamu siap?”
“Ya aku enggak tahu!” Suaranya mulai meninggi, ketakutan dan amarah bercampur dalam satu emosi yang tidak jelas.