Part 37

641 24 1
                                        

"Pak, bukan saya pelakunya... Saya bersumpah, Pak. Saya nggak mungkin melakukan hal itu." Evelyn berbicara dengan suara serak, hampir tak terdengar. Matanya berkaca-kaca, menatap pria paruh baya di depannya, yang tak lain adalah rektor kampusnya.

Rektor hanya bisa menghela napas panjang. Tatapannya tegas, namun ada gurat lelah di wajahnya. "Maaf, Evelyn. Banyak mahasiswa yang berdemo, mereka menuntut pihak kampus segera mengambil tindakan. Situasi ini sudah terlalu parah untuk kami abaikan. Akan menjadi penilaian buruk bagi kampus ini."

"Tindakan?" Evelyn tertegun, suaranya tercekat. "Maksud Bapak... saya akan dikeluarkan?"

Pria itu menunduk sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Ini bukan keputusan yang mudah bagi kami kehilangan mahasiswa berprestasi seperti kamu, Evelyn. Tapi reputasi kampus dipertaruhkan. Beritanya sudah menyebar. Kamu bisa ajukan banding jika memiliki bukti kuat yang menunjukkan bahwa kamu tidak bersalah."

Evelyn menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. Lututnya terasa lemas, seolah tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya. Dia memegangi kursi di depannya untuk tetap berdiri.

"Bapak tahu saya nggak bersalah," ujarnya lirih, hampir seperti berbisik. "Kenapa semua orang justru lebih percaya sama gosip daripada fakta?"

"Kadang, persepsi masyarakat lebih cepat membentuk 'kebenaran' dibandingkan fakta." Rektor mengangkat bahunya dengan raut prihatin. Sangat sedih kehilangan mahasiswa berprestasi seperti Evelyn, namun ini sudah keputusan yang bulat, dan tidak bisa di bantah.

Evelyn tidak menjawab. Kata-kata pria itu seperti dentuman keras yang memantul di kepalanya. Dia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah goyah, tubuhnya gemetar.

Di luar, Joshua sudah menunggu. Begitu melihat Evelyn keluar dengan langkah gontai, dia langsung berdiri. Matanya menatap wajah Evelyn yang basah oleh air mata.

"Eve, gimana hasilnya?" Tanyanya pelan, mencoba menahan kekhawatiran yang membakar dadanya.

Evelyn menggeleng pelan, suaranya pecah saat mencoba berbicara. "Mereka mau ngeluarin gue, Josh... gue bukan pelakunya, Josh. Gue bukan pembunuh..." Tangisnya pecah begitu kalimat itu keluar. Evelyn menggenggam lengan Joshua erat, seolah takut jika dia melepaskannya, seluruh dunianya akan runtuh.

Joshua menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang mendidih. Dia ingin marah, tapi kepada siapa? Evelyn tidak pantas menerima ini. "I know, Eve. Gue tahu lo nggak salah. Let's get out of here. Gue anter lo pulang dulu, okay?"

Evelyn hanya mengangguk kecil, terlalu lelah untuk berkata apa-apa lagi. Joshua menggiringnya menuju mobil, membuka pintu penumpang, dan memastikan Evelyn duduk dengan nyaman sebelum dia sendiri masuk ke kursi pengemudi.

Sesampainya di rumah, Evelyn masih terlihat linglung. Joshua membimbingnya masuk ke ruang tamu. Evelyn duduk di sofa dengan tubuh lunglai, pandangannya kosong ke depan. Joshua meletakkan segelas air putih di meja depan Evelyn, duduk di sebelahnya, dan menggenggam tangannya erat.

"Listen to me, Eve. Gue bakal cari jalan keluar dari ini semua. Gue nggak akan biarin mereka ngerusak hidup lo karena tuduhan yang nggak masuk akal."

Evelyn menggeleng lemah, suaranya pecah saat mencoba berbicara. "Tapi semuanya udah hancur, Josh. Mereka percaya gue pelakunya, dan berita itu udah viral di internet. Mau gimana pun gue coba klarifikasi, nggak akan ada yang percaya sama gue. Gue takut..."

Joshua mengepalkan tangannya kuat-kuat. Gelombang rasa bersalah dan amarah menghantamnya bersamaan. Evelyn tidak pantas menerima ini, apalagi ketika dia tahu siapa sebenarnya yang menyebabkan kekacauan ini. Baru saja dia ingin membuka mulut untuk meyakinkan Evelyn, ponsel gadis itu berbunyi, memecah keheningan.

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang