42. Senandung Lara

572 47 8
                                        

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

“Kara, let’s get divorced.”

Plak!

Sebuah tamparan resmi melayang mengenai wajah Zeusadeka Pantara Bulaleno. Meski bukan tamparan pertama tapi rasa sakitnya tidak membuatnya terbiasa sedikit pun. Rasanya juga jauh berbeda dari tamparan pertama. Kali ini lebih tajam, lebih menusuk.

Kara berdiri di depannya, napasnya memburu, matanya menyala dengan amarah yang selama ini ia tekan. Tatapan tajamnya menusuk seperti belati, dan tanpa ragu, tangannya mencengkeram kerah baju Deka, menariknya lebih dekat, seolah ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar ada di hadapannya, bahwa semua rasa sakit yang di rasakannya ini benar-benar nyata.

Senyum miring terbit di sudut bibir Kara, getir dan penuh kepedihan. “Aku nggak tahu harus senang atau sedih saat semua perkiraanku benar-benar terjadi.” Suaranya terdengar serak, tapi jelas menusuk. Ia tertawa pelan—tawa yang bukan berasal dari kebahagiaan, melainkan dari luka yang sudah membatu. “Hari ini kamu membuktikan sendiri bahwa semua yang aku pikirkan nggak pernah salah.”

Deka tetap diam, menatap Kara tanpa ekspresi. Namun, sesuatu dalam dadanya terasa mencengkeram erat, seolah kata-kata Kara menusuk ke dalam hatinya lebih dalam dari yang ia kira.

“Deka...” seru Kara dengan suara kecil.

Kara menggeleng pelan, sorot matanya menajam. “Terima kasih.”

Deka mengerutkan dahi.

“Terima kasih karena tetap jadi Deka yang brengsek seperti dulu.” Suara Kara bergetar, tapi bukan karena ketakutan—karena kemarahan yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. “Terima kasih karena kamu enggak pernah berubah. Karena dengan begitu…” Kara mendorong dada Deka dengan ujung jarinya yang gemetar. “Aku tahu kalau keputusan aku untuk menghapus kamu dari hidupku dulu itu bukan kesalahan.”

Deka menahan napas.

“Setidaknya aku sempat bahagia sebelum kamu datang lagi dan merenggut semuanya,” Kara berbisik, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Deka.

Deka tertegun, terdiam, terkejut, mendengar semua yang di katakan Kara. Dadanya tiba-tiba saja terasa sesak setelah mendengar semua pengakuan Kara. Walaupun selama ini Deka bisa merasakannya melalui sikap Kara kepadanya, tapi semuanya terasa berbeda saat mendengarnya secara langsung.

Senyum Kara mengembang saat melihat raut wajah Deka yang terlihat terkejut. Tangannya berpindah menyentuh wajah suaminya itu hingga terlihat keterkejutan lagi.

“Kenapa? Apa kamu kaget mendengar semua pengakuan dari aku? Hmm?” tanya Kara sarkastik.

Kedua tangan Deka mengepal di sisi tubuhnya, menahan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa itu.

Kara memiringkan kepalanya, menatapnya penuh sarkasme. “Deka… sepuluh tahun yang kamu bangga-banggakan itu ke mana?” Kara bertanya, suaranya penuh sindiran. “Katanya kamu pergi selama sepuluh tahun untuk berobat, supaya pantas buat aku? Apa sekarang kamu lupa janji itu?”

Shattered Dreams 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang