Part 43

176 12 0
                                        

Di depan sebuah pintu kecil yang bercat kusam, dua pria bertubuh besar berdiri tegak, salah satunya mengetuk dengan ketukan mantap. Pintu berderit terbuka, menampilkan seorang gadis remaja dengan rambut diikat sederhana, wajahnya penuh kebingungan. Matanya menatap dua pria asing itu, bertanya-tanya mengapa mereka muncul di jam yang aneh seperti ini.

"Halo, apa orang tuamu ada?" Salah satu pria bertopi berbicara dengan suara rendah, mencoba terlihat ramah meski posturnya mengintimidasi.

Gadis itu memiringkan kepala, alisnya mengerut samar. "Paman-paman ini siapa?" Tanyanya dengan nada hati-hati, tetapi dia tidak tampak terlalu curiga.

Pria bertopi itu tersenyum tipis, memperlihatkan deretan gigi putih yang entah kenapa malah menambah kesan mengancam. Dia sedikit membungkukkan badan.

"Kami rekan kerja Ayah dan Ibumu. Ada urusan penting yang ingin kami bicarakan."

"Oh..." Gadis itu mengangguk pelan. Setelah berpikir sejenak, dia membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan mereka masuk. Tindakan polos itu membuat kedua pria saling bertukar pandang singkat, senyum samar menghiasi wajah mereka.

"Silakan duduk," ujar gadis itu sambil menunjuk sofa tua di ruang tamu. "Aku akan panggilkan Daddy dan Mommy."

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pria paruh baya dengan rambut mulai memutih muncul dari lorong kecil, diikuti oleh seorang wanita dengan wajah cemas. Kedua orang tua itu berhenti di ambang pintu, menatap tamu tak diundang mereka dengan tatapan waspada.

"Ada apa ini? Siapa kalian?" Tanya sang Ayah, matanya menyipit penuh kecurigaan.

"Kami kemari atas utusan Master."

Ruang tamu yang tadi hening kini berubah mencekam. Sang ayah, Ruben, menarik napas panjang, matanya tak lepas menatap istrinya yang tampak ketakutan. Dia tahu persis siapa yang dimaksud dengan 'Master' oleh dua pria ini, dan itu bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.

Ruben menatap putrinya, Evelyn, dengan tatapan serius. "Evy, masuk ke kamarmu." Katanya tegas.

Evelyn mengangguk patuh, memahami bahwa jika Ayahnya sudah berbicara seperti itu, ini adalah urusan yang terlalu berat untuk didengar.

Setelah Evelyn menghilang ke dalam kamar, Ruben kembali menatap dua pria itu. Dengan satu tangan yang terulur untuk menenangkan istrinya, dia berbicara dengan nada yang datar, meskipun ada ketegangan yang terasa jelas di udara.

"Sampaikan pada Tuan Max, saya tetap tidak akan menandatangani kontrak itu."

Salah satu pria itu mengangguk dan berbicara melalui alat pendengar kecil yang terpasang di telinganya. Beberapa detik kemudian, dia menyerahkan ponsel kepada Ruben. "Master ingin berbicara dengan Anda, Tuan. Saya sudah menyambungkannya."

Ruben meraih ponsel itu dengan tangan yang gemetar. "Ha—"

"Apa kau yakin dengan pilihanmu itu, Ruben?" Suara Max terdengar memotong, nada suaranya rendah namun penuh tekanan, seperti bisikan yang menghantui.

"Tentu saja aku yakin," jawab Ruben dengan suara tegas, meskipun hatinya bergejolak. "Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Aku tidak akan terjebak dalam rencana busukmu, Max." Katanya dengan nada lebih rendah, berusaha menunjukkan keyakinan meskipun dia tahu bahwa keputusannya ini bisa berujung pada sesuatu yang jauh lebih buruk.

Terdengar tawa pelan di ujung telepon, tawa yang tidak mengandung kebahagiaan, hanya dingin dan mengerikan. "Baiklah, jika itu pilihanmu."

Namun setelah tawa itu, keheningan yang tegang melanda, membuat setiap detik terasa begitu berat. Tidak ada lagi obrolan ringan atau nada santai. Hanya ada kata-kata berikutnya yang membuat Ruben merasa seolah seluruh tubuhnya dibekukan oleh ketakutan.

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang