Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit menggelap dipenuhi awan hitam yang membuat kesedihan terasa kian nyata. Sejak dulu, Deka memang selalu terlambat menyadari bahwa pilihan yang dibuatnya pasti akan membawanya pada penyesalan. Seolah tidak pernah jera, Deka selalu mengulang luka yang sama dengan judul yang berbeda.
Ironis.
Kata itu seolah memang sengaja ada untuk menggambarkan Deka dengan kehidupannya. Tidak ada manusia yang hidup dengan sempurna, tapi Deka menciptakan ketidaksempurnaannya sendiri. Tujuannya mungkin baik, tapi sayangnya tidak dilakukan dengan cara yang benar.
Deka selalu menyakiti orang yang diayanginya dan ketika Kara enggan bertemu dengannya, ia tahu bahwa ia lebih dari pantas untuk mendapatkan semua penolakan itu. Ia tidak lagi berani bertindak semaunya karena takut Kara muak dan membencinya selamanya.
Ketika Kara mengatakan agar ia tidak datang lagi ke rumah sakit, maka Deka dengan cepat mematuhinya tanpa membantah lagi. Namun, ketika sebuah pesan yang berasal dari Kara masuk ke handphonenya, Deka dengan segera membacanya. Senyum di wajahnya mengembang saat membaca isi pesan tersebut.
Raden sudah sadar dan Kara mengizinkannya untuk datang ke rumah sakit. Deka bahkan hampir tidak menyangka ketika membacanya, tapi tanpa membuang waktu, ia segera berganti pakaian dan pergi ke rumah sakit.
Langkahnya terasa sangat berat dan gemetar, padahal ini bukan pertama kalinya ia datang. Mungkin saja penyebabnya karena ia beberapa minggu ini dilarang untuk datang, jadi ketika kesempatan itu tiba, kakinya seolah bergetar.
"Kara-" panggil Deka dengan suara lirih saat melihat perempuan itu sedang mengobrol dengan Raden.
Kara menoleh dengan cepat dan segera berdiri begitu melihat Deka, sebelum itu Kara sempat menganggukkan kepalanya beberapa kali, barulah ia berani mendekat ke arah Raden
"Raden-"Anak itu hanya menatap dengan kedua matanya tanpa memberi jawaban.
Dalam keadaan bingung, Deka menatap ke arah Kara yang ternyata juga menatap ke arahnya. Lalu, Kara kembali mendekat ke arah Raden sambil menggenggam kedua tangan putranya itu.
"Bukannya tadi Raden mau ketemu sama Papi? Papinya datang kok malah didiemin?" tanya Kara yang tidak mendapatkan jawaban.
Raden memalingkan wajahnya enggan menjawab atau berbicara dengan siapapun. Namun Kara tidak menyerah sama sekali. Kali ini dengan hati-hati ia kembali bertanya, "Apa Mama suruh Papi pulang aja?" Raden dengan cepat menggelengkan kepala sambil bersuara pelan."Jangan!" lirihnya.
"Papi-" bisiknya memanggil Deka.
Mendengar hal tersebut Kara refleks mundur dan membiarkan Deka mendekat. "Iya, Papi disini."
"Jangan tinggalin aku sama Mama! Papi jangan pergi sama Tante itu." Lirihnya memohon.
Deka segera menggelengkan kepalanya lalu menggenggam kedua tangan Raden untuk meyakinkan putranya itu. "Papi nggak akan ninggalin kamu ataupun Mama-"