Part 44

85 8 0
                                        

"Dad, Mom!"

Evelyn terbangun dari tidurnya, napasnya terengah-engah. Dia bahkan tidak sadar jika air matanya mengalir, membasahi pipinya. Perlahan, Dia menyentuh wajahnya, mencoba menghapus jejak-jejak yang ditinggalkan mimpi buruk itu. Mimpi yang kembali mengingatkannya pada kenangan mengerikan yang tak pernah bisa dia lupakan.

Matanya berkeliling, kebingungannya semakin dalam. Tempat ini terasa asing. Ini bukan kamarnya, apalagi kamar Joshua. Bahkan apartemennya pun tidak sepertinya. Di mana dia sekarang?

"Sshh..." Tangannya terarah ke lehernya yang terasa perih, sedikit bengkak. Seketika, Dia teringat dengan jelas apa yang terjadi. Dia dipaksa pergi dari supermarket oleh seseorang yang sangat dia hindari.

Ceklek.

Evelyn tercekat. Matanya terfokus pada pintu yang terbuka perlahan, suara kunci yang berputar membuat tubuhnya kaku.

"Kau sudah sadar?"

Suara itu. Suara yang dikenalnya, tapi dengan rasa benci yang begitu dalam menembus hatinya.

Hati Evelyn berdegup cepat, tubuhnya tegang, berusaha untuk tetap tenang meski jelas sekali perasaan takut menyelimutinya. Dia berusaha menarik napas dalam-dalam, berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Dia tidak bisa membiarkan dirinya jatuh ke dalam permainan Calvin lagi. Ini bukan waktunya untuk mundur.

Evelyn berusaha menahan tangisannya, suaranya hampir tersekat di tenggorokannya saat Dia mencoba berbicara, "Apa yang kau inginkan dariku, Calvin?" Suaranya tegas meskipun ketakutan perlahan menguasai hatinya, menelisik ke setiap sudut pikirannya yang penuh kekacauan.

Calvin menatapnya dengan senyum tipis yang terlihat semakin mengerikan, senyum yang menyembunyikan banyak rahasia gelap. "Apa yang aku inginkan? Kau sudah tahu jawabannya, Evy. Aku ingin kau jangan pernah kabur dariku, lagi."

Evelyn menggigit bibirnya, berusaha keras untuk menahan emosi yang semakin tak terkendali. Matanya yang berkilau karena air mata, meskipun berusaha terlihat kuat, akhirnya tidak bisa lagi menutupi ketakutannya. Setiap kata yang keluar dari mulut Calvin semakin menambah rasa terhimpit di dadanya.

Calvin menghela napas, tangannya terulur perlahan, menyentuh puncak kepala Evelyn dengan lembut seolah berusaha menenangkan sesuatu yang tidak bisa Dia kendalikan. "Aku sangat mencintaimu, Evy. Aku tidak ingin kamu pergi. Aku ingin kita menikah dan hidup bahagia sampai kita tua nanti."

"Menikah? Kau gila?" Evelyn hampir berteriak, tetapi bibirnya terasa kaku. "Aku tidak mau!"

"Kenapa kau selalu menolakku?" Calvin berkata dengan nada yang penuh luka. "Apa cintaku padamu kurang besar?"

Evelyn mendengus penuh amarah, tetapi suaranya tetap tegas. "Kau tidak cinta padaku, Calvin. Kau hanya terobsesi denganku." Dia menggeram, hampir tidak bisa menahan dirinya. "Lepaskan aku! Joshua pasti sedang mencariku!"

Calvin tertawa dengan dingin, tawa yang mengirimkan rasa dingin di sepanjang tulang belakang Evelyn. "Joshua? Pewaris Grup Lesmana, itu?" Calvin mendekatkan wajahnya, matanya menyala dengan tatapan meremehkan. "Apa kau tidak tahu satu hal, Evy?"

"Apa maksudmu?"

Calvin mendekat, suaranya rendah, tetapi setiap kata terasa seperti duri yang menusuk. "Keluarga Lesmana lah yang telah membunuh kedua orang tuamu, Evy. Apakah tidak ada yang memberitahumu selama ini?"

Denyut jantung Evelyn terhenti sesaat. Suasana di sekitar mereka seolah berubah menjadi sangat berat, seperti dunia sekelilingnya tiba-tiba membeku. Tubuhnya lemas, dan air mata yang tak tertahankan mulai mengalir. Semua yang pernah dia percaya, semua yang Dia pikir sudah berlalu, kini terbalik begitu saja. Apa yang Dia dengar terasa seperti petir yang menyambar langit gelap.

"K-kau pasti hanya mengarang..." Evelyn mencoba menyangkal, suaranya gemetar, tetapi ketakutan yang terpendam dalam dirinya semakin jelas.

Calvin hanya tersenyum, senyum yang penuh dengan kemenangan, senyum yang seolah sudah merencanakan semuanya jauh sebelum ini. "Sayangnya, aku tidak pandai mengarang, Evy. Aku hanya pandai mengatakan kejujuran." Dia melangkah lebih dekat, meraih map di dalam laci, lalu memberikannya pada Evelyn dengan gerakan penuh keyakinan. "Bacalah ini."

Dengan tangan gemetar, Evelyn membuka map itu, matanya menelusuri setiap kalimat yang tertera di dalamnya. Kata-kata itu terasa begitu tajam, seperti pisau yang menembus jantungnya satu per satu.

Grup Peters dan Klaassen resmi menjadi bagian dari grup Lesmana.

Tertanda,

Ruben Peters.

Helena Klaassen.

Max Lesmana.

Deg, deg, deg

Jantung Evelyn berdegup keras, gemuruhnya seolah memekakkan telinga. Nama itu, Ruben dan Helena, nama orang tuanya, kini muncul dalam dokumen yang terhubung dengan keluarga Lesmana.

Mata Evelyn kabur, pandangannya terfokus pada map yang kini ada di tangannya. Air mata yang sejak tadi Dia tahan, akhirnya jatuh, menetes di atas kertas yang penuh dengan pengkhianatan itu.

"Ini... ini tidak mungkin..." gumamnya, hampir tak terdengar. Dunia di sekitarnya terasa berputar. Semua kenangan yang Evelyn coba kubur kini muncul kembali, satu per satu, dengan tajam dan mengerikan. Calvin, dengan tatapan penuh kemenangan, senyum tipis di bibirnya, Dia seperti menikmati setiap ketakutan yang tumbuh di dalam diri Evelyn.

"Keluarga Lesmana terlibat dalam setiap langkah hidupmu, lebih dalam dari yang kau kira. Mereka yang mengatur semuanya, mereka yang mengendalikan segalanya, termasuk membunuh kedua orang tuamu." Suara Calvin begitu pelan, namun setiap kata yang terucap bagaikan racun yang perlahan meresap ke dalam tubuhnya.

Evelyn menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis yang semakin tak terkendali. Air matanya mengalir begitu saja, menyusuri pipinya yang memerah. "Tidak... itu tidak mungkin," katanya, suaranya pecah, seolah memohon pada dirinya sendiri untuk tidak mempercayainya.

"Itulah kenyataannya, Evy." Calvin menatapnya dengan mata penuh ambisi dan obsesi, perlahan mendekatkan tubuhnya, lalu menunduk dan berbisik di telinganya. "Apa kau ingin membalaskan dendam? Aku akan membantumu, Evy."

Evelyn menggelengkan kepala, hatinya penuh keraguan. Dia tidak ingin percaya, tetapi bukti yang ada di tangannya ini sulit untuk disangkal. Keluarga yang selama ini Ia anggap sebagai keluarga kedua, tempat yang memberinya kenyamanan, ternyata adalah bagian dari dunia kelam yang telah merenggut kedua orang tuanya.

Evelyn menggigil. Apakah mereka akan memburunya juga? Apakah Dia akan berakhir seperti kedua orang tuanya? Bryan dan Kirana, mereka selalu terlihat tulus menyayanginya, begitu juga dengan Joshua dan Daniel. Tapi Evelyn mulai merasakan bahwa semua itu mungkin hanya topeng. Akting. Semua mungkin hanya sandiwara.

"Jika kau masih tidak percaya, kau bisa membuktikannya sendiri, Evy." Calvin menyeringai, tidak ada sedikit pun empati di wajahnya. "Aku akan membiarkanmu bebas untuk kali ini, tetapi jika semuanya terbukti seperti yang aku katakan, aku akan membawamu kembali ke Amsterdam."

Setiap kata Calvin terasa seperti cambukan yang menusuk ke dalam jiwa Evelyn. Ketakutan dan kemarahan bergolak dalam dirinya. Apa yang harus Dia lakukan? Apakah ini semua benar? Kehilangan orang tuanya telah cukup menghancurkan hatinya, dan kini dunia yang Dia kenal mulai retak, semua yang pernah Dia percayai berisiko hancur.

Evelyn menggigit bibirnya, seakan ingin menahan semuanya keluar. Tapi, Dia tahu kenyataan ini tak bisa dielakkan. Keluarga Lesmana, orang-orang yang selama ini dianggap sebagai sahabat, mungkin adalah musuh terbesarnya.

Evelyn harus membuktikannya sendiri.

Tbc

Another SideTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang