Evelyn menatap kosong ke papan tulis di kelas, pikirannya berkabut oleh kabar mengejutkan yang baru saja diterimanya. Syaila, teman yang begitu dia sayangi telah tiada. Gadis itu mengakhiri hidupnya sendiri, melompat dari balkon kamarnya di lantai dua, tak kuat menahan tekanan yang selama ini ibunya berikan.
Dunia Evelyn terasa runtuh, seolah semua kepingan yang dia pegang perlahan-lahan terlepas dari genggaman. Bahkan sentuhan lembut Joshua di lengannya kini tidak lagi terasa. Seakan kulitnya sendiri kehilangan kepekaannya terhadap apa pun di sekitarnya. Bayangan percakapan terakhir mereka tentang masalah Owen menghantui Evelyn, dan kini, dia harus berhadapan dengan kenyataan pahit kehilangan Syaila.
"Eve, mau pulang aja?" Suara Joshua terdengar lembut di telinganya, penuh perhatian yang tak pernah lepas darinya.
Evelyn menoleh, menatapnya dengan mata yang basah, air matanya mengalir deras tanpa henti. "Josh, kenapa semua yang gue sayang selalu ninggalin gue?" Suaranya bergetar, tangis yang selama ini dia tahan kini tak terbendung lagi. Ada kehampaan di hatinya yang tak bisa dia jelaskan.
Melihatnya seperti itu, Joshua tidak berkata apa-apa. Dengan lembut, dia menarik Evelyn ke dalam dekapannya, membiarkannya menangis sepuasnya. Pelukannya erat, seperti dinding yang menjanjikan perlindungan dari kegelapan yang terus menghantui gadis itu.
"Gue di sini, Eve," bisik Joshua di telinganya, suaranya rendah namun penuh ketegasan yang memancar dari dalam hatinya. "Lo nggak sendirian. Selama gue masih ada, gue nggak akan ninggalin lo."
"Jangan tinggalin gue, Josh, gue nggak mau."
"Iya Evelyn, gue nggak akan tinggalin lo."
~
"Saya turut berduka atas teman anda, Nona Peters," kata Arif dengan nada formal, tatapannya tetap tenang meski aura di ruangan itu terasa berat.
Evelyn mengangguk pelan, memaksakan senyum tipis. Matanya masih sembap, sisa dari tangis yang dia tahan selama upacara pemakaman Syaila kemarin. Meski begitu, hari ini dia tetap berada di kantor, duduk di ruangan kecil berlampu remang, berhadapan dengan Arif untuk membahas lagi kasus Owen dan Galang yang seakan tak kunjung selesai.
"Terima kasih, Pak," ucapnya singkat.
Arif mengangguk pelan, lalu mulai mengatur perekam suara di meja, jari-jarinya cekatan menekan tombol-tombol kecil di alat tersebut. "Kita langsung saja ke intinya," katanya, suaranya rendah dan terukur. "Saya ingin mendengar lebih banyak tentang hubungan sahabat anda dengan Owen. Apa anda bisa ceritakan bagaimana interaksi mereka selama ini?"
Evelyn mengerutkan kening, sedikit bingung. Mengapa Arif ingin tahu tentang hubungan Joshua dan Owen? Ada rasa tak nyaman yang tiba-tiba menghantui, terutama karena ucapan Syaila dua hari lalu masih terngiang-ngiang di benaknya, perkataan terakhir sebelum Syaila menghilang dari kehidupannya. Gadis itu mengklaim Joshua sebagai pelaku pembunuhan Owen, namun Evelyn menepisnya, dia tak pernah bisa mempercayai tuduhan itu.
"Hubungan mereka? Owen dan Joshua memiliki kepribadian yang bertolak belakang, Pak. Owen selalu ceria, mudah bergaul, dan menyapa semua orang tanpa kecuali. Joshua, di sisi lain... Bapak sudah lihat sendiri kan? Dia hampir nggak pernah nunjukkin ekspresi apa pun, apalagi ke orang yang nggak dekat dengannya," jelas Evelyn, berusaha membuat nada suaranya tetap tenang.
Arif mengangguk, mendengarkan dengan seksama. Evelyn melanjutkan, "Owen sering kali ngajak bicara Joshua seperti biasa, kadang membuat lelucon atau basa-basi. Dan Joshua, dia selalu menjawab sekadarnya, tetap dengan sikap dinginnya. Tapi nggak pernah ada permusuhan di antara mereka, Pak."
Evelyn menunduk, jantungnya mulai berdebar tak karuan. Satu hal yang selalu membuatnya bingung adalah bagaimana Joshua mampu menyembunyikan perasaannya begitu rapih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
RomantizmBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
