Evelyn mengernyit bingung melihat tatapan dari setiap orang di koridor, tatapan dingin yang penuh hinaan. Kali ini, tatapan mereka bukan lagi sekadar tatapan biasa, ada kecurigaan, kebencian, bahkan kemarahan di mata-mata itu. Bisikan-bisikan samar mengelilinginya, menyelinap ke dalam pikirannya, satu per satu menghancurkan ketenangan yang selama ini dia pertahankan.
"Nggak nyangka dia begitu..."
"Gue jadi takut deket-deket dia."
"Iya ih, takut ikut tewas juga..."
"Memang dasar monster!"
Kalimat-kalimat itu, walau samar, bagaikan duri-duri tajam yang menusuk langsung ke dadanya. Jantung Evelyn berdebar semakin cepat, setiap langkahnya terasa semakin berat. Dia mempercepat langkahnya menuju ruang rapat, berharap bisa menghindari tatapan dan bisikan itu. Namun, saat memasuki ruang rapat, tatapan serupa menyambutnya, bahkan lebih tajam, lebih memojokkan.
"Lo nggak tahu malu ya, Lyn?" Suara Teresia terdengar, dia menatap Evelyn dengan sorot yang penuh kebencian.
Napas Evelyn tercekat. "Maksudnya apa, Ter?" Tanyanya, suaranya bergetar.
"Pakai nanya lagi!" Caitlin menyentak dengan nada penuh kemarahan, membuat Evelyn terlonjak. Di sebelahnya, Jaka tampak mencoba menenangkan Caitlin, tapi tatapannya sendiri tidak bersahabat. "Apa, Ka? Mau bela dia? Jangan karena lo demen sama dia jadi lo belain pembunuh kayak dia!"
Darah Evelyn seolah berhenti mengalir. "Pembunuh?" Dia hampir tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Matanya membelalak, tak memahami tuduhan yang diucapkan begitu kejam di hadapannya.
"Apa maksudnya, Cait? Gue nggak paham..." ucapnya lirih, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang.
Caitlin mendengus, menatap Evelyn dengan tatapan jijik. "Gara-gara lo, Owen, Galang, dan Syaila meninggal! Lo penyebabnya, Lyn! Semua yang ada di dekat lo, mereka semua tewas!" Suaranya bergetar marah, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan kebencian.
Evelyn terguncang, tubuhnya hampir limbung. "Apa? Cait, itu semua kecelakaan... gue nggak ada sangkut pautnya dengan itu!" Suaranya lirih, dipenuhi rasa sakit dan ketidakpercayaan.
"Kecelakaan?" Caitlin tertawa penuh ironi, suara dinginnya menggema di ruangan. "Tiga orang meninggal setelah mereka dekat sama lo, Evelyn, dan lo masih punya nyali buat bilang itu cuma kecelakaan? Come on, bahkan semua orang juga tahu, sebelum Owen meninggal, kalian ribut besar soal dia sama Miss Ingrid. And guess what? Nyokapnya Owen bilang, lo adalah orang terakhir yang ketemu dia sebelum dia tewas."
Evelyn berdiri mematung, tubuhnya bergetar hebat. Air matanya turun tak terkendali, tapi dia tetap menggeleng keras. "Bukan... itu nggak benar! Gue nggak pernah ketemu Owen se—"
"Jangan bohong, Evelyn!" Sela Caitlin membentak, langkahnya maju selangkah seolah menekan Evelyn lebih jauh. "Lo bunuh Owen karena dia ngehianatin lo, kan? That's why he's gone!"
Evelyn semakin mundur, punggungnya membentur meja. "Gue nggak... gue nggak mungkin... gue bahkan nggak ketemu dia!" Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.
Caitlin mendengus tajam. "Dan Syaila? Gue sempet denger lo bertengkar sama dia di ruang rapat sebelum dia 'bunuh diri.' Tapi gue nggak yakin kalau Syaila bunuh diri. Ini pasti semua ulah lo!"
"No, Caitlin, stop it! Please!" Evelyn memohon, tangisnya makin kencang.
Caitlin tidak peduli, malah tertawa mengejek. "Dan sekarang detektif arif? Lo pikir gue nggak tahu?"
Evelyn terdiam. Nama itu membuatnya semakin bingung sekaligus panik. "Detektif Arif?" Tanyanya dengan suara lemah.
Teresia, yang berdiri di belakang Caitlin sejak tadi, kini maju, ikut menekan Evelyn. Teresia menghela napas tajam, matanya menyipit seolah menyelidiki setiap reaksi Evelyn. "Detektif Arif tewas tadi malam," katanya dengan nada dingin, nyaris seperti menuduh. "Di gedung samping kampus. Tahu apa yang menarik? Dia tewas after meeting you. Coincidence? I don't think so."
Evelyn membeku di tempatnya. Kata-kata itu terdengar seperti gemuruh yang membelah pikirannya. "W-what? No... itu nggak mungkin."
Teresia hanya tertawa kecil, sinis. "Gue yakin lo dendam sama dia. Mungkin karena dia udah tahu lo dalang di balik semua kematian ini, dan lo takut rahasia lo kebongkar." Dia mendekat, menyipitkan mata seperti berburu mangsa. "Makanya lo oengen balas dendam dengan cara, lo sabotase mobil dia, biar kecelakaannya terlihat 'alami', kan?"
Evelyn mundur, punggungnya hampir menyentuh dinding. Air mata kembali mengalir, tapi kali ini bercampur rasa takut dan frustrasi. "Gue nggak pernah—"
"DON'T LIE TO US!" Caitlin berteriak keras, memotong Evelyn.
Suara Caitlin menggema seperti pukulan palu yang menghantam kepala Evelyn. Tubuhnya melemah, dan di jatuh terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu. Ini pertama kalinya Caitlin membentak Evelyn.
"I swear, it's not me... gue nggak pernah ngelakuin semua itu..."
"Nggak usah alasan deh! Lo itu—"
"Enough!" Joshua muncul dari pintu, tatapannya dingin dan tajam, langsung mengarah ke Caitlin dan Teresia.
"Joshua?" Caitlin menyipitkan matanya. "What are you doing here? Mau jadi penyelamat palsu buat dia?"
Joshua tidak menjawab langsung. Dia melangkah maju, berdiri di depan Evelyn seperti perisai. "Gue nggak akan biarin kalian fitnah Evelyn tanpa bukti. Lo punya bukti kalau dia pelakunya? Kalau nggak, tutup mulut lo."
"Bukti?" Caitlin mendengus. "Buat apa bukti kalau semuanya udah terarah ke Evelyn? Jelas banget semua orang yang ada di dekat dia perlahan hilang."
Joshua mengepalkan tangannya, menahan diri. "One more word, Caitlin. Just one more word, and you'll regret it." Suaranya rendah, tapi mengintimidasi.
Caitlin menatapnya, terdiam sejenak, lalu mengangkat bahunya. "Fine. Tapi ingat, Evelyn, kebenaran akan selalu keluar. Cepat atau lambat, semua orang akan tahu siapa lo sebenarnya. Dan lo Joshua, lo mungkin harus berhati-hati dari sekarang, takutnya lo korban berikutnya." Ucapan Caitlin membua Evelyn benar-benar sakit hati.
Joshua tidak memedulikan ucapan Caitlin. Dengan langkah tegas, dia membantu Evelyn berdiri, tangannya tetap memegangi bahu gadis itu seolah menjadi perisai dari segala tuduhan yang mengarah padanya. Tanpa berkata apa-apa, dia menarik Evelyn keluar dari ruangan rapat, meninggalkan para anggota BEM yang terdiam dalam kebingungan dan rasa bersalah.
Noel, yang sejak awal hanya menjadi penonton diam, akhirnya angkat bicara setelah keheningan menggantung di ruangan. "Kita nggak punya bukti buat nuduh Evelyn kayak gitu. Semua yang kita bilang tadi cuma asumsi."
Caitlin dan Teresia, yang sebelumnya penuh amarah, kini terdiam. Kata-kata Noel memukul mereka seperti tamparan dingin. Mereka sadar, ada kebenaran di balik ucapannya. Apa yang barusan mereka lakukan terlalu kejam, bahkan mungkin sudah melampaui batas. Tapi, itu semua mengalir begitu saja, saat tahu Evelyn adalah orang terakhir yang berinteraksi dengan para korban.
Joshua mengantar Evelyn menuju mobilnya. Dia tahu, situasi sekarang tidak memungkinkan untuk membawa Evelyn kembali ke kelas. Tadi saja, saat mereka berjalan melewati koridor, bisik-bisik dari mahasiswa lain sudah cukup membuatnya ingin mengamuk.
Evelyn duduk di kursi penumpang, tubuhnya lemas, wajahnya basah oleh air mata. Sepanjang jalan menuju mobil, dia terus menangis, seperti seorang tahanan yang dihujani tuduhan tanpa keadilan.
"Hey... I'm here," Joshua berbicara pelan, suaranya lembut. Dia menatap Evelyn penuh rasa bersalah. "Don't let them get to you. Gue percaya sama lo, Evelyn. Lo nggak salah apa-apa."
Evelyn menoleh dengan pandangan kosong, matanya merah dan bengkak. "Joshua, gue bukan pembunuh... gue nggak bunuh Owen, Syaila, dan detektif Arif. Mereka salah. Semua ini salah..." Ucapnya terbata-bata.
Joshua menelan ludah, hatinya terasa seperti ditusuk berulang kali. "Iya, Eve. Gue percaya." Suaranya terdengar yakin, tapi di dalam hatinya, ada perasaan bersalah yang menghantui. Sebuah kenyataan yang selama ini dia simpan rapat-rapat.
Dia tahu siapa pelaku sebenarnya. Dan itu adalah, dirinya sendiri.
Joshua menggenggam setir dengan erat, kepalanya penuh dengan pertanyaan. Dia tahu tindakannya tak bisa dimaafkan, tapi semuanya terjadi karena mereka mengusiknya. Perlindungan obsesifnya terhadap Evelyn telah membawa mereka ke titik ini.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
RomanceBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
