"Ayo masuk, Eve."
Evelyn mengangguk pelan. Kakinya melangkah masuk dengan sedikit keraguan, tapi begitu aroma maskulin khas Joshua memenuhi indra penciumannya, dia tahu dia sudah berada di tempatnya.
Matanya langsung menyapu seisi ruangan. Satu kata yang muncul di benaknya, rapi. Tidak ada tumpukan barang, semuanya tertata sempurna, nyaris seperti apartemen yang baru saja diisi.
Joshua berjalan menuju dapur tanpa menoleh. "Kamu mandi aja dulu, aku udah nyalain air panas," katanya santai. "Baju kamu ada di tas, udah aku masukin semuanya."
Evelyn mengernyit. Joshua sangat perhatian, itu tak bisa disangkal. Tapi... dia menelan ludah, wajahnya mendadak memerah saat memikirkan sesuatu.
Jangan-jangan dia juga masukin... pakaian dalamku?
Joshua, seolah bisa membaca pikirannya, bersandar di meja dapur sambil tertawa kecil. "Tenang, aku masukin sambil nutup mata kok."
"Joshua!" Sergah Evelyn dengan mata melotot. Wajahnya semakin merah.
Joshua mengangkat tangannya, berusaha membela diri. "Aku nggak lihat apa-apa, sumpah."
Evelyn mendengus, pipinya tetap merah padam. Walaupun Joshua mengaku tidak melihat, tetap saja itu memalukan. Pikirannya berkecamuk, tapi dia akhirnya memilih untuk tidak memperpanjang masalah itu.
"Jangan lagi, ya."
"Oke, sayang. Nggak lagi." Joshua mengangguk, berusaha menahan tawa, lalu kembali fokus ke dapur. Evelyn akhirnya berjalan menuju kamar dengan langkah pelan, mencoba menenangkan diri.
Namun, beberapa saat setelah itu, Joshua tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Wajahnya berubah serius. "Ah, anjing. Gue lupa!" Gumamnya sambil meletakkan pisau dan mangkuk ke wastafel dengan kasar. Dengan langkah tergesa, dia menyusul Evelyn ke kamar.
Pintu kamar itu sudah sedikit terbuka. Joshua berhenti di depan pintu, tangannya gemetar saat mendorongnya perlahan. Matanya langsung menangkap sosok Evelyn yang berdiri diam, menatap tembok dengan ekspresi bingung.
"Eve..." suara Joshua terdengar bergetar.
Evelyn perlahan menoleh, ekspresinya sulit ditebak. "Josh, ini maksudnya apa...?" Tanyanya pelan, suaranya nyaris berbisik.
Mata Evelyn kembali tertuju pada tembok di depannya, yang penuh dengan foto-foto dirinya. Semua foto itu ditata dengan rapi, memenuhi hampir seluruh permukaan dinding. Joshua mengutuk dirinya dalam hati. Dia terlalu ceroboh. Harusnya dia meminta Liam untuk membereskan semua ini sebelum membawa Evelyn kemari.
Langkah Evelyn mendekati satu foto yang lebih besar dari lainnya. Itu adalah fotonya, saat dia sedang tersenyum. Senyum yang lepas, penuh kebahagiaan, entah kapan tepatnya itu diambil. Evelyn mengulurkan tangan, menyentuh foto itu dengan jari-jarinya.
"Kenapa semua foto aku ada disini?" Tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih tegas.
Joshua mengambil napas panjang. Dia melangkah mendekat, berdiri di belakang Evelyn, lalu berbisik pelan di telinganya. "Karena kamu duniaku, Eve. Senyum kamu... senyum kamu yang bikin aku bertahan sampai saat ini."
Evelyn membeku, tangannya turun perlahan. Perasaannya campur aduk, antara takut, bingung, tapi juga tersentuh oleh ketulusan di nada suara Joshua.
Joshua melanjutkan, kali ini dengan suara lebih pelan, seperti memohon. "Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tapi aku nggak bisa bohong, Eve. Aku udah terlalu jatuh sama kamu. Kamu satu-satunya yang bikin aku merasa hidup."
Evelyn menoleh, menatap Joshua. Tatapan matanya mencari kejujuran di balik kata-kata itu. Dan dia menemukannya, cinta yang dalam dan murni, meskipun sedikit menyeramkan dalam intensitasnya.
"Josh... aku nggak tahu harus bilang apa."
Joshua hanya diam sambil tersenyum tipis, namun matanya tidak melepaskan Evelyn. Tatapannya penuh keyakinan, namun juga menyimpan intensitas yang sulit dijelaskan.
Evelyn mencoba memecah keheningan, mengangkat suasana yang tiba-tiba terasa menyesakkan. "Tapi ini banyak sekali, kamu kayak... stalker jadinya." Ucapnya dengan nada bercanda, meski jauh di dalam hatinya, ada rasa takut yang tak bisa dia abaikan.
Joshua menunduk, suaranya pelan tapi tegas. "Aku minta maaf, Eve... aku nggak bermaksud bikin kamu takut. Kalau kamu nggak nyaman sama semua ini, aku bisa lepas semua foto-fotonya..."
Evelyn menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. Melihat ekspresi Joshua yang penuh penyesalan membuat hatinya tidak enak. Dia berbalik, menatap pria itu yang kini tampak rapuh di hadapannya.
"Nggak papa, Josh. Jangan di lepas. Aku cuma kaget aja. Tapi aku maafin, karena kamu Joshua." Ucapnya dengan senyum kecil yang dipaksakan.
Joshua terdiam beberapa detik, lalu senyumnya kembali mengembang, senyum penuh kelegaan. Tanpa peringatan, dia melangkah maju dan menarik Evelyn ke dalam pelukannya. Evelyn tertegun, tapi dia tidak menolak. Dia hanya bisa berdiri diam di sana, merasakan dada Joshua yang kokoh dan hangat.
Joshua memejamkan matanya, wajahnya tenggelam di bahu Evelyn. Napasnya berat, seperti mencoba menahan sesuatu yang sudah lama ingin dia lepaskan. Perlahan, hidungnya menyusuri leher Evelyn, menghirup aromanya dengan cara yang hampir membuat Evelyn menggigil. Evelyn tidak tahu kenapa, tapi pelukan ini terasa terlalu intens, terlalu erat, seperti dia tidak akan pernah melepaskannya.
"Josh." Evelyn berbisik, mencoba memanggilnya kembali ke realita.
Tapi Joshua tidak menjawab. "Aku nggak tahu gimana hidup aku tanpa kamu, Eve," bisiknya akhirnya, suaranya dalam dan penuh emosi. "Aku udah terlalu bergantung sama kamu..."
Evelyn mencoba melonggarkan pelukan itu, tapi sia-sia. Joshua memeluknya lebih erat, seolah ingin memastikan Evelyn tidak akan bisa pergi. Evelyn mulai merasakan sesuatu yang aneh, campuran ketakutan dan rasa aman yang tidak bisa dia cerna.
"Josh, aku harus mandi. Aku udah bau habis dari makam." Evelyn mencoba mencari alasan untuk melepaskan diri dari pelukan yang terlalu erat. Namun, Joshua tidak segera merespons, pelukannya masih terasa menekan, seperti enggan membiarkan Evelyn pergi.
"Josh, aku mau mandi dulu." Suaranya terdengar lebih tegas kali ini.
Akhirnya, Joshua perlahan melepaskan pelukannya, meski gerakannya begitu berat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Evelyn yang perlahan menjauh, melangkah masuk ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, Joshua tetap berdiri di tempatnya, pandangannya terpaku pada pintu kamar mandi. Bibirnya terangkat membentuk senyum yang mengganggu, sementara jemarinya menyentuh dinding, mengetuk-ngetuk perlahan pada foto Evelyn yang tersenyum.
"Evelyn... Evelyn..." Gumamnya, seolah mengulang nama itu seperti mantra yang mengikatnya.
Joshua membasahi bibir bawahnya, menarik napas panjang untuk menenangkan diri, sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan itu. Dia berjalan menuju dapur, kembali ke aktivitasnya yang sempat tertunda, memasak sesuatu untuk Evelyn, gadis tersayangnya.
Di dapur, Joshua berdiri di depan kompor. Suara gemericik air mendidih terdengar samar-samar, tetapi pikirannya kembali ke Evelyn. Tangan kokohnya meraih pisau dapur, memotong bahan-bahan dengan presisi yang nyaris mekanis.
Sesekali, Joshua berhenti, menatap ke arah kamar dengan ekspresi tenang. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Evelyn adalah pusat dunianya, dan Joshua tahu, tidak ada yang boleh mengambilnya.
Ketika air di panci mendidih sempurna, Joshua menuangkan isinya ke dalam mangkuk. Asap tipis mengepul, membawa aroma yang memenuhi udara apartemen. Joshua tersenyum, matanya kembali melirik ke arah pintu kamar.
"Cepat keluar, Eve... aku nggak sabar liat kamu."
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
Любовные романыBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
