34. Meruntuhkan Ego

404 28 9
                                        

Tidak terhitung sudah berapa banyak cara yang Kara lakukan dan berapa banyak bujukan yang sudah diutarakannya kepada sang putra

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidak terhitung sudah berapa banyak cara yang Kara lakukan dan berapa banyak bujukan yang sudah diutarakannya kepada sang putra. Namun Raden tetap bersikukuh menolak makan. Putranya itu, yang biasanya begitu ceria dan aktif, sekarang menjadi pendiam dan keras kepala.

Semenjak sembuh dari demam, Raden sulit diminta makan. Jadwal makan yang biasanya ia patuhi kini selalu diabaikan. Bahkan, ia tampak sengaja mogok makan hanya untuk mengekspresikan kemarahan dan kekecewaannya. Kara mulai merasa putus asa.

“Raden,” panggil Kara dengan nada lembut, mengetuk pintu kamar putranya untuk kesekian kalinya.

“Sayang, Mama sudah masak makanan kesukaan kamu. Yuk keluar, makan, ya?” suaranya bergetar, mencoba menyembunyikan rasa frustasinya.

Tidak ada jawaban.

“Raden...” Kara mencoba lagi, kali ini mengetuk pintu sedikit lebih keras. Tetap tak ada respon dari dalam.

Akhirnya, dengan berat hati, Kara mengambil kunci cadangan dan membuka pintu kamar putranya. Ia tahu Raden akan marah, tapi ini satu-satunya cara.

Begitu pintu terbuka, Kara disambut oleh teriakan Raden. “Mama kenapa masuk kamar aku?!”

“Aku gak mau makan! Keluar, Ma!” serunya, dengan nada yang tidak biasanya ia gunakan kepada Kara.

Namun Kara menulikan telinganya. Ia tahu, ini bukan sepenuhnya Raden. Ini adalah amarah seorang anak kecil yang merasa kehilangan. Ia mendekati putranya perlahan, meskipun teriakan-teriakan itu terus menghujaninya.

“Keluar!”

“Aku gak mau makan!”

“Keluar, Ma!”

Kara duduk di tepi ranjang, mencoba mendekati Raden yang masih berteriak penuh emosi. “Sayang,” bisiknya lembut, “makan, ya? Biar Mama suapin.”

“Enggak! Aku gak mau!” Raden menolak dengan kasar, menatap Kara dengan mata yang penuh kemarahan dan, yang lebih menyakitkan, kekecewaan.

“Please, dengerin Mama, Raden. Makan itu perlu. Nanti kamu sakit.” Kara membujuknya sekali lagi, berusaha tetap tenang meskipun hatinya sudah mulai remuk.

Raden membalas tatapan Kara dengan mata yang kini mulai berkaca-kaca. “Aku sakit aja, Papi gak peduli. Jadi biarin aja aku sakit!”

Kara menahan nafasnya. Kalimat itu menghantamnya seperti pukulan telak. Ia mencoba meraih tangan Raden, tetapi bocah itu menariknya dengan kasar.

“Sayang, jangan gitu. Nanti kalau Raden sakit, Mama jadi sedih.” Kara berusaha menenangkan, tapi ia tahu itu bukan jawaban yang Raden butuhkan.

“Papi gak sedih.”

Kara menggeleng cepat. “Bukan gitu maksudnya, sayang. Papi kan lagi sibuk kerja. Jadi Raden harus makan yang banyak supaya Papi gak khawatir.”

Namun Raden hanya menatap Kara dengan tatapan penuh curiga. “Mama bohong. Papi udah gak peduli sama aku. Buktinya aku udah sakit dan gak makan berhari-hari, tapi Papi tetap gak datang. Apa jangan-jangan Papi juga mau ninggalin aku kayak Papa? Iya kan, Ma?”

Shattered Dreams 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang