Pagi ini, Evelyn menerima pesan dari Bryan. Pria itu memintanya untuk bertemu, tanpa memberitahu Joshua. Meskipun agak curiga, Evelyn setuju. Dia tahu Bryan, yang selalu seperti seorang ayah baginya, pasti punya alasan.
Sekarang, Evelyn sudah berada di ruang kerja Bryan di kantor, tempat yang biasa terkesan formal namun kali ini terasa berbeda. Dua pria bertubuh besar berdiri diam di samping kiri Bryan, ekspresi mereka datar seperti penjaga yang tak terpengaruh oleh apa pun yang terjadi di sekitar mereka.
Bryan tersenyum lembut saat melihat Evelyn memasuki ruangan. "Evelyn, sini duduk." Suaranya lembut diiringi dengan senyuman.
Evelyn mengangguk dan duduk di hadapan Bryan, merasa nyaman meskipun ada perasaan tak menentu yang menggelayuti hatinya. "Papa mau ngomongin apa?" Tanyanya, mencoba membaca ekspresi Bryan yang terlihat lebih serius dari biasanya.
Bryan menghela napas panjang, matanya sejenak tertunduk sebelum dia berbicara, "Papa mau minta tolong sama Evelyn..."
Evelyn menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa, Pa?"
Bryan menggerakkan tubuhnya sedikit lebih dekat, seolah memastikan agar percakapan ini tetap pribadi. "Papa mau minta tolong, kamu bujuk Joshua untuk pergi ke psikiater."
Evelyn terkejut, bibirnya sedikit terkatup, namun matanya langsung berbinar dengan kecemasan. "Psikiater?" Suaranya penuh kebingungan, namun ada perasaan khawatir yang mencuat. "Joshua kenapa?"
Bryan menatap Evelyn dengan tatapan serius, seolah ingin memastikan bahwa dia mengerti betapa pentingnya hal ini. "Joshua sedang tidak baik-baik saja, Evelyn. Kamu masih ingat tentang perundungan yang dialami Joshua?" Evelyn mengangguk, mengenang masa lalu yang penuh penderitaan bagi Joshua.
"Traumanya kambuh lagi. Dia bahkan pernah mecahin guci punya Mama Kirana di rumah. Papa takut kalau dibiarkan, dia bisa membahayakan dirinya sendiri."
"Papa juga sudah coba membujuknya, tapi dia nggak mau. Karena itu, Papa minta tolong sama Evelyn. Hanya Evelyn yang bisa bantu Joshua. Tolong bantu dia..."
Kata-kata Bryan itu terasa berat di hati Evelyn. Namun, dia tak tahu bahwa Bryan menyembunyikan kebenaran yang lebih kelam. Bryan tak akan memberitahu Evelyn tentang pembunuhan yang dilakukan Joshua, itu terlalu berbahaya. Jika Evelyn tahu, bisa-bisa gadis itu meninggalkan putranya, dan Bryan tahu apa yang akan terjadi jika Evelyn meninggalkan Joshua. Anak itu akan hilang kendali, dan Bryan tak ingin itu terjadi. Di dalam hati, Bryan merasa bersalah pada Evelyn karena keegoisannya ini.
Evelyn merasa hatinya tercekik. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Joshua? Sebagai seseorang yang sangat dia percayai, ini membuatnya bingung dan khawatir. Mengapa Joshua tidak memberi tahu dia tentang masalah ini? Joshua selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depannya. Mengapa dia harus memendam semuanya sendiri? Apakah Joshua tidak percaya padanya?
Evelyn akhirnya mengangguk mantap, meskipun hatinya ragu dan penuh kekhawatiran. "Baik, Pa. Evelyn akan coba bantu Joshua."
"Terimakasih banyak, Evelyn." Bryan tersenyum, meski senyum itu tak sepenuhnya tulus. Sebuah senyuman yang menyimpan beban di baliknya. Tak lama, Bryan seolah teringat sesuatu. "Papa juga denger berita tentang masalah kamu di kampus, Evelyn. Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya dengan kekhawatiran yang nyata di matanya.
Evelyn sedikit terdiam, kemudian senyum tipis muncul di wajahnya, mencoba menyembunyikan kesedihannya. "Iya, Pa. Evelyn baik-baik aja. Masalahnya juga udah seminggu lalu."
"Evelyn," Bryan melanjutkan, nadanya lebih lembut sekarang. "Evelyn tinggal bareng kami aja, ya?"
Evelyn menghela napas panjang. Joshua dan Bryan memang sama persis, selalu menawarkan dirinya untuk tinggal bersama. Tapi dia tidak ingin terlalu merepotkan keluarga Lesmana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
RomanceBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
