Part 45

101 9 0
                                        

Amsterdam, Belanda

"Kita harus segera menemukannya."

Suara Victor Klaassen menggema di ruangan, penuh dengan ketegasan dan amarah yang terpendam. Dia berdiri di dekat jendela besar dengan pemandangan malam Amsterdam, rokok yang terjepit di antara jarinya mengepulkan asap pekat.

Wajahnya, meskipun dihiasi keriput, masih memancarkan aura otoritas yang tak bisa dibantah. Victor adalah anak tertua keluarga Klaassen, pria yang terbiasa mengendalikan segalanya, termasuk kehidupan orang lain.

Thomas Klaassen, pria di samping Victor, memegang sebuah map tebal, menghela napas berat. "Tapi bagaimana caranya? Lokasinya sangat sulit dilacak," katanya, nada frustrasi terdengar jelas di suaranya.

Dia adalah anak ketiga keluarga Klaassen, lebih muda dan tampak lebih lugu dibandingkan Victor, tetapi sama sekali tidak bisa mengabaikan ketegangan yang kini meliputi mereka.

Victor mendengus kasar, melemparkan tatapan tajam pada Thomas. "Bajingan kecil itu selalu menyusahkan orang," desisnya. Rokoknya terbakar lebih cepat saat dia menarik isapan panjang, mencoba menenangkan amarah yang terus berkobar.

Seorang pemuda yang berdiri tak jauh dari mereka melangkah mendekat. Elias Klaassen, wajahnya tampan dan sangat mirip dengan Evelyn, bedanya ada pada mata. Mata Elias berwarna biru yang menusuk, garis rahang tegas, dan ekspresi yang sulit dibaca. "Apa yang akan Paman lakukan setelah Evelyn ditemukan?" Tanyanya, suara rendahnya terdengar ragu, hampir seperti dia takut mendengar jawabannya.

Victor mengarahkan pandangannya pada Elias, senyum dingin yang mengerikan muncul di wajahnya. "Tentu saja mengurungnya," jawabnya tajam. "Dia tidak pantas berkeliaran di luar, apalagi setelah semua kekacauan yang dia buat. Evelyn akan kembali ke tempatnya, suka atau tidak."

Elias menelan ludah, matanya bergantian menatap Victor dan Thomas. Ruangan itu terasa semakin sempit, seolah tekanan di antara mereka mampu menghancurkan tembok beton sekalipun. Namun, tidak ada yang berani membantah Victor. Evelyn adalah pusat dari kekacauan keluarga ini.

"Pastikan kita menemukannya sebelum Ayah dari anak itu kembali ke Amsterdam." Tambah Victor sambil menekan rokoknya di asbak, meninggalkan lingkaran abu yang memudar. "Aku tidak ingin ada kejutan lain. Evelyn harus kembali ke rumah, bagaimanapun caranya. Dia harus di beri hukuman, agar sadar atas apa yang dia perbuat."

Victor menatap jendela, rahangnya mengeras. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang mengisyaratkan bahwa dia tidak sepenuhnya setuju, tetapi dia tetap diam, membiarkan ketegangan menggantung di udara.

~

"Aku khawatir, aku cari kamu di supermarket, tapi nggak ketemu sama sekali," suara Joshua terdengar penuh kepanikan saat dia membuka pintu lebar-lebar untuk menyambut Evelyn.

Evelyn tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kegelisahan yang melilit hatinya. Dia melangkah masuk dan membalas pelukan erat Joshua. Di dalam dekapan itu, dia bisa merasakan tubuh pria itu bergetar, mungkin karena khawatir, atau mungkin karena sesuatu yang lebih gelap yang dia belum tahu.

"Aku nggak apa-apa," Evelyn berbisik pelan, meski jujur hatinya sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.

Joshua menarik diri sedikit, menatap wajah Evelyn dengan mata yang penuh kecemasan. "Kamu ke sini bareng siapa?" Tanyanya, nada suaranya mendesak, seolah ingin memastikan sesuatu.

Evelyn menelan ludah, mengabaikan pertanyaan itu. Sebaliknya, dia berkata dengan nada tenang namun penuh arti, "Josh, ada yang mau aku omongin sama kamu."

Joshua mengernyitkan dahi, jelas terkejut dengan sikap Evelyn yang berbeda dari biasanya. "Masuk dulu," jawabnya singkat, lalu berbalik memimpin Evelyn ke dalam rumah.

Langkah Evelyn terasa berat saat ia mengikuti Joshua. Entah kenapa, rumah yang dulu terasa nyaman ini sekarang seperti menyimpan ancaman di setiap sudutnya. Seperti jebakan yang perlahan menutup rapat di sekelilingnya.

"Papa ada di rumah?" Evelyn bertanya tiba-tiba, suaranya tenang, tapi matanya tak lepas dari punggung Joshua.

Joshua berhenti di depan pintu kamarnya, menoleh dengan tatapan curiga. "Kenapa nanya Papa?"

"Cuma nanya aja," Evelyn menjawab santai, mencoba menutupi keraguannya. Tapi Joshua tetap memperhatikan dengan seksama, seolah mencari tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran Evelyn.

Setelah memasuki kamar, Evelyn merasa udara di sekitarnya menjadi lebih tebal. Joshua mengunci pintu dengan gerakan pelan, menciptakan suasana yang semakin mencekam.

"Apa yang mau kamu omongin, Eve?" Suaranya terdengar lembut, namun ada ketegangan tersembunyi di balik nada itu.

Evelyn menarik napas dalam, memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan menatapnya langsung.

"Aku udah tahu, Josh."

Tubuh Joshua menegang, seperti batu karang yang dihantam ombak besar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, dan dia merasakan jantungnya berdebar begitu kuat seakan ingin melompat keluar. Tahu? Evelyn tahu apa? Pikirnya.

Apakah Evelyn sudah tahu tentang rahasianya? Tentang pembunuhan yang dia lakukan? Tentang mayat-mayat di gudang?

"T-tahu apa, Eve?" Suaranya berusaha terdengar santai, tetapi gemetarannya tidak dapat ia sembunyikan.

Evelyn menatapnya lebih dalam, mengerutkan dahi seolah mencoba memahami ekspresi Joshua yang mulai goyah. "Trauma kamu kambuh lagi, kan?"

Joshua membeku seketika, keheningan panjang menggantung di antara mereka. Detik berikutnya, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menghela napas panjang, lalu tertawa kecil yang terdengar lebih seperti usaha menenangkan dirinya sendiri.

"Josh?" Evelyn memanggilnya pelan, suaranya penuh perhatian, namun Joshua belum menjawab. Ia menurunkan tangannya, senyumnya miring, matanya berkilat-kilat penuh perasaan campur aduk.

"Hah... pasti kamu tahu dari Papa, kan?" Gumam Joshua akhirnya. Melihat Evelyn mengangguk pelan, dia mendecak dengan nada tidak suka. "Orang tua itu selalu ikut campur..." desisnya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

"Josh, ayo berobat," Evelyn berkata lembut. Dia mendekat, memegang tangannya, mencoba menenangkannya. "Aku temenin, oke? Kita bisa lewat ini bareng-bareng."

Joshua menggeleng pelan, menatap Evelyn dengan tatapan penuh luka. "Tidak, Eve. Aku nggak mau. Aku nggak gila. Aku nggak lemah!" Nada suaranya meninggi, menunjukkan ketakutannya yang paling dalam, menjadi seseorang yang tidak bisa diandalkan.

Evelyn tersenyum tipis, berusaha menjaga suasana tetap tenang. "Kalau kamu bilang gitu, berarti aku gila dan lemah dong?" Ucapnya bercanda, mencoba membuat Joshua sedikit rileks.

Wajah Joshua berubah panik. "Nggak, kamu nggak kayak gitu! Kamu kuat, Evelyn. Aku cuma..." suaranya mereda, tubuhnya tampak goyah.

Evelyn memotongnya dengan lembut. "Josh, kamu juga kuat. Kamu cuma perlu bantuan, itu aja. Aku pun gitu. Kita sama-sama butuh bantuan, jadi nggak usah malu, ya?"

Joshua menatap Evelyn lama, seperti mencari kepastian di matanya. Akhirnya, ia mengangguk, meskipun masih tampak ragu. "Oke, aku turutin kamu. Tapi kamu harus janji, selalu temenin aku."

Evelyn mengangguk penuh semangat, meyakinkannya dengan senyum yang lembut. "Aku janji, Josh. Aku bakal temenin kamu, sampai kamu sembuh."

Tbc

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 06 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang