15. Tergoda Menggoda Duda

1.6K 202 9
                                    

Tentu saja Bang Kalla tidak berani menolak apa yang Mami minta, sekilas Bang Kalla melihat ke arah Ajudan Mami, Mbak Yunita dan juga Mas Pandu, mungkin dia merasa tidak nyaman karena hanya dirinya yang diundang untuk bergabung dengan kami, dua rekannya justru berdiri, jika mereka tidak profesional sudah pasti mereka berdua akan menertawakan Bang Kalla.

Namun hierarki yang mereka pegang tidak mengizinkan mereka untuk bereaksi apapun. Sampai Mami yang seolah paham dengan suasana canggung ini berkata kepada Mbak Yunita, "kalian bisa makan dulu, mumpung disini ada Kalla."

Mbak Yunita dan Mas Pandu mengangguk, mereka meninggalkan kami, dan Bang Kalla menarikkan kursi untukku.

"Keluarga kita dapat jatah tiga orang sebagai tamu, tapi Papinya Aira sibuk jadi nggak apa-apa kamu yang nemenin kita ya, Kal!"

Sejujurnya, diantara banyaknya anggota Papi, banyak dari mereka yang aku kenal namun Bang Kalla, dia baru aku temui hari ini, aku tidak tahu seberapa dekat dia dengan Papi, seberapa besar kepercayaan yang Papi berikan kepadanya, tapi aku yakin dengan beliau yang mempercayakan untuk Bang Kalla menjagaku, itu sudah menunjukkan jika posisi Bang Kalla tidak biasa bagi Papi, dan pemikiran itu semakin besar dengan melihat betapa akrabnya Mami dengan Bang Kalla.

Ya kalau nggak dekat nggak mungkin Papi mau jadi saksi pernikahan Bang Kalla dulu.

Bang Kalla yang mendapati basa-basi Mami hanya mengangguk formal. "Tidak masalah, Bu."

Dinginnya Bang Kalla nyatanya mampu membuat Mami tersenyum canggung, hal yang lucu dan sangat tidak biasa mengingat betapa ekstrovertnya Mami. "Kalau Aira ganggu kamu, Tante minta maaf ya. Anaknya memang nakal."

Bang Kalla yang mendengar Mami minta maaf seketika menggeleng, "nggak Bu, Mbak Aira nggak ganggu saya sama sekali."

"Iya iiih, Mami apaan sih?! Aku tuh cuma minta sedikit pertolongan dari Bang Kalla ya! Salah Mami sama Papi juga yang nggak bisa nolak orang-orang yang nyodorin anaknya ke Aira. Capek tahu Mi ngadepin orang kayak gitu!"

Mami ini, ngomong kayak gitu seolah-olah aku ini bocah TK umur 5 tahun, namun seolah Mami tidak melihat tatapan dan kalimat protesku beliau kembali melanjutkan.

"Saya sama Papinya Aira memang tidak pernah menolak secara langsung mereka yang memiliki niat baik kepada Aira. Pamali sama kualat kalau nolak niat baik seseorang, tahu sendiri kan kalau kami cuma punya Aira, kami takut ada hal buruk yang terjadi, itu sebabnya semua keputusan ada ditangan Aira. Pinter-pinter Aira nyeleksi siapa-siapa yang menurutnya baik, sebagai orang tua kami cuma mengarahkan. Sekarang kamu yang dijadiin tameng sama Aira, Ibu minta maaf ya, Kalla."

Kembali Mami meminta maaf kepada Bang Kalla yang membuat Bang Kalla semakin merasa tidak nyaman. Alhasil Bang Kalla hanya sanggup mengangguk, sementara aku diam-diam saja tidak merasa bersalah. Ya bagaimana, siapapun yang mendekatiku mereka adalah orang-orang yang bisa dianggap dekat dengan orangtuaku, menolak langsung hanya akan membuat hubungan mereka tidak nyaman sehingga Mami selalu berpesan.

Kalau kamu nggak suka, pinter-pinter dan cari cara halus buat nolak.

Susah kan kalau kalian jadi aku? Sekarang paham kan kenapa aku sampai stress dan muak soal perjodohan anak-anak kolong yang seolah jadi tradisi tidak tertulis ini.

"Bu Jendral, apa kabar......"

Ditengah kecanggungan yang terasa tidak nyaman ini, suara sapaan terdengar dari sisi lain bangku, Mami yang disapa segera bangkit dan aku melihat sosok Bu Siwi, istri Kapolri yang menyapa Mami dengan hangat. Aku pun segera bangkit, dan memberi salam juga kepada Tante Siwi, untuk kali ini aku tidak perlu waswas atau apapun karena anak-anak Tante Siwi yang laki-laki sudah menikah, dan yang paling penting kami tidak seiman dan seamin, jadi jelas obrolan tentang perjodohan kecil kemungkinannya.

Semuanya berjalan normal sampai akhirnya Om Johan, menunjuk Bang Kalla dengan raut terkejut.

"Loh Kall, kok kamu ada disini.....,"

Aku tidak tahu apa maksud Om Johan dengan ada disini, maksudnya apa Bang Kalla diundang atau Bang Kalla yang duduk di kursi bersama kami? Aku tidak tahu.

"Siap Jendral, saya disini atas perintah Jendral Wibawa untuk menjaga Ibu dan Mbak Aira." Bang Kalla memberikan hormatnya kepada Om Johan, lagi-lagi soal hierarki dan penghormatan.

"Ohhh, saya agak kaget lihat kamu di acara Salma sama Farid, secara kan......"

Kalimat Om Johan tergantung, seketika beliau langsung menghentikan apa yang hendak beliau ucapkan seolah menyadari jika itu adalah hal yang keliru, begitu pula dengan Tante Siwi yang langsung mencubit lengan Om Johan pelan penuh peringatan, tanpa harus Om Johan selesaikan kalimatnya aku pun sudah paham dengan apa yang beliau maksud.

Sepertinya perselingkuhan mantan istri Bang Kalla ini sudah menjadi rahasia umum.

"Om Johan, jangan dengerin Bang Kalla soal perintah Papi, orang Bang Kalla disini jadi plus one-nya Aira kok!"

Tidak ingin obrolan menjadi canggung, aku menyela pembicaraan, memecah ketidaknyamanan yang sangat tidak enak ini, untuk beberapa saat Om Johan dan Tante Siwi saling pandang sebelum akhirnya Tante Siwi mencubit pipiku sembari tertawa.

"Baguslah kalau begitu, biar mantunya Handoko kejang-kejang nantinya! Jangan lupa nanti Aira digandeng yang mesra, Kal"

Mendapati tanggapan dari Tante Siwi tak pelak aku pun turut tertawa. Handoko adalah nama dari Tuan rumah acara, orangtua dari Mayor Haris Handoko, senior Papi yang berulangkali Papi keluhkan karena seringkali menyalahgunakan jabatannya meski sekarang beliau sudah tidak lagi menjabat. Aku sangat yakin peran beliaulah yang membuat perselingkuhan anaknya dengan istri orang aman tersimpan rapat.

Jika aku tertawa, sebaliknya Bang Kalla hanya mengangguk canggung dengan wajah tertekannya, ya gimana lagi, orang dia ini kulkas yang punya kaki. Hatinya sudah kadung mati karena diselingkuhi wanita yang dia cinta, alhasil dia tidak memiliki ekspresi, wajahnya benar-benar seperti orang yang nahan-nahan diri buat nggak minta tolong ke mereka yang ada di sekelilingnya.

Kekesalan yang muncul saat Bang Kalla memperlihatkan wajahnya di depan studio Eve sudah tidak aku rasakan lagi, yang ada semakin wajahnya cemberut dan datar, aku justru semakin tergoda untuk mengganggunya. Sungguh, ekspresinya ituloh yang membuatku semakin tergoda untuk menjahilinya. Alhasil, saat Om Johan mengajak Kalla bicara, aku justru memainkan kakiku ke kakinya yang membuat dahinya berkerut penuh protes, ingin menegurku tapi Om Johan tengah asyik berbicara dengannya, alhasil dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan teguran yang ingin dia berikan kepadaku.

"Berhenti melakukan pelecehan ini, Mbak Aira."

Tepat saat ada kesempatan berbicara, Bang Kalla tentu tidak menyia-nyiakannya, dia berdesis pelan di ujung bibirnya memberiku peringatan yang tentu saja tidak aku gubris. Lagian pelecehan apa sih? Orang cuma nyentuh kakinya doang?

"Aduin saja kalau berani? Sok, bilang sama Mami, sama Om dan Tante juga!"

Tantangku tanpa rasa berdosa yang membuat wajah Bang Kalla serasa ingin meledak dalam ketidakberdayaannya. Banyak kata umpatan yang sepertinya hendak dia berikan kepdaku, namun dia harus menahannya, tanpa ada rasa takut dengan wajah kesalnya aku justru bertopang dagu menatapnya dengan penuh minat. Bang Kalla versi normal memang tampan, tapi jika tengah sebal, itu memiliki daya tarik tersendiri.

Astaga, aku mungkin sudah gila karena untuk pertama kalinya aku tertarik menggoda seorang duda.

KAIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang