40. Cinta?

512 35 19
                                        

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

Selama seminggu ini Kara memilih diam dan tidak bertanya apapun kepada Deka. Keadaan Raden yang tidak kunjung sadarkan diri membuat Kara menelan semua pertanyaan di dalam kepalanya dalam diam.

Kara sebisa mungkin mengendalikan emosinya karena kesembuhan Raden adalah prioritasnya saat ini. Untungnya tuhan masih berbaik hati memberinya kesempatan untuk melihat Raden membuka mata.

Sejak sadar dari koma dan membuka mata, Raden tidak banyak bicara bahkan lebih banyak diam meskipun sudah di tanya oleh semua orang termasuk Deka. Raden juga seperti enggan merespon setiap kali Deka mengajaknya bicara. Dokter mengatakan hal tersebut wajar karena Raden masih syok atas kejadian yang menimpanya.

Namun, selain Deka yang mengajak bicara, Raden masih mau menjawab walaupun sedikit. Meski begitu, Raden juga tidak membiarkan Deka hilang dari pandangannya. Setiap kali melihat Deka hendak keluar, Raden menjatuhkan apa saja yang terjangkau oleh tangannya. Total sudah ada tiga gelas yang pecah akibat Raden.

“Mama.” Panggil Raden lirih.

Kara lekas mendekat. “Raden butuh sesuatu?” tanya Kara yang di balas gelengan oleh Raden.

“Papi enggak boleh pergi.” Ucapnya lirih namun masih bisa terdengar oleh Deka yang duduk di sofa.

Kara melirik ke arah Deka yang menatap ke arahnya. “Papi ada di sini. Apa Raden mau bicara sama Papi?” tanya Kara yang lagi-lagi di balas oleh gelengan.

Raden bahkan terlihat sengaja merubah posisi baringnya menjadi membelakangi Deka yang sedang duduk. Deka sendiri terlihat tidak bisa berkata-kata melihat keengganan Raden untuk menatapnya tapi setiap ia hendak melangkah keluar, bocah itu mulai tantrum.

“Raden, Papi salah apa?” tanya Deka.

“Papi enggak boleh pergi.” Ucap Raden untuk yang ke sekian kalinya.

“Pergi kemana?” tanya Deka dengan raut frustrasi. “Papi dari tadi di sini.”

“Ka, udah, Ka.” Ucap Kara saat melihat bahu Raden yang terlihat bergetar.

Situasi tersebut baru bisa berhenti saat Raden tertidur setelah meminum obat yang di berikan oleh dokter. Kara berjalan ke arah Deka yang terlihat benar-benar frustrasi hingga kemeja dan dasinya menjadi berantakkan.

Kara tidak langsung bertanya melainkan membiarkan Deka yang menutup mata dengan nafas beraturan. Tampaknya pria itu benar-benar kelelahan tidak sadar tertidur. Kara mengusap rambut Deka berharap suaminya itu bisa tertidur dengan nyenyak.

Hampir satu jam penuh Kara dengan senantiasa menunggu Deka yang sangat nyenyak dalam tidurnya sampai akhirnya suaminya itu menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

“Cuci muka dulu, Ka.” Ucap Kara yang melihat Deka tampak kesulitan menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu.

Deka mengikuti saran Kara meski tubuhnya sedikit oleng saat bangkit dari duduk.

Shattered Dreams 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang