Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Samuel tahu bahwa kedatangannya pasti akan disambut oleh kemarahan Clando Bulaleno.
Ia sudah memperkirakan hal itu sejak beberapa pria berbadan kekar tanpa basa-basi menyeretnya keluar dari gym, tidak peduli dengan tatapan penasaran orang-orang di sekitarnya. Mereka tak peduli seberapa keras Samuel menolak atau protes. Semua ini hanya berarti satu hal-sesuatu yang serius telah terjadi.
Dan firasat buruk itu menjadi nyata ketika mobil berhenti di depan gerbang besar yang sudah terlalu familier baginya. Rumah keluarga Bulaleno.
Samuel menghela napas pelan. Bukan karena takut-tidak, ia bukan tipe pengecut. Tapi menghadapi Clando Bulaleno dengan pakaian gym yang lusuh dan basah oleh keringat? Sama sekali bukan hal yang diinginkannya.
Saat tubuhnya diseret ke dalam ruangan megah itu, matanya bertemu dengan dua sosok yang sudah menunggunya. Clando Bulaleno, duduk di kursi besar yang menyerupai singgasana, dengan tatapan setajam pisau yang seakan mampu menelanjangi isi kepala Samuel. Di sampingnya, berdiri Adjie Wirakusuma, pria yang sayangnya harus ia panggil 'Papa'.
Namun, tatapan Adjie kepadanya kosong, nyaris tak berperasaan. Bukan hal baru. Samuel sudah berhenti berharap ada kasih sayang di mata pria itu sejak lama.
Samuel menundukkan kepala dengan hormat, meski dalam hati ia mendengus. Panggil saja ini formalitas.
"Sebelum saya bertanya, ada yang mau kamu katakan?" Suara Clando dingin, nyaris tanpa emosi, tapi mengandung ancaman samar di dalamnya.
Samuel tetap diam. Tidak ada yang perlu ia katakan.
"Saya anggap diam kamu sebagai tidak." Clando berdiri perlahan, matanya tak pernah lepas dari Samuel. "Apa benar perempuan bernama Seline itu mengandung anak Deka?"
Ada jeda. Ketegangan di ruangan itu semakin menebal. Adjie, yang sejak tadi hanya diam, meledak lebih dulu. "Jawab, Samuel!" bentaknya.
Samuel mengangkat kepalanya, menatap mereka berdua tanpa gentar. Ia tahu konsekuensi dari jawaban yang akan ia berikan. "Maaf, Pak. Saya tidak bisa memberikan informasi apapun terkait atasan saya, Tuan Zeusadeka Pantara Bulaleno, tanpa persetujuan langsung dari beliau."
Sejenak, ruangan itu senyap.
Lalu, Clando tertawa pelan. Bukan tawa yang ramah, melainkan tawa yang membuat bulu kuduk siapa pun meremang.
"Darah memang tidak bisa berbohong, ya? Integritas kamu mengingatkan saya pada seseorang..." Clando bertepuk tangan pelan. "Tapi jangan lupa siapa yang menempatkan kamu di posisi ini, Samuel. Saya. Bukan Deka. Kamu bisa setia pada Deka, tapi saya-saya yang memegang kendali. Apa kamu lupa perjanjian kita?"
Samuel menatap lurus, suaranya tetap tenang meski dadanya berdebar. "Saya ingat, Pak. Setiap detailnya. Tapi perjanjian itu juga menyebutkan bahwa saya harus melindungi privasi Tuan Muda Deka, dari siapa pun tanpa terkecuali. Termasuk Anda."