Part 39

642 26 0
                                        

Evelyn mengerutkan kening ketika melihat pintu rumahnya terbuka lebar tanpa lampu menyala. "Apa ada pencuri?" Gumamnya pelan, perasaan cemas mulai menghantui pikirannya.

Dia baru saja tiba di rumah tepat pukul dua belas malam, matanya sembab, jejak air mata yang mengering masih jelas terlihat di wajahnya. Hari ini terasa seperti neraka kecil baginya, dan sekarang ini? Skenario buruk yang lain?

Dia melangkah pelan memasuki rumah, memastikan setiap sudut aman. Setelah yakin tidak ada orang asing, Evelyn buru-buru mengunci pintu dengan rapat. Setidaknya, kalau memang ada sesuatu yang salah, dia tidak ingin membiarkan kemungkinan lebih buruk terjadi.

Begitu masuk ke kamarnya, Evelyn menghela napas lega. Semuanya tampak rapi, tidak ada barang yang berpindah atau hilang. "Bukan pencuri," gumamnya, setengah lega, setengah bingung. Mungkinkah Joshua yang datang? Tapi, jika iya, kenapa dia meninggalkan pintu terbuka seperti itu? "Ah, dia pasti buru-buru," Evelyn menduga-duga sambil duduk di tempat tidur.

Saat mengangkat bantal, dia menemukan ponselnya yang ternyata tertinggal. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Dasar pelupa," ejeknya pada diri sendiri. Namun, senyumnya memudar ketika layar ponsel menyala, memperlihatkan 20 panggilan tak terjawab dari Joshua. Evelyn menelan ludah, rasa bersalah langsung menghantamnya.

Tanpa pikir panjang, dia menekan tombol hijau untuk menghubungi Joshua.

"Ha—"

"Eve!" Suara Joshua menyentak keras dari ujung telepon, membuat Evelyn otomatis menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia mengulum tawa. Kekhawatiran Joshua begitu kentara, dan dia tidak tahu harus merasa senang atau merasa bersalah karena hal itu.

"Darimana aja, Eve? Kenapa telepon gue nggak diangkat?" Nada Joshua terdengar penuh tuntutan, tetapi Evelyn tahu, itu karena dia benar-benar peduli.

"Maaf, Josh..." jawab Evelyn pelan. "Gue habis ziarah ke makam Syaila, maaf nggak ngabarin."

"Tapi kenapa nggak jawab telepon gue?"

Evelyn menghela napas, sedikit merasa bersalah. "Ponsel gue ketinggalan, hehe."

Ada jeda sejenak sebelum Joshua bicara lagi, tetapi kali ini suaranya lebih lembut. "Eve... gue khawatir banget, tahu nggak?"

Evelyn tersenyum tipis. "Maaf ya, sayang. Janji nggak bakal ngulangin lagi."

"Ulangi coba."

"Hah? Ulangi apanya?" Evelyn bingung, matanya menyipit ke arah ponselnya. Apa maksud Joshua?

"Ulangi kalimat lo yang tadi."

Evelyn tertawa kecil, menyadari apa yang dimaksud. Dia menggigit bibirnya, malu sendiri. Ternyata Joshua menangkap panggilan spontan "sayang" yang keluar darinya tadi.

"Yang mana sih?" Godanya, mencoba bermain-main.

"Sayang. Ulangi." Nada Joshua rendah, tetapi penuh tuntutan.

Evelyn tertawa, dia sedang membayangkan ekspresi Joshua saat ini. "Maaf ya, sayang. Janji nggak bakal ngulangin lagi."

Hening sejenak, sebelum suara Joshua kembali terdengar. Kali ini lebih serius, lebih intens. "Sepuluh menit lagi gue sampai."

"Hah? Apa maksud—"

Tut.

Panggilan terputus sebelum Evelyn sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia menatap layar ponselnya dengan tatapan bingung bercampur gugup, lalu menghela napas panjang. "Sepuluh menit lagi..." gumamnya pelan, seolah mencoba mencerna kata-kata Joshua.

Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, memastikan segalanya terlihat rapi. Tidak ada baju yang tergeletak sembarangan atau barang yang membuat ruangan tampak berantakan. Setelah merasa semuanya beres, langkahnya berhenti di depan cermin.

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang