Pertanyaan Yang Keliru

1.3K 129 4
                                    

Kali ini aku sepertinya salah dengan perkiraanku sendiri. Sebelumnya aku memperingatkan Kalla jika berada di depan kamera bukan hal yang mudah, aku juga mengancamnya jika dia akan mempersulit pekerjaanku namun nyatanya pria ini tampak santai di depan kamera.

Kalla, ya, itu kan namanya? Disaat para tentara seringkali kaku saat dipaksa untuk berada di depan kamera. Pria ini mengikuti arahan Galih dengan mudah, dia meraih tanganku, mendekap pinggangku, menatap mataku, berpose denganku tanpa ada kecanggungan sama sekali seolah dia adalah model profesional dan aku sedikit curiga dia benar-benar model profesional.

"Oke, sekarang sederhana saja. Berhadapan, saling genggam, dan saling menatap dengan penuh perasaan, ayo kalian wakili pakaian yang kalian kenakan. Rasakan seolah kalian pengantin yang berbahagia."

Galih dan arahannya yang khas, mengikuti sesuai apa yang diminta Sang Stylist, aku meraih tangan Kalla. tangan itu sangat besar, tanganku tampak sangat kurus dibandingkan tangannya yang tampak liat, bahkan aku merasakan kapalan di tangannya, namun meski demikian besar telapak tangannya yang mengundang perhatianku, telapak yangannya mungkin bisa digunakan untuk menutupi seluruh mukaku. Biasanya aku tidak memiliki kesulitan untuk menatap mata partnerku, tapi saat aku melihat mata gelap tersebut nyaliku seketika menciut.

Bukan, bukan karena takut kepadanya, namun yang aku khawatirkan justru aku tenggelam di dalamnya. Dengan wajah datar dia menatapku tanpa perasaan persis seperti pembunuh berdarah dingin, aku jadi penasaran jika aku menginjak kakinya sekarang mungkin dia sendiri pun tidak akan merasakan sakit sedikit pun. Tanpa ragu dia menatapku, dan alhasil akulah yang salting brutal di tatapnya.

Bagaimana tidak jika kalian ditatap dengan lekat seolah dia ingin masuk ke dalam tubuh kalian yang paling dalam. Lebih dari pada cat calling, tatapan pria di hadapanku jauh lebih meresahkan, apalagi sedari tadi wangi woody yang menguar darinya begitu meresahkan.

"Apa sebelumnya kamu sering foto studio dengan pacarmu? Sekarang sedang ngetrend kan para perempuan yang pamer pacar mereka yang berseragam."

Tidak ingin tenggelam dalam perasaan salah tingkahku sendiri, aku mencoba untuk berbicara, aku berharap dia akan membalas sarkasku barusan dengan kalimat sarkas yang sama, namun kalian tahu jawaban apa yang aku dapatkan darinya?

"Saya pernah melakukan pemotretan prewedding sebelumnya. Ini hanya hal mudah, seperti mengulang pose yang pernah aku lakukan."

"Oooh Really? Jadi kamu sudah bertunangan? Atau jangan-jangan sudah menikah? Katakan, apa nanti istrimu nggak marah kalau fotomu tampil di Sosmed Eve sebagai pasanganku? Sepertinya kamu orang yang nggak berperasaan dengan menerima tawaran ini."

"Pernah melakukan prewedding, pernah menikah, sekarang kebetulan status sudah single kembali. Sederhananya, semua hal ini sudah pernah saya lakukan namun berujung kegagalan."

Damn!!!!! Sialan! Jawaban macam apa barusan! Aku mencari-cari raut wajah bercanda atau apapun yang akan membuktikan jika ucapannya tidak serius, namun wajah itu masih tanpa ekspresi saat membalas perasaanku seolah perasaannya memang sudah mati sama sekali. Mendadak aku menjadi merasa bersalah, aku ingin melepaskan tanganku yang menggenggamnya namun pria ini justru menahan lebih erat, bahkan kini dia melangkah semakin mempersempit jarak diantara kami.

Kalian tahu rasa tidak nyaman karena ditatap seseorang yang sudah kalian singgung, sebersalah dan setidaknyaman itulah apa yang aku rasakan sekarang, namun dibelakang sana Galih dan Danang justru mengartikannya sebagai sesuatu yang berbeda.

Duo maut stylist dan fotografer tersebut justru girang dan berulangkali mengatakan bagus, entah apa yang dimaksud mereka dengan bagus, yang jelas saat Danang akhirnya mengatakan jika semuanya sudah selesai, akhirnya nafas yang sedari tadi aku tahan lepas juga.

"Mau lihat hasilnya......" berlari menuju Danang yang tengah memperhatikan kembali jepretannya, aku secepatnya ingin meninggalkan pria dingin yang kalimatnya seperti racun tersebut.

"Kalau orang nggak tahu, bener yang dibilang sama Eve, kalian macam pasangan mau prewedding.

"Ngawur kamu!" Ucapku sembari memberikan delikan tajamku kepada Danang yang menggodaku.

"Sewot mulu, lu! Lagi PMS apa gimana?"

"Udah diem aja, lihatin saja semuanya udah bener atau belum. Kalau ada yang nggak bener, Si Tuan Putri Medit itu pasti ruwet soal pembayaran." Malas mengiyakan apa yang dituduhka oleh Danang aku mendorong kepalanya agar kembali fokus ke layar. Hari ini sudah hari terakhir menstruasiku namun aku masih uring-uringan, segala hal yang ada di hadapanku menjadi menyebalkan dan membuatku kesal.

Ya Tuhan, maafkan daku. Sedari tadi aku kesal namun sekarang aku merasa bersalah, mood swing perempuan PMS memang sulit ditebak. Sudah malas dan lelah dengan semua hal menyebalkan yang satu hari ini aku rasakan, aku merasa sudah tidak sanggup lagi untuk marah-marah.

Jika sebelumnya aku merencanakan banyak hal untuk melarikan diri dari acara yang tidak ingin aku datangi, mendadak aku kehilangan minat untuk kucing-kucingan dengan Papi dan mendengar repetan Mami, yang meski bernada halus tapi menusuk sampai ke dalam khas orang jawa yang mampu berkata nyelekit.

"Kak Danang, udah oke, kan? Nggak ada yang perlu di take ulang, kan?" Tanyaku dengan lemas. Aku melepaskan sepatuku dibantu dengan asisten Eve, begitu pula dengan hairpiece yang menghiasi rambutku, sebelum aku melepaskan wedding dress ini, yang aku inginkan sekarang adalah mengakhiri hariku secepat mungkin.

"Nggak ada, lo bisa balik."

Aku mengacungkan jempolku, meski dress yang dirancang Eve sangat nyaman namun aku lebih suka penampilan casualku, "oke, Kak. Makasih. Kalau begitu aku balik duluan."

Danang dan Galih mengangguk, aku melambaikan tanganku kepada mereka semua yang ada di studio sepupuku dengan langkah lunglai aku berjalan keluar, aku bahkan sudah enggan untuk mencari Ajudan Papi yang menjadi partnerku beberapa saat lalu ditambah dengan perasaan tidak nyamanku karena pertanyaanku yang sangat tidak pantas.

"Nih, dress buat lo pakai di acara nanti. Kata Tante Mai dresscode-nya broken white."

Tepat disaat aku hendak keluar butik Eve menghadangku memberikan totebag yang aku yakin apapun yang ada di dalamnya pasti akan cocok untuk aku kenakan. Tanpa banyak berkata apapun selain mengangguk, aku berbalik namun Eve justru kembali meneriakiku.

"Ra, lo nggak ganti disini sekalian? Lo nggak siap-siap dulu? Nggak mungkin kan lo bikin ulah nemenin Nyokap lo dengan keadaan kayak gitu?"

Mood PMSku yang  membuat perasaanku berubah mendadak kini membuatku tidak berselera meladeni Eve, aku terus berjalan menuju mobilku sembari melambaikan tanganku.

"Nggak perlu mandi, aku masih wangi. Daripada buang-buang waktu, mending sekalian siap-siap di mobil sekalian. Aku capek!"

KAIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang