Part 27

577 29 0
                                        

Evelyn menelan ludah, mengingat pertemuan terakhirnya dengan Galang. Dalam hati, dia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya dicurigai pihak berwenang? Dia hanya seseorang yang kebetulan melihat Galang sebelum orang itu menghilang. Tapi tatapan Arif seolah menunjukkan bahwa ini bukan sekadar 'kebetulan' dalam mata mereka.

"Kami ingin mengulang beberapa pertanyaan, Nona Peters. Semoga anda bisa memberikan informasi lebih jelas dari yang sudah anda sampaikan sebelumnya," ujar Arif, suaranya tenang, tapi jelas tidak menawarkan kesempatan untuk menolak.

Evelyn mengangguk perlahan. Arif membuka notepadnya dan mulai menulis, sebelum memandang Evelyn dengan tatapan serius. "Ingat, Nona Peters, semakin anda jujur dan terbuka dengan informasi yang anda miliki, semakin cepat kami bisa menyelesaikan kasus ini. Saya harap anda memahami pentingnya hal ini."

Kata-katanya menekan, seperti memberi isyarat terselubung, membuat Evelyn merasa dia bukan sekadar saksi biasa di mata mereka. Pertanyaan ini akan menjadi ujian baginya, apakah dia benar-benar tahu sesuatu yang tak dia sadari? Dan apakah semua jawabannya akan cukup untuk menghapus kecurigaan yang perlahan membayangi hidupnya?

"Sebelum anda bertanya bagaimana saya tahu bahwa anda adalah orang terakhir yang menemui Galang, izinkan saya menjelaskan," kata Arif, duduk santai namun tetap waspada. Sorot matanya tetap terkunci pada Evelyn, mengintai reaksi apa pun dari wajahnya. "Seorang pelanggan di cafe tempat anda bekerja melihat anda berbicara dengan Galang. Kebetulan, dia memperhatikan lebih dari yang anda kira."

Evelyn menggenggam erat tangannya di pangkuan, berusaha tetap tenang meski hatinya berdebar keras. "Iya, saya memang bertemu dia," ucapnya, suaranya bergetar tipis. "Tapi itu cuma kebetulan. Kami juga cuma ngobrol sebentar."

Arif mengangguk pelan, lalu bersandar, seolah memberi ruang bagi Evelyn untuk bernapas. Namun, sorot matanya tetap tajam, menelisik seakan mencoba membaca isi hatinya. "Obrolan tentang apa, Nona Peters?"

Evelyn terdiam sejenak, mengingat kembali percakapan singkat mereka malam itu. "Obrolan biasa, Pak. Dia cuma nanya saya kenapa belum pulang, dan saya nanya balik kenapa dia masih di luar malam-malam. Hanya itu, tidak ada yang lain," jawabnya dengan jujur, yakin bahwa memang tidak ada yang penting dalam obrolan itu.

Arif menghela napas tipis, ekspresinya tetap datar, tak memberi petunjuk apa pun. "Dan anda tidak merasa aneh atau curiga dengan sekitar saat sedang mengobrol dengan Galang malam itu?"

Evelyn menggeleng. "Tidak, Pak. Saya tidak merasakan apa-apa. Saat itu juga ramai, karena tempatnya dekat dengan cafe yang buka 24 jam. Jadi saya pikir semuanya aman-aman saja."

Arif menatap Evelyn tanpa berkedip, matanya seolah mempelajari setiap detail ekspresi di wajahnya. Lalu, dia bersandar ke depan, menautkan jari-jarinya di atas meja dengan sikap yang lebih serius. "Saya harap anda mengerti kenapa kami harus bertanya seperti ini, Nona Peters. Galang bukan sekadar menghilang. Ada indikasi, seseorang menginginkannya lenyap."

Evelyn menahan napas, terkejut sekaligus tak percaya. "Maksud Bapak, ada yang ingin dia hilang selamanya?"

Arif tidak mengangguk, namun dari pandangan matanya, Evelyn tahu jawabannya. "Ini bukan lagi sekadar kasus orang hilang. Ada pola, dan ada bayangan di baliknya yang tidak bisa kami abaikan. Kami butuh kebenaran, dan saya harap anda bisa membantu kami mengungkapnya-"

"-mengingat tentang kasus Owen." Arif berhenti sejenak, matanya tak lepas dari Evelyn, yang kini terdiam dengan tatapan kosong begitu nama itu disebut. Sepertinya gadis itu masih tenggelam dalam kehilangan. "Ada satu hal yang ingin saya sampaikan pada anda, Nona Peters."

"Apa itu... tentang Owen?" Evelyn bertanya pelan, suaranya nyaris berbisik. Tangannya bergetar halus di atas pangkuannya.

Arif menatapnya lebih dalam, ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Mungkin anda tidak siap mendengarnya, tapi ini penting untuk anda ketahui. Semuanya berhubungan dengan anda, Nona Peters."

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang