Part 33

560 17 0
                                        

"Lo tahu, Josh," Evelyn memulai, suaranya sedikit gemetar meski dia mencoba tetap tenang. "Kemarin waktu gue di kantor polisi, gue ketemu Tante Maya. Dia bilang kalau kematian Syaila bukan karena bunuh diri... tapi dibunuh."

Kalimat itu menggantung di udara, penuh ketegangan. Evelyn mengamati wajah Joshua dengan cermat, mencoba membaca ekspresi apa pun yang bisa menjadi petunjuk. Namun, tatapan pria itu tetap datar, tanpa sedikit pun perubahan. Tidak ada rasa terkejut, tidak ada kemarahan, hanya dingin yang tak tertembus.

"Kok lo diem aja?" Evelyn memberanikan diri bertanya, menyusuri setiap detail di wajah Joshua, mencari sesuatu yang bisa mengkhianati emosinya. "Syaila itu teman gue, temen lo juga, Josh. Gue pikir lo akan lebih peduli."

Joshua menghela napas pelan, seakan kata-kata Evelyn tidak benar-benar menembusnya. "Apa yang lo harap gue rasain, Eve?" Ujarnya dengan nada rendah, hampir tanpa intonasi. "Lo sendiri tahu, gue nggak terlalu dekat sama Syaila. Dan juga, lo percaya aja sama kata-kata Tante Maya?"

Evelyn terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dalam hatinya, ada perasaan yang bercampur aduk, antara ketidakpercayaan dan ketakutan. Kata-kata Syaila yang menyebut Joshua sebagai pelaku kini bergema semakin keras di pikirannya, namun dia tidak ingin mempercayai itu. Tidak mungkin, bukan? Joshua adalah sahabatnya, seseorang yang selalu ada untuknya, bahkan saat dia merasa seluruh dunia melawannya.

"Tapi, Josh ada hal-hal yang janggal," ucap Evelyn lirih, seakan suara itu hanya untuk dirinya sendiri. "Kata Tante Maya, Syaila pernah bilang ada yang ngancam sama awasin dia. Kalau benar ini semua bukan bunuh diri... lo nggak merasa ini aneh?"

Joshua menatapnya, mata hitamnya begitu dalam, seakan menyelami setiap pikiran Evelyn. "Denger, Eve," suaranya sedikit mengeras, meski tetap tenang. "Kadang orang bikin kesimpulan sendiri saat mereka nggak bisa terima kenyataan. Tante Maya mungkin nggak siap menerima kematian Syaila. Lo tahu sendiri, kan?"

Evelyn menggigit bibir, merasakan ada sesuatu yang tidak terkatakan di antara mereka. Hawa dingin yang mengalir dari Joshua terasa menusuk, dan Evelyn tidak bisa mengusir keraguan yang mengintai dalam benaknya. Kata-kata Arif tentang investigasi terus berputar di pikirannya, menambah lapisan kegelapan di situasi ini.

"Gue cuma mau lo tahu, gue peduli sama lo," lanjut Joshua tiba-tiba, mengubah topik dengan tatapan lebih lembut. "Jangan sampai semua ini bikin lo terbawa emosi. Gue cuma nggak mau lo terlibat dalam sesuatu yang nggak ada hubungannya sama lo."

"Gue juga tahu, saat ini lo lagi curiga sama gue karena kata-kata Syaila waktu itu, kan?" Joshua tersenyum kecil, namun sorot matanya tajam saat menatap Evelyn. Dia memiringkan kepalanya sedikit, ekspresinya mengandung kekecewaan yang membuat Evelyn merasa tertohok.

Melihat Evelyn terdiam, Joshua tertawa kecil, tawa yang tidak benar-benar menyenangkan. "Syaila nggak ada bukti sama sekali buat buktiin kalau gue pelakunya, dan lo percaya begitu aja?" Dia menggelengkan kepala, nada suaranya berubah menjadi lebih dingin, dengan kekecewaan yang hampir menusuk.

"Gue benar-benar kecewa, Eve. Setelah semua yang kita lalui, lo bisa terpengaruh sama omongan yang bahkan nggak punya bukti?"

Evelyn menunduk, jantungnya berdebar semakin cepat. Ada sesuatu dalam kata-kata Joshua yang membuatnya merasa bersalah, seperti seorang anak kecil yang dimarahi karena melanggar aturan. Apa benar dia terlalu cepat berasumsi? Semua tuduhan ini hanya berdasarkan ucapan Syaila yang sekarang bahkan tidak ada di sini untuk menjelaskan dirinya.

"Gue kira lo lebih tahu dari itu, Evelyn," Joshua melanjutkan, suaranya lembut namun beracun, penuh manipulasi yang terasa bagai bisikan setan. "Gue selalu ada buat lo, selama ini gue nggak pernah ninggalin lo, kan? Tapi sekarang... cuma karena omongan Syaila yang nggak jelas dan nggak ada bukti, lo langsung mencurigai gue?"

Evelyn terdiam, merasa bingung. Ucapan Joshua mengalir lembut, penuh logika yang sulit untuk dia bantah. Joshua memang selalu di sisinya, selalu setia tanpa memintanya memberi kembali. Di merasakan kebimbangan merayapi dirinya, menggoyahkan keyakinan yang sempat dia pegang.

"Maaf, gue salah..." bisiknya pelan, suara yang nyaris pecah karena merasa ragu.

Joshua tersenyum, wajahnya kembali menampakkan kelembutan yang menenangkan. "Lo nggak salah, Eve. Lo cuma takut, dan itu wajar. Tapi gue di sini buat lo." Ujarnya sambil menempatkan tangannya di pundak Evelyn, menatapnya dengan penuh arti. "So, please... percayalah sama gue. Gue nggak mungkin menyakiti lo, atau orang yang lo sayang."

Kata-kata itu bagaikan mantra yang merasuk dalam hati Evelyn, membiusnya dalam ketenangan yang semu. Joshua tahu betul bagaimana membuatnya merasa aman, dan itu adalah kelemahan Evelyn. Dengan senyum lembut dan sentuhan yang menenangkan, Joshua seakan menutup setiap celah keraguan yang sempat muncul.

Perlahan, Evelyn mengangguk, membiarkan dirinya termakan oleh ketenangan yang Joshua tawarkan. "Iya, Josh... maaf kalau gue sempat ragu. Gue tahu lo nggak mungkin ngelakuin itu."

Joshua tersenyum lagi, kali ini lebih dalam, dengan tatapan yang menyimpan sesuatu yang tak tersentuh. "Itu yang gue harapkan dari lo, Eve. Sekarang tenang aja, gue yang akan jagain lo, apa pun yang terjadi."

"Gue minta maaf, Josh..."

"Permintaan maaf diterima."

Suara Joshua terdengar lembut, menenangkan, hampir terlalu manis untuk situasi yang begitu tegang. Tanpa ragu, dia meraih Evelyn ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepalanya, menghirup aroma lembut rambutnya yang familiar.

"Gue boleh minta satu hal sama lo?"

Evelyn melepaskan pelukannya, menatap Joshua penuh kebimbangan. "Apa?"

"Boleh lo berhenti ikut andil dalam nanganin kasus ini? Sudah cukup, Eve. Lo harus fokus sama kuliahan lo," ujar Joshua, nada suaranya terdengar lembut tapi tegas, membingkainya dengan perhatian yang seakan tulus. "Semester depan kita udah mulai masuk ujian proposal. Jangan karena kasus ini, kuliah lo jadi terabaikan."

Evelyn terdiam, memikirkan dalam-dalam kata-kata Joshua. Ada benarnya. Waktu dan tenaga yang dia habiskan untuk membantu Arif menyelidiki kasus ini memang mulai mempengaruhi perkuliahannya. Tugas-tugasnya menumpuk, materi semakin banyak yang tertinggal. Dengan berat hati, Evelyn mengangguk, mengakui kebenaran yang tak bisa lagi dia tolak. Joshua tersenyum lega, senyuman yang penuh kemenangan terselubung.

"Bagus. Jangan abaikan perkuliahan lo lagi," bisiknya, mengulurkan tangan untuk meraih Evelyn sekali lagi, menahan tangannya dalam genggaman yang erat.

"Iya, Josh. Gue janji," jawab Evelyn pelan.

Tanpa ragu, Joshua menariknya ke dalam pelukan, merapatkan Evelyn di dadanya seolah tak akan pernah melepaskannya lagi. Dalam hatinya, perasaan berkuasa kembali berdenyut kuat, bahagia dan puas. Evelyn, gadis yang selama ini dia jaga dan kendalikan dengan tenang, begitu mudah diyakinkan.

Joshua tahu Evelyn terlalu lembut, terlalu polos untuk menyadari permainan yang tersimpan di balik setiap kata yang dia ucapkan. Evelyn percaya padanya tanpa syarat. Dan itu adalah kelemahan terbesar Evelyn, yang kini menjadi kekuatannya.

Tidak ada lagi Syaila yang bisa membisiki Evelyn tentang kebenaran, tidak ada lagi suara-suara sumbang yang dapat mengganggu kepemilikannya atas Evelyn. Tidak ada lagi Arif yang akan mencuci otak Evelyn karena setelah ini, detektif tua itu akan pergi dari dunia ini.

Tbc

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang