Part 25

731 30 0
                                        

Evelyn menatap lekat selebaran orang hilang yang tertempel di depan gerbang kampusnya, matanya membesar, dan tangannya otomatis menutup mulut. Wajah di dalam selebaran itu membuat tubuhnya bergetar.

Galang, bocah laki-laki yang dua hari lalu mengajaknya makan di warung ibunya, telah dinyatakan hilang. Tanggal hilangnya Galang tercantum jelas, persis pada malam ketika mereka mengobrol di luar kafe tempat Evelyn bekerja, usai acara after-party.

Seketika, jantung Evelyn berdetak lebih cepat. Apakah dia orang terakhir yang melihat Galang? Baru saja dua hari yang lalu di tuduh melakukan pembongkaran pada makam Owen, apakah sekarang dia akan di tuduh lagi atas hilangnya Galang?

"Kak Lyn?"

Evelyn tersentak, mengalihkan pandangan dari selebaran. Di depannya, Farul, teman Galang, berdiri dengan wajah ragu. "Astaga..." gumam Evelyn pelan, berusaha menenangkan dirinya. Farul menunduk, merasa sedikit bersalah.

"Eh, maaf ya, Kak."

Evelyn tersenyum kecil dan mengangguk, berusaha mencairkan suasana, meskipun pikirannya masih berkecamuk. Keheningan sempat melingkupi mereka, sampai akhirnya Evelyn mengumpulkan keberanian untuk bertanya. "Farul... soal Galang... itu benar?"

Farul menarik napas panjang, tampak berat. "Iya Kak, Bener. Gue juga masih nggak percaya."

"Gimana bisa?" Suara Evelyn hampir tak terdengar, dipenuhi keterkejutan.

Farul menghela napas lagi, kali ini lebih dalam, dan suaranya bergetar ketika dia menjawab. "Nyokapnya bilang Galang izin keluar mau beli rokok ke supermarket. Jam tiga subuh, dia belum balik juga. Abangnya akhirnya keluar buat nyusul dia. Tapi sampai pagi, abangnya dan Galang belum juga pulang. Handphone mereka ditemuin karyawan nyokapnya di tengah jalan."

Evelyn menelan ludah, memandang selebaran itu sekali lagi. Sekarang dia sadar, ada dua wajah di sana, Galang dan seorang pria yang tampak sedikit lebih dewasa. "Jadi itu abangnya Galang?" Tanyanya lirih.

Farul mengangguk, matanya tampak lelah dan berat. "Iya, Kak. Nyokapnya udah muter-muter nyari info, tapi sampai sekarang belum ada kabar..."

Tatapan Evelyn berubah iba, memperhatikan Farul yang tampak berbeda dari biasanya. Meski baru beberapa hari mengenal mereka, dia bisa merasakan duka mendalam di wajah Farul. Kantung matanya gelap, seakan kehilangan istirahat, dan seluruh auranya penuh kecemasan yang terselip di antara napasnya.

"Farul, gue yakin mereka bakal ketemu. Lo yang kuat, ya..." Evelyn berkata lembut, mencoba menenangkannya meski dalam hatinya sendiri ada keresahan yang sama besar.

Farul mengangguk lemah, tetapi senyuman kecil berusaha muncul di wajahnya. "Iya Kak, makasih. Gue juga berharap begitu."

Evelyn hanya mengangguk pelan, meski jauh di lubuk hatinya ada satu pertanyaan yang tidak bisa dia abaikan, bagaimana kalau ada sesuatu yang lebih besar terjadi pada malam itu, sesuatu yang hanya dia saksikan sebagai orang terakhir yang bertemu dengan Galang?

~

"Evelyn!"

Prang!

Suara itu membuyarkan lamunannya, dan seketika, piring-piring bersusun yang Evelyn pegang jatuh berhamburan di lantai, pecah berkeping-keping. Wajah Evelyn seketika memucat, kaget dengan kecerobohannya sendiri.

"E-eh, maaf banget, Lyn! Gue nggak bermaksud buat ngagetin lo..." Amel, gadis berambut pendek yang empat tahun lebih tua darinya, segera berjongkok, membantu Evelyn membersihkan pecahan piring yang berserakan.

"Nggak apa-apa, Kak Amel. Ini salah gue, malah ngelamun," jawab Evelyn dengan senyum tipis, meski pandangannya tampak kosong.

Belum sempat mereka membereskan semuanya, seorang wanita paruh baya, ibu manager kafe, muncul tergesa-gesa dari arah depan. Matanya melebar melihat kekacauan yang terjadi. "Astaga! Kalian nggak apa-apa?" Tanyanya cemas.

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang