Part 29

584 21 0
                                        

Sejak kecil, hidup Joshua selalu dikendalikan oleh kakeknya. Setiap langkah yang diambil Joshua, setiap pilihan yang dia buat, semuanya harus selaras dengan keinginan sang kakek. Rasanya, seolah-olah dia dilahirkan ke dunia ini hanya untuk menjadi boneka hidup bagi sang kakek, untuk mewujudkan cita-cita dan ambisi pria itu yang tak pernah terwujud.

Bukan hanya Joshua. Semua sepupu yang ada dalam keluarga besar mereka juga terjebak dalam aturan yang sama. Mereka diajari untuk menjadi orang yang sukses, dihormati, dan ditakuti di masa depan. Tidak ada ruang untuk kegagalan, tidak ada kesempatan untuk menjadi biasa saja.

Setiap detik kehidupan mereka direncanakan dengan teliti, dan setiap kesalahan kecil yang mereka buat harus dibayar dengan hukuman yang keras. Hukuman yang kadang-kadang membuat Joshua merasa seperti bukan dirinya sendiri, seolah setiap keinginan dan impian pribadinya tidak berarti apa-apa.

Lahir dalam keluarga yang kaya raya memang memberikan kenyamanan yang tak terbayangkan oleh kebanyakan orang. Uang bisa membeli hampir semua hal. Joshua bisa memiliki apa saja yang dia inginkan, mobil mewah, rumah besar, pakaian bermerek, bahkan perjalanan ke tempat-tempat eksotis. Segalanya ada dalam genggamannya, seolah dunia ini miliknya.

Tetapi, kenyamanan itu terasa hampa, karena di balik semua kemewahan itu, Joshua selalu merasa terperangkap dalam ekspektasi dan aturan yang ditentukan oleh kakeknya.

Hidup yang sempurna dan terencana, yang seharusnya memberi kebahagiaan, justru menjadi beban yang semakin berat. Joshua tidak pernah merasakan kebebasan sejati. Keinginan pribadinya sering kali tertelan oleh tuntutan keluarga.

Di balik senyum dan penampilan sempurna yang selalu dia tunjukkan, ada rasa lelah yang tak terucapkan. Keinginan untuk lepas dari cengkraman kakeknya, untuk memilih jalannya sendiri, tapi Joshua tahu betul bahwa melawan sistem yang sudah ada selama bertahun-tahun bukanlah hal yang mudah.

Para sepupu dan kakaknya masing-masing sudah memiliki jalan hidup yang ditentukan. Sang kakek, dengan tangan besi, telah menetapkan profesi dan masa depan mereka, meskipun sering kali itu bertentangan dengan minat dan impian pribadi mereka. Mereka tak punya pilihan selain menerima takdir yang sudah digariskan.

Begitu pun dengan Joshua. Sejak kecil, dia telah dipilih untuk menjadi penerus grup Lesmana, penerus yang akan membawa nama besar keluarga ke puncak kejayaan. Itulah mengapa perlakuan sang kakek terhadap Joshua jauh lebih keras dibandingkan dengan yang lain. Joshua tidak hanya dididik untuk menjadi sukses, tapi untuk menjadi sempurna dan harus sempurna. Tidak ada ruang untuk kesalahan, tidak ada ruang untuk kelemahan. Semua harus berada dalam kontrol.

Dan itu yang membuat hidup Joshua sangat berat.

Suatu malam, ketika hujan turun deras dan udara terasa menggigit, Joshua membuat kesalahan. Sebuah kesalahan yang, meski kecil, tapi bagi sang kakek tetap tak termaafkan.

Dengan tanpa perasaan, sang kakek menyeret tubuh Joshua ke taman belakang yang gelap. Tanpa bicara, dia mengangkat tubuh Joshua dengan satu tangan, seolah-olah anak itu hanya sebuah benda tak bernyawa, dan memasukkannya ke dalam tong besar yang penuh air.

Malam itu, Joshua merasakan hawa dingin yang lebih menusuk dari biasanya, dan suara hujan yang deras di luar terdengar begitu jauh, seakan semuanya menghilang. Satu-satunya hal yang ada hanyalah gelap, dingin, dan tekanan berat yang menyesakkan dadanya. Kakek itu menutup rapat tong itu tanpa sedikitpun rasa kasihan, membiarkan Joshua terkurung di dalamnya, merenungi kesalahannya dalam keheningan yang penuh penderitaan.

Waktu berjalan begitu lambat dalam kegelapan itu. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar. Tiga jam lamanya, Joshua terjebak dalam tong air itu, merasa tubuhnya mulai lemas, merasa seperti hampir tenggelam dalam kekelaman yang tak bisa dia hindari. Air yang dingin itu membuat tubuhnya menggigil, tapi yang lebih menyakitkan adalah kesepian dan keputusasaan yang semakin menggerogoti jiwanya.

Bryan dan Kirana tidak bisa tinggal diam. Bryan, yang tidak tahan melihat anaknya diperlakukan dengan cara itu, bergegas ingin menyelamatkannya. Namun, begitu dia melangkah ke depan, ayahnya menodongkan pistol.

"Jika kamu berani menolong cucuku, siap-siap peluru pistol ini akan menembus tong itu." Kata sang kakek dengan suara yang berat dan dingin, seakan tak ada ruang untuk negosiasi.

Bryan, yang tahu betul bagaimana sifat ayahnya, dia hanya bisa berdiri diam dengan perasaan hancur. Tidak ada cara untuk melawan ucapan ayahnya selalu menjadi hukum yang tak bisa dibantah. Dengan hati yang penuh kekhawatiran, Bryan hanya bisa merapalkan doa dalam hati, berharap anaknya selamat dari hukuman yang tidak manusiawi itu.

Joshua jatuh sakit setelah kejadian itu. Demam tinggi menyerang tubuhnya selama lima hari penuh. Dalam keheningan dan ketidakberdayaannya, Joshua hanya bisa terbaring, merasakan tubuhnya yang lelah dan rusak akibat perlakuan yang begitu keras.

Namun, seolah alam semesta memberi ironi yang tak terduga, setelah lima hari Joshua sakit dan akhirnya bangkit kembali, entah itu kabar buruk atau kabar baik, datang menggantikan rasa sakitnya. Sang kakek, yang seakan tak pernah merasa lemah, akhirnya terbaring di rumah sakit menggantikan Joshua. Serangan jantung yang tiba-tiba membuatnya harus dirawat intensif.

Joshua berdiri diam, menatap tubuh sang kakek yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sebuah perasaan campur aduk menyelimuti dadanya, antara rasa lega yang tak terungkapkan dan kecemasan yang menggigit dalam.

Mata Joshua tetap terpaku pada sang kakek, tubuh yang dulu selalu kuat dan penuh kuasa kini terlihat rapuh. Begitu banyak tahun dihabiskan dengan perintah dan tekanan, seolah hidupnya hanya untuk memenuhi ekspektasi yang tak pernah habis. Namun kini, semuanya tampak berbeda. Kakeknya terbaring tak berdaya.

Tiba-tiba, suara bisikan mulai menyeruak di benaknya. Suara-suara yang datang entah dari mana, seperti hantu masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.

"Bunuh dia."

"Ambil pisau buah itu atau cabut alat-alatnya."

"Ubahlah takdirmu, Joshua."

"Jangan biarkan dia hidup lagi. Dia sudah banyak menyiksamu. Bukankah ini saat yang tepat untuk balas dendam?"

Hati Joshua berdegup kencang, ketakutan dan dorongan yang tak bisa dia kendalikan saling beradu. Tangannya meraih meja di samping ranjang tempat sang kakek terbaring, menggenggam alat medis yang bisa menjadi senjata.

Sekejap, Joshua membayangkan mengubah segalanya, menghentikan penderitaan yang telah bertahun-tahun menghantuinya. Hidupnya, keluarga ini, bisa selesai dengan satu tindakan.

Namun, saat tangannya mulai meraih alat itu, sebuah suara tiba-tiba menggelegar di ruangan itu, datang dari monitor jantung yang terpasang di samping ranjang. Bunyinya memecah keheningan, keras dan memekakkan telinga. Garis datar mulai muncul di layar, menggantikan pola detak jantung yang dulu begitu familiar. Dan saat itu juga, udara di sekitar Joshua seakan berhenti.

Sang kakek telah meninggal.

Joshua terpaku, tak tahu apa yang harus dirasakannya. Lega? Ya. Tapi juga ada kekosongan. Begitu banyak waktu yang dia habiskan untuk merencanakan segala balas dendam, namun pada akhirnya, semuanya berhenti dengan sendirinya, tanpa dia harus melakukan apa-apa.

Kakeknya, lelaki yang menjadi sumber rasa sakit dan penderitaan itu, akhirnya pergi tanpa perlawanan.

Joshua menatap layar monitor itu, menggenggam erat tangannya yang tiba-tiba terasa begitu kaku. Entah mengapa, meski semua rasa sakit itu harusnya hilang, malah semakin menyesakkan dada.

Namun, bisikan itu masih ada. Dalam hati dan pikirannya, ada sesuatu yang mulai tumbuh, keinginan yang lebih besar, lebih gelap. Joshua tahu bahwa ini bukan akhir. Bukan hanya kakeknya yang telah jatuh. Ada lebih banyak orang yang harus merasakan apa yang selama ini dia rasakan.

Keinginan untuk balas dendam itu tetap membara, dan sekarang, tanpa halangan apapun, takdirnya akan diputuskan oleh dirinya sendiri.

Dan Joshua tahu, dunia ini hanya akan bergerak menurut kehendaknya.

Tbc

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang