Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Mangkirnya Deka dari segala pemeriksaan terkait program hamilnya bersama Kara memancing kemarahan sang ayahanda. Tidak ada yang berani menyapa sang tuan besar saat ia berjalan melewati koridor tanpa seulas senyum pun pada wajahnya di iringi sang asisten setia, Adjie Wirakusuma yang mengikuti dengan kepala menunduk, tahu betul ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara.
Beberapa hari yang lalu sang tuan besar marah bukan main saat menerima berita bahwa sudah satu bulan terakhir sang putra tidak pernah hadir dalam pemeriksaan rutinnya bersama sang istri, Kara. Dokter juga mengatakan bahwa hanya ada Kara yang datang sendirian.
Tidak sampai di sana, Clando juga menerima laporan bahwa sang putra sudah tidak pernah lagi makan di rumahnya sendiri dan mengabaikan semua makanan sehat yang telah di persiapkan untuk dirinya bersama Kara.
Belum lagi Clando juga menerima banyak gambar yang berisi Deka sedang merokok dan minum alkohol. Tentu saja hal tersebut memancing kemarahan sang tuan besar. Pada awalnya Clando tidak ingin membahas mengenai hal ini di dalam kantor yang seharusnya menjadi tempat untuk bekerja namun mangkirnya Deka dari semua panggilannya yang diajukannya membuat Clando marah bukan main.
"Adjie, pastikan tidak ada satu pun yang masuk ke ruangannya sampai saya keluar." Suara Clando rendah, tapi penuh perintah.
"Baik, Pak."
Clando mendorong pintu ruang kerja Zeusadeka Pantara Bulaleno tanpa mengetuk, membuat Deka yang sedang bersandar santai di kursinya mendongak dengan alis terangkat. Tatapan Deka tetap tenang, bahkan ketika matanya bertemu dengan wajah sang ayah yang sudah memerah menahan amarah.
"Kenapa nggak kabarin kalau mau datang, Pi? Aku tadi bisa panggil Samuel buat siapin teh," ucap Deka santai, seolah tak sadar badai amarah yang akan datang.
Deka terkekeh kecil, matanya sedikit menyipit. "Kenapa lagi, Pi? Ada kontrak yang nggak beres?"
"Are u kidding? Papi sudah cukup bersabar Deka tapi kamu malah semakin mengecewakan." Ucap Clando yang tidak mendapat reaksi apapun dari Deka.
Deka tetap duduk dengan santai seolah tidak merasa takut oleh apapun. Tatapan matanya pun seolah menantang sang Ayahanda apalagi saat Clando melemparkan berbagai macam berkas ke atas mejanya.
"Mau sampai kapan kamu main-main, Deka? Sudah satu bulan terakhir kamu nggak hadir ke pemeriksaan program hamil! Dokter bilang cuma Kara yang datang. Kamu bahkan nggak kasih kabar apa-apa!"