Evelyn menghela napas panjang, menatap dinding kosong di hadapannya. Sudah sebulan sejak dia terakhir kali menemui Marshanda. Owen sudah pergi, dan Evelyn tak tahu kapan Marshanda akan kembali dari kesedihan mendalam itu. Tapi, tanpa konsultasi dan obat-obatannya, pikirannya semakin liar, seperti bayangan yang terus menjeratnya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, memecah keheningan di kamarnya. Nama Chloe muncul di layar, membuat keningnya berkerut. Ada apa di jam segini?
"Chloe?" Gumam Evelyn, menjawab telepon. "Halo?"
"E-evelyn..." suara di seberang terdengar serak dan putus asa.
"Hey, ada apa? Kenapa dengan suara lo?"
"Evelyn... gue minta maaf. Gue udah berusaha... sungguh. Tapi dia... dia ngancam gue, Evelyn..."
Jantung Evelyn berdebar. Dia tahu arah pembicaraan ini, tapi dia berharap untuk sekali ini saja tebakannya salah.
"Chloe, tenang. Ada apa? Pelan-pelan ceritanya."
Ada jeda di seberang, lalu Chloe berbisik, suaranya penuh rasa bersalah. "Calvin..."
Seluruh tubuh Evelyn menegang, darahnya seperti berhenti mengalir. Nama yang ingin dia lupakan. "Kenapa dengan Calvin?" Tanyanya, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Dia nyusul lo..."
Deg
Jantung Evelyn berpacu cepat, rasa takut menggumpal di dalam dadanya. Kenangan buruk muncul satu per satu, bagai pecahan kaca yang menggores tiap inci pikirannya. Bayangan Calvin yang selalu hadir dengan senyum manipulatifnya, kata-kata yang meracuni, ancaman tersembunyi di balik tatapan yang dulu membuatnya merasa terkunci.
Evelyn terdiam, tubuhnya gemetar halus. Calvin tidak pernah main-main. Jika dia berniat menemukannya, maka tidak ada tempat yang cukup aman untuk bersembunyi.
"Evelyn... lo masih di sana?" Chloe bertanya, suaranya terdengar putus asa dan takut.
Evelyn menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. "Iya, gue di sini..."
"Maafin gue... gue nggak bisa berbuat apa-apa..."
"Chloe, ini bukan salah lo." Evelyn memaksakan diri untuk berkata lembut, meski rasa panik mulai memenuhi dadanya.
Telepon itu berakhir dengan keheningan menyakitkan yang menggantung di udara. Evelyn berdiri, seluruh tubuhnya tegang dan pikirannya penuh dengan bayangan buruk yang tak terhindarkan. Bukan hal yang sulit bagi Calvin untuk menemukannya, bukan dengan kecerdasannya dalam komputer, dan Evelyn tahu betul bahwa pria itu punya cara licik untuk melacak orang.
Gagasan bahwa Calvin mungkin sudah tiba dan berada dekat sini menghantui pikirannya. Dia membayangkan sosok itu, menyelinap masuk ke rumahnya, menyatu dengan bayang-bayang di lorong, menunggu saat yang tepat untuk muncul di hadapannya.
Bagaimana jika saat ini, bahkan, Calvin sudah berada di sekitarnya, memperhatikan setiap langkahnya?
Evelyn menelan ludah, jantungnya berdebar lebih kencang. Perlahan, dia mengunci semua pintu dan jendela di rumahnya, memastikan tak ada celah untuk Calvin masuk. Dia ingin pergi, melarikan diri sejauh mungkin, tetapi ke mana?
Dengan gemetar, dia menatap ponselnya. Dia butuh bantuan, seseorang yang bisa diandalkan. Tapi siapa? Menyusahkan orang lain bukanlah sifatnya, terutama di saat dia tak yakin apakah ini hanya ketakutan berlebihan atau ancaman nyata.
~
"Kenapa? Kok murung gitu?"
"Hm?" Evelyn menoleh sekilas pada Joshua yang fokus menyetir, bibirnya tersenyum kecil sebelum menggeleng. "Nggak papa, cuma kurang tidur aja." Jawabnya dengan nada ringan. Tapi Joshua menangkap sesuatu dalam nada suaranya, sesuatu yang mengusik dan membuat alisnya berkerut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side
RomanceBerawal dari saat Evelyn membantu Joshua saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dia tak menyadari bahwa kebaikannya telah menyalakan api obsesi dalam diri Joshua. ------------------------------ "Siapa pemilik kamu?" Evelyn menelan ludah, matanya berkaca-k...
