Aroma kopi memenuhi udara cafe kecil itu—hangat, pahit, menenangkan. Joshua Putra duduk dengan postur santai, kacamata yang sedikit melorot ia dorong perlahan ke atas hidungnya.
Di hadapannya, Evelyn Peters memetik gitar dengan ekspresi serius. Jemarinya menekan senar dengan hati-hati, alisnya berkerut setiap kali nada meleset, tapi senyum kecil selalu muncul saat ia berhasil.
"Ugh, enough. I give up!" Evelyn mendesah frustrasi, meletakkan gitar ke samping dengan wajah cemberut.
Joshua tertawa kecil. "Hey, sabar, Eve. It's hard at first. Everyone struggles."
Evelyn menoleh, memicingkan mata. "Easy for you to say. Lo udah main gitar dari kecil. Gue baru pegang beginian."
Joshua mengangguk ringan. "But it wasn't easy for me either. I messed up a lot."
"Halah," Evelyn mendengus sambil menepuk dahi Joshua pelan. "Lo tuh berbakat."
Joshua hanya tersenyum. Gadis di depannya ini sudah bersamanya sejak masa SMA, satu-satunya orang yang mampu membuat dunianya terasa utuh.
"Aduh, gue harus pergi. Ada rapat," ujar Evelyn sambil memasukkan iPad ke dalam tas. "Don't wait for me, okay? It's gonna take a while."
Joshua mengangguk. "Hati-hati. Text me when you're done."
Evelyn tersenyum. "Always."
~
Malam semakin larut. Jam menunjukkan pukul sembilan tepat ketika Evelyn berdiri di halte kampus, menatap layar ponselnya.
Ojek online belum juga datang.
"Hai, sendirian aja?"
Suara berat dari belakang membuat tubuh Evelyn menegang. Dua pria berdiri terlalu dekat—bau alkohol menusuk, tatapan mereka tidak ramah.
"Maaf," Evelyn berusaha tetap tenang. "Saya lagi nunggu ojek."
"Ini udah malam, ojek kamu belum datang kan? Mendingan sama kita aja, kita anter tapi main dulu sebentar," pria itu bersikeras, melangkah lebih dekat sehingga membuat Evelyn merasa semakin terancam.
Satu pria memegang lengannya dengan kasar. "Saya yakin kita bisa bawa kamu ke tempat yang lebih seru."
"No, thank you," jawab Evelyn tegas. "I really need—." Sebuah tangan mencengkeram lengannya. "Lepasin!" Evelyn berteriak, jantungnya berdegup keras.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara sirene yang membuat kedua preman itu lari ketakutan. Evelyn bernapas lega melihat kepergian mereka. Tak lama kemudian, Joshua muncul dengan wajah khawatir, napasnya terengah-engah.
"Eve! Are you okay? They didn't hurt you, right?"
"Josh?" Evelyn terkejut. "Kok lo—"
"Gue denger lo teriak," potong Joshua cepat. Matanya menelusuri Evelyn, memastikan tak ada luka serius. "Kenapa nggak telepon gue?"
Evelyn menunduk. "Gue pikir... I could handle it."
Joshua menghela napas pelan. "Eve, you don't have to handle everything alone. You have me."
"Gue tahu, Josh. Tapi, kadang gue pengen jadi kuat dan mandiri. Gak mau merepotkan orang lain, gue juga gak mau terus bergantung ke lo, Josh." Jawab Evelyn pelan, melihat ke arah tanah.
"Listen, it's okay to lean on someone else sometimes. Even the strongest people need help. Dan percaya deh, lo nggak pernah merepotkan gue. Gue juga gak masalah lo bergantung terus sama gue, malahan gue senang. Just tell me if something feels off, okay?"
Evelyn mengangguk, merasa sedikit lega. "I appreciate it, Josh. Really. Thank you for being here."
Joshua melonggarkan ketegangan di wajahnya dan tersenyum. "Sekarang, ayo kita pulang."
"Ya, let's go. But what about Hiro?" Evelyn bertanya, ingat pada rencana sebelumnya.
"Biarin aja, gue gak jadi ke kost Hiro. Yang penting sekarang, lo aman," jawab Joshua sambil merangkul bahunya dengan lembut, membuat Evelyn merasa terlindungi.
Dalam perjalanan pulang, suasana hati Evelyn kembali tenang. Saat ini gadis itu bahkan sudah tertidur nyenyak di mobil. Berbeda dengan Joshua yang tegang. Rahang laki-laki itu mengeras, mengambil ponsel dan mengetikan sesuatu.
||Handle it. No mistakes.
Ia menoleh ke arah Evelyn, menyentuh pipinya dengan lembut.
"Sleep well, Eve. I'll take care of everything."
~
Ruangan itu gelap. Sunyi.
Dua pria berlutut, wajah mereka pucat ketika Joshua melangkah masuk.
"Siapa kamu?! Lepaskan kami!" Teriak salah satu dari mereka dengan suara gemetar, mencoba terlihat berani, tapi gagal.
Joshua hanya tertawa kecil, geli melihat ketakutan di mata mereka. Dia mendekati pria yang sebelumnya menarik tangan Evelyn dengan kasar, senyum tipis terukir di wajahnya, tetapi matanya dingin.
"Pilih," kata Joshua, suaranya rendah dan mengancam. "Atas atau bawah?"
Pria itu terlihat bingung. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, tapi akhirnya, dengan gugup, dia menjawab. "B-bawah?"
Joshua mengangguk, senyum lebar masih menghiasi wajahnya. "Good choice." Tanpa peringatan, dia mengeluarkan pistol dari kantong celananya dan, dengan gerakan cepat, menembakkan peluru tepat ke alat kelamin pria itu.
DOR
Teriakan pria itu memenuhi ruangan. "ARGH!" Dia menggeliat kesakitan, darah mulai mengalir dari lukanya. Pria kedua, yang duduk di sebelahnya, menatap dengan ngeri, tubuhnya gemetar hebat.
Joshua kemudian melangkah mendekat ke pria kedua, matanya menyala dengan kegilaan. "Sekarang giliran lo," katanya dengan suara serak. "Atas atau bawah?"
Pria itu gemetaran, air mata mulai membasahi wajahnya. "Ampuni saya! Tolong ampuni saya!" Dia memohon, suaranya penuh keputusasaan.
Joshua menunduk, menatap pria itu dari dekat, wajahnya berubah dingin. "Gue tanya lagi, atas atau bawah?" Joshua menekan, suaranya semakin mengintimidasi. "Lo punya lima detik buat jawab. Kalau lo tetap nggak jawab, gue yang bakal tentuin sendiri."
Joshua mulai menghitung perlahan, suaranya menegangkan. "Satu..."
Pria itu semakin panik, tubuhnya bergetar hebat. "Dua..."
"Saya bersumpah! Saya akan melakukan apa saja! Tapi tolong, jangan bunuh saya!" Serunya, air mata terus mengalir di pipinya. Namun, Joshua tidak berhenti.
"Tiga..."
"Empat..."
Saat Joshua hendak mencapai hitungan terakhir, pria itu berteriak putus asa. "Ampun! Tolong ampun!" Teriaknya. "Saya akan melakukan apapun yang kamu mau!"
Joshua memiringkan kepalanya, tampak berpikir sejenak, lalu menampilkan ekspresi yang konyol. Dia mengangkat kakinya, menekan sepatu botnya ke paha pria itu. "Kalau gitu, cium sepatu gue."
Pria itu tidak berpikir dua kali. Dengan cepat, dia menunduk dan mencium sepatu Joshua berulang kali, seolah hidupnya bergantung pada setiap ciuman itu.
Joshua tersenyum puas. "Bagus." Dia menunggu pria itu mengangkat kepalanya, napasnya tercekat saat dia menyadari pistol Joshua sudah berada tepat di depan wajahnya.
Joshua tertawa kecil, seolah menikmati ketakutan di mata pria itu. "See? Gue kan udah bilang buat pilih."
Hanya dengan satu tarikan pelatuk, peluru itu menembus kepala pria itu. Satu peluru juga melayang kearah pria yang sedang meraung kesakitan. Setelah keduanya sudah tak bernyawa, dia meninggalkan ruangan dalam keheningan yang mengerikan.
Joshua menatap mayat yang tergeletak di depannya. "This is what happens when you mess with someone I care about," bisiknya pada dirinya sendiri, sebelum dia menyimpan pistolnya kembali.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
RomanceBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
