37. Kehilangan Deka

419 27 4
                                        

****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

Sejak kecil, Kara selalu percaya bahwa hidupnya akan berjalan seperti kisah di negeri dongeng. Ia dibesarkan dengan cinta melimpah dan mimpi indah. Orang tuanya selalu mendongengkan bahwa suatu hari ia akan menjadi perempuan cantik yang jatuh cinta pada pangeran, menikah, dan hidup bahagia selamanya.

Namun, kenyataan tak seindah dongeng.

Masa remajanya porak-poranda, dihancurkan oleh pilihan-pilihan salah yang ia buat. Semua kesalahan itu berakar dari satu hal, cinta pertamanya pada Deka. Perasaan yang awalnya indah berubah menjadi mimpi buruk yang membuatnya trauma hingga hari ini.

Ketika Deka meninggalkannya, Kara merasa seperti tenggelam di laut penuh trauma. Bertahun-tahun ia mencoba menyembuhkan dirinya sendiri. Namun, takdir punya rencana lain. Deka kembali muncul di hidupnya, kali ini sebagai "penolong" yang menawarkan janji kesetiaan dan kebahagiaan.

Kara tidak yakin apakah ia bisa percaya. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa perasaannya kepada Deka sudah mati, bahwa ia menerima Deka kembali hanya demi kedua anaknya, Raden dan Launa, yang membutuhkan figur seorang ayah. Tapi hatinya menolak menerima kenyataan itu.

Dan kini, melihat Deka bersama perempuan lain yang lebih muda, cantik dan menarik membuat hati Kara seperti ditikam belati.

Namun, kenapa hatinya harus sesakit ini?

Kenapa hatinya sakit setelah melihat Deka bersama perempuan lain yang jauh lebih muda darinya. Bukankah ia sendiri yang mengaku jika perasannya sudah tidak ada untuk Deka. Lantas mengapa? Mengapa ia harus sesakit ini?

"Bukankah aku sudah bilang, jauhi anakku?" Suara dingin Astanasia memecah keheningan di ruangan itu. Ia menatap tajam pada perempuan muda yang berdiri di dekat Deka.

Kara berdiri di belakang Astanasia, terlalu terkejut untuk berbicara. Kata-kata ibu mertuanya menggema di pikirannya. “Bukankah berarti Ibu mertuanya sudah tahu tentang perempuan ini sebelumnya?”

Deka mendesah panjang. "Mi, Seline ada di sini atas permintaan aku."

Astanasia mendelik, suaranya tajam seperti pisau. "Jadi sekarang kamu membela perempuan itu di depan Mami? Dan di depan istrimu sendiri?"

"Ini bukan masalah membela, Mi. Tolong dengarkan dulu."

"Dengar apa lagi? Penjelasan kosong yang selalu kamu buat?" Astanasia menyela, sorot matanya penuh penghakiman.

Ketegangan semakin memuncak hingga Kara tidak tahan lagi. Ia berseru keras, menghentikan perdebatan yang memekakkan telinganya. "Cukup! Tolong berhenti! Aku nggak mau mendengar apa pun lagi!"

Astanasia terkejut, tetapi memilih diam. Deka juga terlihat menahan diri, meskipun wajahnya tampak frustrasi.

Dengan suara bergetar, Kara memandang langsung ke mata Deka. "Siapa perempuan itu, Ka?"

Shattered Dreams 2Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang