Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Dengan gaun putih selutut yang membalut tubuhnya, Kara menatap pantulan dirinya dari cermin besar di kamar. Tangannya berkali-kali mengepal dan mengendur, seakan berusaha menenangkan diri dari gelombang emosi yang terus menerjang. Napasnya diatur perlahan, tapi hatinya tetap gelisah.
“Aku bisa,” gumam Kara lirih, mencoba meyakinkan dirinya. Ini demi anak-anak. Raden dan Launa tidak boleh menjadi korban. Mereka berhak mendapatkan kebahagiaan yang utuh, bukan keluarga yang retak.
Di garasi, Kara menatap White Mercedes-Benz C-Class Coupe C63 yang terlihat begitu elegan. Mobil itu muncul tiba-tiba sejak beberapa minggu terakhir, sebuah tanda bahwa Deka selalu siap memanjakan keluarganya meski hubungan mereka kian renggang. Dengan langkah pasti, Kara memasuki mobil dan memulai perjalanan yang terasa berat di dada.
Sesampainya di kantor Deka, Kara melangkah memasuki lobi megah. Interior modern nan mewah diiringi suara langkah sepatunya di lantai marmer seakan menggema, membuat perasaan Kara semakin kecil. Para penjaga menyambutnya dengan sopan dan segera mengarahkannya ke lift VIP.
Di lantai atas, lift terbuka dan sosok Samuel sudah menunggu dengan senyum profesionalnya. “Selamat siang, Ibu Kara,” ucap Samuel sambil sedikit menunduk.
“Kamu di sini?” Kara terkejut. “Deka sudah tahu kalau saya datang?”
“Belum, Bu. Pak Deka masih dalam rapat,” jawab Samuel sopan. “Namun, saya sudah diberi kabar kalau Ibu akan datang. Mari, saya antar ke ruangan Bapak.”
Kara hanya mengangguk kecil dan mengikuti Samuel. Setibanya di ruangan Deka, Samuel membuka pintu dan mempersilakan Kara masuk. “Silakan menunggu, Bu. Jika Bapak selesai, saya akan memberi tahu beliau.”
Setelah Samuel pergi, Kara mendapati dirinya duduk sendirian di sofa ruang kerja yang besar. Aroma kayu cendana yang lembut menguar di udara, bercampur dengan wangi maskulin khas Deka yang masih tersisa.
Apa aku bisa melakukannya? Pikir Kara sambil meremas gaunnya. Napasnya kembali tertahan, dan ingatan tentang semua yang terjadi di masa lalu menyerbu pikirannya. Lima tahun. Lima tahun Deka telah berubah. Tapi bisakah ia benar-benar percaya bahwa perubahan itu tulus?
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya. Deka masuk dengan ekspresi datar, setelan jasnya rapi seperti biasa, tetapi matanya terlihat letih. “Kara,” panggilnya singkat, nada suaranya rendah dan dingin. “Ada perlu apa?”
Kara menelan ludah. “Aku… ada yang mau kubicarakan.”
Deka berjalan dan duduk di sofa di depannya. Satu kaki dinaikkan ke atas paha, tangan bersilang di dada. Tatapan matanya tajam, seolah ingin tahu setiap kalimat yang akan Kara ucapkan.
“Raden dan Launa kangen sama kamu,” Kara memulai. “Mereka tanya kenapa Papinya enggak pernah ikut sarapan, enggak antar mereka ke sekolah, atau ajak mereka main lagi seperti biasa.”