Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
“Bapak sedang banyak masalah ya?”
Deka yang sedang menikmati setiap hisapan dari rokoknya hanya melirik sekilas. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Seline, caddy pribadinya, yang tengah duduk di sisi lapangan dengan wajah ceria, seolah tak memedulikan kesan serius yang terpancar dari pria di hadapannya.
“Kenapa? Apa wajah saya terlihat seperti orang yang lagi banyak masalah?” jawab Deka akhirnya, nada bicaranya terdengar dingin tapi santai. Ia tak repot-repot mengalihkan perhatiannya dari rokok yang kini hampir habis.
Namun, suara tawa renyah milik Seline memecah kesunyian, membuat Deka tanpa sadar sedikit menoleh. “Duh, saya mau jawab iya lagi, Pak,” balas Seline, tawa manisnya membekas di telinga Deka.
Seline bangkit, melangkah ringan menjauh sambil membawa tas kecil miliknya, meninggalkan Deka yang memandang kepergiannya dengan ekspresi datar. Ia tak terlalu ambil pusing, melanjutkan aktivitasnya dengan tenang, meski ada sesuatu dalam tawa itu yang entah kenapa sedikit mengganggu pikirannya.
Beberapa menit kemudian, langkah Seline terdengar kembali. Gadis itu kini berdiri di sebelah Deka, ekspresinya sedikit nakal. Sebelum Deka sempat bersuara, Seline dengan berani meraih rokok yang masih terselip di antara bibir pria itu dan membuangnya begitu saja ke asbak terdekat.
“Hei, apa-apaan ini?” protes Deka, suaranya datar, tapi jelas ada kejengkelan yang tersirat.
Alih-alih meminta maaf, Seline malah mengeluarkan permen lolipop dari sakunya dan menyodorkannya ke arah Deka. “Coba ini, Pak,” katanya sambil tersenyum lebar. “Strawberry, rasa favorit saya. Jauh lebih enak dari rokok Bapak itu, dan pastinya lebih sehat.”
Deka menatap permen itu sejenak dengan pandangan heran, sebelum akhirnya mengangkat alisnya. “Berani sekali kamu,” gumamnya pelan, meski bibirnya tersungging tipis, hampir seperti senyuman.
“Cuma berusaha menyelamatkan paru-paru Bapak,” Seline menjawab dengan wajah polos, meskipun jelas ada nada menggoda dalam suaranya.
Deka akhirnya memasukkan permen itu ke mulutnya, meski dengan gaya yang terlihat ogah-ogahan. “Kalau rasanya enggak enak, saya tuntut kamu,” ujarnya main-main.
Seline tertawa lagi. “Bapak ini suka bercanda juga ya.”
Deka memiringkan kepala, tatapannya meneliti gadis itu dari atas hingga bawah. “Kamu ini selalu berani melawan atasan ya. Harusnya kamu takut.”
Seline pura-pura meringis. “Maaf, Pak. Jangan hukum saya, ya.”
Bukannya menjawab, Deka malah mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya dan menyerahkannya pada Seline. “Ini,” katanya pendek.
Seline menerima kartu itu dengan dahi berkerut. “Apa ini, Pak? Saya sudah punya nomor kantor Bapak.”
“Nomor itu dipegang asisten saya, Samuel,” jelas Deka sambil menatap lurus ke arahnya. “Ini nomor pribadi saya.”