Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Apa jadwal saya selanjutnya, Sam?” tanyaku tanpa mengalihkan tatapan dari layar komputerku.
“Jadwal selanjutnya adalah meeting bersama Pak Damian selaku CSO Adhitama Bank pada pukul setengah empat sore nanti.”
Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku dan masih ada dua jam lagi sebelum meeting selanjutnya. “Sam, tolong berikan semua berkas yang berkaitan dengan meeting saya nanti dan letakkam di atas meja! Saya mau keluar dulu.”
“Baik Pak.”
Setelah memastikan Samuel melakukan perintahku, aku memilih keluar dari ruangan yang sudah menjadi ruangan milikku. Cuaca di luar sedang panas dan tampaknya aku butuh segelas kopi dingin untuk menjernihkan kepalaku sebelum melakukan meeting selanjutnya.
Berhubung Cafeteria kantor ini berada di lantai dasar, sedangkan ruanganku ada di lantai sepuluh, aku menggunakan lift khusus pimpinan agar bisa segera sampai. Tumpukkan berkas-berkas yang menggunung sejak pagi membuat kepalaku terasa pusing.
Begitu sampai di lantai dasar, aku segera memesana satu gelas es kopi dan kembali membawanya ke lantai atas. Masih ada banyak berkas yang harus aku baca sebelum meeting nanti.
****
Pria yang tengah berdiri di depanku sekarang, Prasetya Damian Adhitama. Dia mengulurkan tangannya dan aku pun menyambut jabatan tangan itu.
“Senang akhirnya, anda memilih Bank kami untuk mendanai proyek kali ini.” Aku meresponnya dengan tersenyum, “silahkan duduk!” pintaku.
“Saya sudah membaca proposal yang anda kirimkan kepada perusahaan kami dan menurut saya itu proposal terbaik yang pernah saya lihat.” Pujiku.
“Terima kasih. Ini semua berkat kerja keras tim kami.” Balasnya. “Sebelumnya saya izin memperkenalkan diri secara langsung, saya Prasetya Damian Adhitama selaku CSO Adhitama Bank.” Ucapnya.
“Saya perlu memperkenalkan diri lagi?” gurauku dan di balasnya dengan tawa, “Tentu, jika anda bersedia.”
Di tengah pembicaraan kami berdua, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku spontan menatap ke arah pintu dan saat itu juga tatapanku terpaku pada seorang bocah laki-laki bermata bulat yang matanya mengerjap menatap kearahku.
“Maaf Pak, Den Raden minta di antar ke Bapak.” Aku menoleh ke arah Damian yang lekas berdiri dari duduknya menghampiri bocah kecil itu.
Damian terlihat berbicara pada bocah kecil yang terlihat selalu menggelengkan kepala. Kemudian Damian tampak menuntun bocah itu kembali bersamanya ke arahku. Raut wajah Damian memancarkan aura sungkan terhadapku.