Teguran Papi di hadapan ajudan dan anggota beliau membuat pipiku memerah. Aku sama sekali tidak keberatan jika Papi menegurku tapi haruskah beliau melakukannya di hadapan anggota beliau.
Ya, aku sangat paham dengan tingkahku yang konyol dan memalukan, aku tahu Papi pasti sangat tidak menyukai sikapku tersebut tapi menegurku seolah aku adalah pengganggu yang selalu membuat ulah dan tidak bisa diberitahu adalah hal yang berbeda.
Aku memang tidak pernah menyukai Ajudan Papi, aku tidak suka diikuti yang membuatku harus mendapatkan perhatian lebih, aku juga tidak suka karena mereka membuat orang segan kepadaku dan berlomba-lomba mendekatiku demi keuntungan, karena ajudan Papi tersebut seringkali orang-orang mengenalku hanya sebagai putri Papi alih-alih diriku sendiri.
Bahkan seingatku aku lebih sering dipanggil Putri Jendral Wibawa dibandingkan namaku yang sebenarnya. Aku tidak suka dengan Papi dan Mami yang terkadang terlalu berlebihan, aku selalu memaklumi sikap orangtuaku mengingat aku adalah anak tunggal dan orangtuaku adalah sosok yang disorot banyak orang. Kegagalan mereka dalam mendidikku akan menjadikan celah untuk menjadi bahan olokan.
Itu sebabnya aku tidak pernah mengeluh maupun protes, terkadang aku memang kabur dari Ajudan Papi, kadang aku juga berbicara ketus kepada mereka, hanya sebatas itu kenakalanku kepada Ajudan Papi selama ini, baru sekarang disaat aku hampir muak dengan rekan Papi dan Mami yang mengejarku seperti aku adalah tropi yang mereka incar, aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri menggunakan Bang Kalla sebagai tameng, ya, aku akui aku salah karena sok tahu juga soal perasaan Bang Kalla yang rupanya keliru besar, aku juga mengakui jika tingkahku yang berpura-pura tenggelam hanya untuk mendapatkan perhatian darinya juga sangat salah, tapi cara Papi menegurku kali ini sungguh membuatku kecewa.
"Ajudan Papi itu untuk membantu Papi, Aira. Kamu jangan mengganggu mereka dengan sikapmu yang kekanakan, apalagi kamu sudah dewasa, Aira. Jangan bersikap terlalu kekanakan, jika kamu minta tolong dan tidak dapat dipenuhi jangan memaksa dengan cara bodoh dan konyol. Papi yakin Papi dan Mami tidak membesarkanmu menjadi seorang pemaksa. Kamu mengerti....."
Papi kembali menegaskan, tatapan tajam beliau terarah kepadaku.
"Papi tidak ingin ulah konyolmu tadi pagi terulang lagi kepada siapapun Ajudan Papi. Kamu tidak boleh mengeluarkan ancaman bodohmu itu kepada salah satu dari mereka. Paham, Aira?"
Aku menatap Papi dengan pandangan nanar, bertubi-tubi Papi memberiku peringatan tepat di depan para Anggota beliau. Sungguh ini adalah hal yang memalukan, susah payah aku menahan diriku untuk tidak menjawab ucapan Papi tersebut karena hanya akan menegaskan sikap manjaku, kugigit bibirku kuat menahan tangis dan umpatan yang memburu hendak keluar, perlu beberapa saat untukku sampai akhirnya aku bisa menenangkan diri.
Mami selalu berkata, apapun yang aku hadapi aku harus tetap tersenyum meski aku sangat tidak suka dengan keadaan yang tengah aku alami, itu sebabnya saat bertemu tatap dengan Papi, aku tersenyum, genggaman tanganku pada celana kulotku mengerat melampiaskan perasaanku yang sudah tidak karuan.
"Aira mengerti Papi."
Seburuknya perkataan orangtua, kata orang-orang itu demi kebaikan anaknya. Aku memilih menurut, tidak membantah meski cara Papi menegurku melukaiku. Aku tidak lagi menatap Papi, aku hanya menatap lurus ke arah Mami dengan pandangan kosong, tubuhku ada di meja makan besar ini, namun pikiranku berkeliling kemana-mana, tidak ada seornag pun di meja ini yang diizinkan untuk pergi sampai Papi yang terlebih dahulu berdiri memberi izin untuk mereka meninggalkan ruangan.
Seperti yang kalian kira, aku adalah orang pertama yang berdiri, tidak peduli Mami yang memanggilku, aku bergegas keluar dari rumah, yang aku inginkan sekarang hanyalah keluar dari rumah ini secepatnya agar aku bisa bernafas. Entah sebenarnya apa yang salah hingga semua yang aku lakukan terasa tidak benar.
Ketertarikanku kepada Ajudan baru Papi sudah membuat berantakan segalanya.
"Aira, Aira......."
Berulangkali Mami memanggilku, aku tidak tahu ceramah model apa lagi yang akan aku terima, untuk sekarang aku tidak ingin mendengarkan apapun karena yang diucapkan Mami pasti tidak jauh-jauh dari bagaimana seharusnya aku bersikap agar layak disebut sebagai Putri keluarga Wibawa. Biasanya aku akan dengan senang hati mendengarkan nasihat Mami mengingat Mami adalah Cinderella di dunia nyata yang akhirnya menikahi pangeran tampan dan hidup berbahagia tapi untuk sekarang aku tidak ingin mendengarkan apapun nasihat beliau.
Mendadak semua nasihat Mami terasa tidak masuk akal. Demi Tuhan, aku hanya merasa tertarik kepada seseorang pada akhirnya, aku tidak tahu bagaimana mulanya rasa tertarik ini muncul dengan sangat cepatnya, dan aku kebingungan bagaimana aku harus menunjukkan ketertarikanku yang terasa sangat asing ini, semuanya terasa baru untukku, semua yang aku lakukan untuk menunjukkannya justru disalahkan, aku dianggap buruk hanya karena aku merasa tertarik dan mengungkapnya.
Teguran dari Papi di hadapan anggotanya benar-benar mempermalukanku, membuat mentalku jatuh ke dasar.
"Aira, Mami nggak akan biarin Pak Sapto bukain gerbang kalau sampai keluar dari rumah tanpa mendengar Mami berbicara!"
Aku sudah menyalakan mobilku tepat saat Mami berteriak dari luar rumah. Aku benci jika Mami sudah mengeluarkan ancamannya seperti ini, sudah pasti lagi-lagi aku akan disalahkan Papi jika tidak menuruti apa yang dikatakan Mami. Rasanya aku sudah benar-benar muak dengan diriku sendiri yang mendadak bersikap begitu memalukan.
Ingin rasanya aku membenturkan kepalaku ke setir saja sekalian. Rasanya otakku terasa penuh dengan berbagai perasaan kalut yang asing dan tidak menentu.
"Aira........."
Mami menggedor kaca mobilku, dan aku tidak memiliki pilihan lain selain membuka pintu kembali turun. Dari kejauhan aku mendapati Papi bersedekap di dekat mobil Jeep beliau bersama dengan Bang Kalla dan juga Mas Pandu, meski dari kejauhan aku sangat paham jika Papi tengah memperingatkan diriku untuk tidak membantah atau pun melukai Mami dengan ucapanku. Lebih daripada cinta beliau kepadaku, Putri tunggalnya, Papi jauh lebih mencintai Mami dibandingkan apapun termasuk diriku. Jika kalian berpikir ucapan Papi tentang Mami yang harus di dahulukan dalam segala hal hanya bualan dan omong kosong itu salah besar, bagi Papi Mami adalah dunianya dan beliau tidak akan memaafkan satu orang pun yang berani melukai Mami.
Baru saat akhirnya aku turun dan berhadapan dengan Mami, Papi baru masuk ke mobilnya, diikuti Ajudan dan sopir beliau, beliau meninggalkan rumah menggunakan Jeep pribadinya. Kini hanya ada aku dan Mami yang saling menatap, dan seketika air mata yang penuh dengan rasa frustasi itu tumpah.
"Mami......" aku ingin bercerita kepada Mami banyak hal yang sudah membuatku bertingkah memalukan sampai menenggelamkan diriku ke kolam renang demi perhatian seorang yang tidak menyukaiku, namun aku sendiri kebingungan bagaimana aku harus memulai bercerita. Pria itu hadir belum ada 48 jam namun sudah membuat duniaku berantakan, bolak-balik dan mengubah seorang Aira yang tidak peduli dengan apapun menjadi seorang yang galau dan frustasi karena perasaan yang campur aduk.
"Aira, dengar Mami, lihat Mami Aira......"
Mami meraih wajahku, menangkup wajahku dengan kedua tangan beliau yang mungil, seolah paham bagaimana bingungnya aku dengan situasi ini, beliau memaksaku untuk menatap beliau. Berbeda dengan Papi yang setiap marah selalu menatapku dengan tajam, Mami mungkin cerewet soal ini dan itu tapi Mami tidak pernah menakutiku dengan cara apapun.
"It's okey Sayang. Yang kamu rasakan sekarang itu ketertarikan! Nggak apa-apa kalau kamu tertarik sama Kalla, Aira. Nggak apa-apa, itu hal yang wajar! Kamu sudah dewasa, sudah seharusnya kamu tertarik dengan seorang pria."

KAMU SEDANG MEMBACA
KAIRA
RomanceSaat Tuan Putri kesayangan Sang Panglima yang pecicilan dan manja bertemu dengan Ajudan yang dingin. Aira Sekar, perempuan manja mahasiswa Hubungan Internasional tersebut nyatanya harus menjilat ludahnya sendiri, satu waktu dia pernah berkata jika d...