38. Apa Yang Akan Terjadi?

340 19 4
                                        

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

Dengan dress hitam panjang semata kaki, Kara datang  ke rumah Mertuanya, untuk memenuhi panggilan sang mertua, Clando Bulaleno. Kara tidak tahu apa tujuannya sampai mertuanya itu menghubungi dirinya secara langsung dan meminta untuk bertemu.

Kedatangan Kara langsung di sambut puluhan pekerja di rumah mewah itu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang pemilik rumah, saat Kara bertanya, katanya Ibu mertuanya sedang keluar dan Ayah mertuanya sudah menunggu di ruang kerja.

Kara pun berjalan ke tempat yang telah di arahkan oleh Adjie Wirakusuma selaku asisten dan orang kepercayaan Clando Bulaleno, sang mertua.

Begitu sampai di sebuah pintu kayu jati yang sangat besar dengan ukiran yang rumit, Kara masuk dan melangkah masuk setelah pintu di tutup lagi. Tidak ada yang mengikutinya lagi, jadi bisa di simpulkan jika sang mertua berada di ruangan ini.

“Papi.” Panggil Kara pelan, suara itu seakan terjebak di tenggorokannya.

Clando mengangkat kepalanya dan mempersilahkan Kara untuk duduk.

“Papi ada perlu apa sampai mau bertemu Kara secara pribadi?” tanya Kara setelah beberapa saat keheningan yang mencekam.

Clando menghela napas panjang, tangannya bergerak meremas tepi sofa. “Saya minta maaf,” ucapnya dengan nada yang tulus, tapi penuh beban.

Kara terdiam. Kata-kata itu begitu tak terduga, membuatnya kehilangan kata-kata. “Maaf? Untuk apa, Pi?”

Clando menatap menantunya dengan mata yang seolah menyimpan ribuan kisah duka. “Karena saya gagal melindungi kamu dari Deka. Harusnya saya tidak pernah membiarkan dia kembali ke sini. Kalau saja saya lebih tegas, kamu tidak perlu terluka oleh ulahnya.”

Kara lagi-lagi tertegun. “Pi—”

“Dulu saya pikir Deka akan tumbuh mirip seperti saya. Apalagi dia juga ikut merasakan sakit yang saya rasakan tapi rupanya dia malah begitu mirip dengan Astanasia, Maminya. Dan lucunya lagi, kamu malah berada di posisi yang dulu saya alami.” Lanjut Clando.

Clando menatap Kara dengan tatapan penuh penyesalan. “Kamu pernah bertanya kan, apakah saya senang mendengar kabar kematian Papa kamu, Arsen? Jawabannya tidak. Saya tidak senang tapi juga tidak sedih. Kalau dulu, mungkin saya akan senang tapi seiring berjalannya waktu, saya tidak lagi merasakan hal itu. Kamu tahu kenapa?”

Kara menggelengkan kepalanya.

Clando tersenyum samar, senyuman yang sarat dengan kepahitan. “Saya melihat kamu yang waktu itu di gendong sama Mama kamu. Saya merasa bersalah mengutuk Arsen setiap mengingat wajah kamu. Lagi pula perselingkuhan itu ada karena keinginan Astanasia juga. Kalau saya bisa memaafkan Astanasia, lalu mengapa harus melimpahkan semua kebenciannya  sama Arsen?”

Meski sang mertua hanya menunjukkan raut datar tapi Kara bisa merasakan ada kesedihan yang mendalam di balik cerita itu.

Keheningan menggantung sejenak sebelum Clando melanjutkan, suaranya berubah menjadi lebih pelan, namun tegas. “Hari di mana saya mengetahui perselingkuhan Astanasia melalui CCTV dan pengakuan langsung dari Deka adalah hari terburuk dalam hidup saya. Rasanya saya ingin marah, mengamuk dan menghancurkan semua barang yang di dekat saya saat itu. Tapi kamu tahu, apa yang di lakukan Astanasia? Dia cuma duduk santai di dalam kamar sambil menunggu saya datang meski tahu saya bisa saja mengamuk saat itu. Saya bertanya, apa kekurangan dan kesalahan saya sampai dia berselingkuh? Jawabannya saat itu benar-benar membuat saya terdiam dan semua amarah saya meluap begitu saja.”

Shattered Dreams 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang