Evelyn berdiri di depan makam dengan wajah sendu, tubuhnya gemetar diterpa angin sore yang dingin. Langit mendung, seolah ikut merasakan beratnya hati yang dia bawa. Aroma tanah basah menyelimuti udara, membuat napas Evelyn terasa lebih berat dari biasanya.
"Sya..." suaranya lirih, hampir tertelan angin yang berembus pelan. "Gue kangen lo... maaf karena baru sempat ngunjungin lo sekarang."
Dia berjongkok, tangannya menyentuh nisan dingin itu, dan matanya memanas. Air mata yang ia tahan sejak pagi akhirnya jatuh, membasahi pipinya. "Gue... gue takut, Sya. Semua orang, Teresia, Caitlin dan yang lainnya ngeliat gue kayak gue ini monster. Mereka semua nuduh gue yang bunuh lo. Gue nggak tahu harus gimana..."
Evelyn terisak pelan, suaranya bergetar. "Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo nggak cerita apa-apa? Kalau aja gue tahu, kalau aja gue ngerti lebih awal..." Ucapan Evelyn terputus, bibirnya gemetar. "Gue sahabat lo... gue harusnya tahu apa yang terjadi sama lo, Sya..."
Evelyn menatap tanah di depannya, pikirannya terjebak dalam kenangan bersama Syaila. Suara tawa ceria dan candaan gadis itu bergema di benaknya, mengiris hatinya yang sudah penuh luka. Namun, semua itu kini tinggal kenangan, bekas yang tak bisa diraih kembali. Air mata membasahi wajah Evelyn, jatuh tanpa suara ke tanah basah di bawahnya.
"Buat apa kamu di sini?!"
Evelyn tersentak, tubuhnya berbalik perlahan. Di sana, berdiri seorang wanita yang wajahnya dipenuhi amarah dan kesedihan mendalam. Maya, ibu Syaila, menatapnya tajam seperti pedang yang menusuk.
"Pergi kamu dari sini! Dasar pembunuh!" Teriak Maya, suaranya bergetar penuh emosi.
Evelyn membeku di tempatnya, bibirnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar. Dia mencoba mencari kata-kata untuk menjelaskan, untuk membela dirinya, tapi semuanya terasa sia-sia.
"T-tante, Evelyn bukan pembunuh..." suaranya bergetar, penuh permohonan.
Namun Maya tak peduli. Mata wanita itu memerah, air matanya jatuh bercampur amarah yang membara. "Kamu pikir saya nggak tahu penyebab Syaila mati? Pergi dari sini, Evelyn! Jangan pernah datang lagi!"
Evelyn mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat, seperti kehilangan semua kekuatan. "T-tante, aku nggak pernah... Aku nggak..." ucapnya dengan suara bergetar, hampir tak terdengar.
Namun, Maya tidak peduli. Wajah wanita itu dipenuhi kemarahan. "PERGI!" Teriakannya menggema, membuat Evelyn mengejang. Udara di sekitarnya terasa berat, seperti menekan dada, menyulitkan napasnya. Sebelum Evelyn sempat berkata lebih banyak, Maya mendorongnya dengan kasar.
"Pergi sebelum saya panggil polisi!" Ancam Maya tajam.
Evelyn tertunduk, tubuhnya gemetar ketika dia akhirnya melangkah mundur. Pandangannya buram karena air mata, namun dia tak melawan. Perlahan, dia meninggalkan makam Syaila dengan langkah berat, seperti kehilangan arah. Hatinya remuk, pikirannya kosong. Dia berjalan, terus berjalan, tanpa tujuan.
Di tempat lain, Joshua melangkah mondar-mandir di ruangannya. Wajahnya menunjukkan campuran antara amarah, cemas, dan frustrasi yang membakar. Dia sudah menekan panggilan di ponselnya untuk yang ke-13 kali, namun tetap saja Evelyn tidak mengangkat. Tangan kirinya mengepal erat, sementara tangan kanannya mencengkram ponsel seolah ingin menghancurkannya.
Matanya menyipit tajam, mengingat ucapan Bryan seminggu yang lalu. Ucapan yang terus mengusik pikirannya.
"Papa pasti tahu sesuatu," gumam Joshua sambil mengatur napasnya, meskipun kemarahan di dadanya semakin tak terbendung. "Sialan."
Dengan langkah panjang, dia keluar dari kamarnya, berjalan langsung menuju ruang kerja Bryan. Emosinya tak terkendali, dan pintu ruang kerja itu dibuka dengan kasar hingga menghasilkan suara keras.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
RomanceBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
