Melewati sepuluh tahun penuh penyesalan tanpa bertemu dengan Kara adalah sesuatu yang pantas di terima oleh pengecut dan bajingan sepertiku.
Selama sepuluh tahun itu pula, aku sering berangan tentang pertemuan indah yang akan aku lakukan saat berte...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
Deka masih waras untuk tidak membiarkan keretakan hubungannya bersama Kara di ketahui oleh Raden dan Launa beserta para pekerja di rumahnya. Apalagi keadaan mental Raden yang masih jauh dati kata baik-baik saja. Setelah pulang dari rumah sakit, anak laki-laki itu akan mengamuk setiap kali tidak menemukan sang Papi di rumah.
Hal itu juga menyebabkan Deka segara pulang ke rumah meski pekerjaannya telah menumpuk untuk di selesaikan. Setalah kedatangan Deka barulah Raden berangsur-angsur tenang dan mau memakan makanannya. Dengan berbagai bujukan juga dari Deka akhirnya Raden mau meminum obatnya dan kini sudah tertidur.
Pemandangan itu tentu saja tidak luput dari penglihatan Kara yang hanya diam tanpa bisa melakukan apapun. Jangankan mendengarkan ucapannya, Raden bahkan mengamuk ketika ia mencoba mendekat tapi Raden langsung tenang begitu Deka muncul di hadapannya.
Untuk itu Kara yakin ini satu-satunya kesempatan untuk berbicara dengan Deka. Kara melihat sekeliling dan ada banyak para pekerja di sekelilingnya, Deka tidak mungkin mengabaikannya di depan banyak orang.
“Ka, boleh kita bicara sebentar?” Kara sengaja mengeraskan suaranya, memastikan semua orang mendengar.
Deka menghentikan gerakan tangannya yang tengah mengusap rambut Raden. Tatapannya beralih ke Kara, lalu ke sekelilingnya. Ia menatap wajah-wajah penasaran para pekerja yang mengamati mereka dari kejauhan. Dengan anggukan kecil, ia menjawab. “Ikut aku.”
Begitu mereka tiba di kamar, Deka menutup pintu dengan perlahan, memastikan tidak ada suara yang dapat terdengar keluar. Suasana langsung berubah. Kehangatan dan kesabaran yang ia tunjukkan di depan para pekerja tadi kini menghilang sepenuhnya.
Tatapan Deka langsung berubah dingin saat tidak ada siapapun di sekeliling mereka. “Silakan, Ra,” ucap Deka dengan suara datar, bersedekap di depan dada. “Katakan apa yang ingin kamu katakan.”
Kara menghela napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia mendekat, mencoba meraih tangan Deka, tetapi gerakan itu langsung ditepis dengan dingin.
“Aku salah apa?” tanya Kara, suaranya terdengar sangat menderita. “Kamu selalu menghindar tanpa kasih aku penjelasan apapun. Kasih tahu aku kalau aku salah.” Sambung Kara.
Namun dengan satu kali lirikan mata dari Deka, tubuh Kara mendadak kaku dan suaranya terasa kelu. Deka memiringkan wajah di ikuti senyuman miring. “Kamu salah apa? Serius Kara? Are you wrong, but you don’t know it?” tanya Deka sarkas.
“Aku enggak akan tahu sampai kamu kasih tahu.”
Deka memainkan matanya sambil mendekat ke arah Kara. Tangan Deka terulur merapikan rambut Kara yang tampak berantakan di satu sisi. “Kamu harusnya tahu tanpa perlu mendengar apapun dari aku. Memangnya berapa banyak kesalahan yang kamu lakukan sampai-sampai kamu enggak tahu salahnya di mana?”