Hidup Joshua di sekolah tak jauh berbeda dengan di rumah semasa kakeknya masih ada. Di sekolah, dia juga selalu menjadi objek perintah dan tuntutan dari teman sekelas dan kakak kelas. Setiap langkahnya seolah diatur oleh orang lain, seakan-akan dia bukan milik dirinya sendiri.
Tak ada yang peduli dengan apa yang dia inginkan, hanya ada perintah dan ekspektasi yang harus dia penuhi, tanpa ruang untuk pilihan atau kebebasan.
Di sekolah, teman-temannya tak segan-segan memperlakukannya seperti alat untuk keuntungan mereka. Mereka tahu bahwa Joshua tak akan pernah berani menolak.
Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya tunduk, baik itu karena rasa takut atau rasa kewajiban yang ditanamkan sejak kecil. Joshua menjadi sosok yang selalu diandalkan, bukan untuk pikirannya, tetapi untuk kekuatan dan pengaruh yang dia bawa.
Mereka terus menguras Joshua, memaksanya untuk membeli apa pun yang diinginkan para perundung itu. Jika dia menolak, hukuman fisik menjadi bayang-bayang yang selalu menghantui. Pukulan, ancaman, dan pengurungan dalam gudang tua sekolah menjadi bentuk siksaan yang tak bisa dia elakkan.
Seakan tak peduli dengan statusnya sebagai anak pemilik grup besar, mereka tak takut sedikit pun. Mereka tahu bahwa Joshua, meski terlahir dengan segala privilese, tak bisa berbuat apa-apa.
Dua tahun penuh perundungan yang menyakitkan itu akhirnya sampai juga ke telinga Bryan. Dia marah besar, Bryan memutuskan untuk mencarikan pengawal bagi anaknya.
Liam, pemuda 22 tahun di tugaskan untuk mengawal tuan muda Lesmana. Namun, saat berada di sekolah, Joshua menegaskan agar Liam tidak mendekatinya jika perundungan itu terjadi. Joshua tidak ingin terlihat lemah di mata teman-temannya.
Dia lebih memilih menanggung sendiri beban itu daripada dianggap tak mampu melawan. Liam, meski merasa cemas, hanya bisa menurut.
Perundungan itu berlangsung selama tiga tahun, namun tak pernah ada perlawanan dari Joshua. Bahkan, dia menahan diri untuk tidak melibatkan Liam, meminta pengawalnya itu hanya untuk mengawasi dari jauh tanpa ikut campur. Joshua berpikir ini adalah ujian yang harus dia jalani seorang diri.
Namun, saat tiba hari dimana dia mulai memasuki masa SMA, Joshua pikir dia akhirnya bisa bernafas bebas, meninggalkan masa lalu yang penuh derita. Tetapi dugaan itu ternyata salah.
Hari pertama dan kedua masa orientasi di SMA, dia kembali diperlakukan sama. Perundungan itu masih terjadi, dan yang mengejutkannya pelakunya adalah orang yang sama yang telah merundunginya selama tiga tahun di masa SMP.
Joshua mencoba melawan, tubuhnya menggeliat di atas kursi, namun percuma. Tali yang mengikat pergelangan tangan dan kakinya terlalu kuat. Rasa panik semakin menghantam ketika matanya menangkap kilauan pisau kecil di tangan Gibran.
"B-Bang Gibran... m-maafin gue, gue bakal turutin semua mau lo!"
Gibran hanya tertawa, seringainya penuh kebencian. "Kalau gue maunya lo mati, gimana? Lo udah berani lawan gue. Padahal waktu SMP, lo cuma anjing yang setia dan nggak pernah melawan."
Joshua ingin berteriak, memanggil Liam, pengawalnya. Tapi suaranya tercekat oleh rasa takut yang melumpuhkan. Di tengah keputusasaannya, sebuah suara tiba-tiba memecah ketegangan.
"HEI!"
Mata semua orang tertuju pada seorang gadis yang berdiri dengan penuh keberanian, menggenggam sapu di tangannya. Samar-samar, Joshua mengenali wajah itu. Wajah yang baru sehari sudah menjadi topik hangat di sekolahnya.
Gibran menaikkan alis, memasang senyum nakal. "Widih, lo Evelyn, kan? Si bule Belanda itu?" Dia mendekat dengan tatapan menggoda. "Ada apa nih, cantik? Lagi cari perhatian gue, ya?"
Evelyn meludahi rumput di depannya, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik yang tajam. "Dih, amit-amit! Najis!" Dengan cepat, Evelyn mengacungkan ponselnya, memperlihatkan nomor darurat yang sudah siap dia tekan. "Pergi sekarang, atau gue laporin ke polisi!"
Gibran terkekeh, mengira Evelyn hanya menggertak. Namun, melihat ketegasan di matanya, dia mulai ragu. Menyadari situasi yang berbalik, Gibran menghela napas jengkel. Dia melangkah mundur, melempar pandangan mengancam ke arah Joshua sebelum akhirnya menghilang bersama teman-temannya.
Saat mereka pergi, Evelyn mendekati Joshua, dengan tenang melepas ikatan di pergelangan tangannya. Tatapannya penuh rasa prihatin. "Ya ampun! Gue bantu ya." Joshua mengangguk lemah.
"Mulai sekarang, lo nggak akan ngalamin ini lagi. Ada gue," kata Evelyn, suaranya tenang namun tegas. "Gue bakal lindungin lo mulai sekarang."
Kata-kata itu menghantam Joshua seperti sengatan listrik. Tubuhnya mendadak kaku, seolah tiap kata dari Evelyn punya kekuatan yang menancap dalam. Tatapannya menusuk, membuatnya sulit berpaling.
Entah kenapa, Joshua merasa ingin terus berada di bawah sorot mata itu, seakan menemukan tempat berlindung yang selama ini hilang. Jantungnya berdebar kencang, memompa panas yang aneh ke seluruh tubuh, membuatnya terasa panas dan dingin dalam waktu bersamaan.
Untuk pertama kalinya, Joshua merasakan ada seseorang yang bukan hanya memandangnya, tapi juga berniat melindunginya. Tubuhnya bergidik oleh sensasi baru ini.
Sosok Evelyn tiba-tiba terasa begitu besar di hadapannya, seperti satu-satunya pelindung di dunia yang penuh kekerasan ini. Gibran dan yang lainnya tak lagi punya pengaruh, semuanya memudar di latar belakang
Tahan dia, Joshua.
Kurung dia dalam dekapanmu.
Buat gadis itu menjadi milikmu, seutuhnya.
Jangan biarkan dia kabur.
Bisikan-bisikan itu berputar lagi di kepalanya, namun kali ini lebih kuat, lebih mendesak, seolah langsung menyihirnya. Kata-kata itu bukan sekadar suara, mereka menggiringnya ke jurang obsesi yang baru pertama kali dia rasakan.
Matanya masih terpaku pada sosok Evelyn, wajahnya yang tenang, sorot matanya yang penuh kepastian. Gadis itu sudah menyelamatkannya dari kegelapan yang hampir menelannya, dan sekarang Joshua tahu dia tidak akan bisa melepaskannya begitu saja.
Evelyn bukan sekadar pelindung, dia adalah miliknya. Satu-satunya yang membuat dunia ini terasa layak untuk dilalui, yang membuat semua luka di dalamnya terasa bisa sembuh.
"Janji?"
Evelyn tersenyum. "Janji. Gue akan selalu lindungi lo."
Ucapan itu adalah semua yang Joshua butuhkan. Sebuah janji, yang terdengar seperti komitmen seumur hidup. Evelyn tidak tahu bahwa dia baru saja mengikat dirinya pada Joshua, tanpa ada jalan keluar.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
RomantikBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
