Pagi ini, Evelyn duduk diam di sofa apartemen, memainkan ujung rambutnya sambil menunggu Joshua kembali dengan barang-barang pribadinya. Setelah menceritakan semuanya tentang Calvin tadi malam, Joshua memaksa Evelyn untuk tinggal bersamanya. Evelyn sempat menolak, merasa berat hati jika harus terus merepotkan Joshua, tetapi pria itu tidak memberikan ruang untuk penolakan.
Dengan suara tegas dan tatapan yang tidak bisa dibantah, Joshua berkata.
"Ini demi keamanan kamu. Apartemen ini akan jadi tempat paling aman, dengan kamu di dalamnya, dan aku yang menjaganya."
Evelyn mendesah kecil, matanya melirik ke sekeliling apartemen yang kini sudah jauh lebih bersih dibandingkan saat pertama kali dia datang. Meski Joshua termasuk rapi, tetap saja sudut-sudut ruangannya penuh debu. Semalam Evelyn bahkan bersin-bersin hingga Joshua tidak berhenti meminta maaf dan berjanji untuk lebih sering membersihkan apartemen di waktu luang.
Bunyi pintu apartemen yang terbuka membuyarkan lamunannya. Evelyn segera menoleh dan melihat Joshua berdiri di ambang pintu, membawa koper dan tas besar yang terlihat sangat berat. Napasnya sedikit tersengal, tetapi dia tetap memasang senyum kecil saat mata mereka bertemu.
"Tuh kan, apa aku bilang. Harusnya aku ikut juga biar kamu nggak kesusahan bawa barangnya!" Evelyn menghampiri, mengambil salah satu tas dari tangannya.
Joshua menggeleng pelan sambil menutup pintu dengan siku. "Nggak boleh. Kalau kamu ikut terus Calvin lihat kamu, gimana? Aku nggak mau ambil risiko ya, Eve."
Evelyn terkekeh mendengar nada posesif Joshua. Dia menaruh tas di sudut ruangan lalu mendekat, tangannya terangkat untuk mengunyel pipi Joshua. "Gemes banget sih kamu kalau lagi kayak gini."
Joshua hanya menggeram kecil, seolah tidak mau tersentuh oleh ejekan lembut itu. Tapi senyum tipis di bibirnya membuktikan dia senang dengan sentuhan Evelyn.
Setelah menaruh semua barang di kamar, Evelyn menarik tangan Joshua menuju dapur. Di atas meja, piring nasi goreng yang masih mengepul terlihat mengundang. Evelyn meletakkan tangan di pinggangnya, memandang Joshua dengan tatapan pura-pura mengintimidasi.
"Aku udah buatin nasi goreng. Padahal aku mau masak yang lain, tapi kulkas kamu cuma ada bawang sama telur. Itu pun hampir busuk."
Joshua tertawa kecil, duduk santai di kursi, sementara matanya tidak lepas dari Evelyn yang sibuk seperti pemilik apartemen. "Apapun yang kamu buat, aku akan makan sampai habis."
Evelyn mengangkat alis, menatap Joshua dengan gaya sok menilai. Namun, tak lama kemudian, dia tertawa kecil, senyumnya menggoda. "Kalau aku kasih kamu makanan basi, kamu juga bakal makan?"
"Demi kamu." Joshua terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Eve, aku boleh minta sesuatu?"
Evelyn melirik sambil terus mengatur piring di meja. "Apa itu?"
Joshua menggigit bibirnya, sedikit ragu sebelum menjawab, "Anu..."
"Anu apa?" Evelyn mengerutkan kening, menatapnya dengan tatapan curiga.
Lalu, dengan santai tapi penuh maksud, Joshua menunjuk bibirnya. Evelyn membeku, wajahnya memerah seketika. Matanya membulat, bingung antara ingin tertawa atau marah. Namun, sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk mendekat.
Dalam hitungan detik, dengan keberanian yang tidak biasanya, Evelyn mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir Joshua sekilas. Ciuman itu cepat, nyaris seperti sentuhan ringan. Tapi dampaknya, menghantam Joshua seperti badai.
Pria itu terdiam, matanya terpaku pada Evelyn yang kembali sibuk seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi di dalam dadanya, jantungnya berdebar tidak karuan. Ini pertama kalinya dia merasakan bibir kenyal Evelyn menyentuh bibirnya, bibir yang selama ini hanya bisa dia bayangkan dalam mimpi. Bibir yang tidak hanya melemparkan senyuman, tetapi kini memberinya ciuman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
RomanceBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
