Sayangnya Abang Gultik itu justru mematahkan cibiranku. Aroma Gultik yang menguar, porsi seuprit yang hanya sekali telan langsung habis dengan kerupuk warna-warni itu adalah godaan yang membuat air liurku terus menerus mengalir.
"Kalau kurang Mbak Aira bilang saja!"
Di tengah keterpakuanku menatap porsi Gultik yang dimakan pelanggan lain dengan sangat lahap hingga piring mereka bertumpuk-tumpuk, Bang Kalla datang ke hadapanku membawa dua buah cup buah. Satu cup anggur merah, dan satu cup buah potong campur yang lazim dijual di minimarket, tidak lupa ada sebotol besar air mineral.
Biasanya aku akan dengan mudahnya mengabaikan laparku, namun saat aku menyantap anggur yang dibawa Bang Kalla mataku masih tertuju pada piring Gultik yang tidak berhenti berlalu lalang di depan biji mataku. Ya Tuhan, gini amat godaan orang yang pengen body goals!
Apalagi saat akhirnya pesanan Bang Kalla sampai, demi apapun aku ingin menangis saat melihat kuah gurih menggoda itu mengepul memperlihatkan panas dan kesedepannya. Bang Kalla yang sepertinya sudah kelaparan segera menyantapnya bahkan tanpa peduli denganku yang ada di hadapannya, dan benar saja, porsi Gultik itu hanya dua suap untuknya.
Dengan bersemangat pria spek Gapura Provinsi tersebut melahapnya, dan baru saat piring kelima, saat lambungnya yang pasti besar sudah terisi seperempatnya, pria ini menatapku yang hampir saja meneteskan liurnya. Please, alih-alih ilfeel karena makannya Bang Kalla banyak, yang ada pemandangan laki-laki makan segunung ini adalah hal yang biasa untukku, bagaimana tidak, Papi makannya dua kali porsi kuli.
"Mbak Aira benar nggak mau makan?"
Pertanyaan itu membuatku tersentak, sontak aku menggeleng keras "nggak....,.,." namun disaat bersamaan perutku yang sudah aku ganjal dengan anggur justru berkeriyuk dengan keras.
Sungguh suaranya sangat keras yang pasti di dengar Bang Kalla yang langsung terkekeh geli, jangan tanya bagaimana malunya diriku sekarang karena di suasana malam Jakarta yang gerah ini, wajahku terasa semakin panas.
"Perut nggak bisa bohong ya, Mbak." Kekehnya dalam geli, namun Bang Kalla sama sekali tidak memaksaku untuk makan. Alih-alih memintaku makan, dia justru makin lahap menyantap makanan yang tidak berhenti datang untuknya. Aku tebak sih Naga Bonar ini akan menghabiskan 25-30 piring. "Tapi ngomong-ngomong Mbak Aira kenapa mesti diet? Seketat itu pekerjaan Mbak Aira atau memang bagaimana? Saya lihat tidak ada lemak mengganggu, yang ada sepertinya Mbak Aira kurang lemak. Makan buah kayak gitu apa ya kenyang, Mbak!"
Seketika anggur yang sudah malas aku santap sejak awal ini semakin tidak enak usai mendengar apa yang Bang Kalla katakan. Wajahku cemberut, sungguh aku tidak ingin sebenarnya mengatakan alasan kenapa aku stop makan karbo usai jam 8 malam, tapi entah kenapa lapar membuat otakku tidak bisa mencegah lidahku yang dengan entengnya berbicara.
"Abang nggak tahu kan rasanya dibandingkan sama Emak sendiri! Mami tuh badannya dari muda udah bagus, Mas. Kecil, pas gitu. Bahkan setelah punya aku badan beliau masih bagus, seragam Persit beliau mungkin nggak akan pernah ganti saking ukurannya nggak berubah, tapi aku....." sungguh, apa yang aku ceritakan ini bukan hal yang menyedihkan, tapi rasanya aku tidak suka sekali jika mengingatnya. "Abang lihat sendiri kan kalau gen Papi nurun ke aku. Say thanks untuk tinggi badannya, tapi nggak banget buat porsi makan yang kayak Kuli. Dulu waktu kecil aku selalu diledekin temen-temen Mami karena badanku gede. Abang lihat lengan aku, makan banyakan dikit ini lengan udah kayak tukang gali kubur, ini perut makan banyakan dikit juga buncit, makanya Mami selalu ngingetin aku buat pakai bodysuit atau korset sekalian. Dipikir-pikir sedih tahu....." ujarku dengan suara yang semakin melemah.
Lah, pada akhirnya aku curhat. Kata siapa hidupku sempurna, nggak ada yang namanya hidup seseorang sempurna. Pasti ada masalah tersendiri, apa yang aku rasakan mungkin sepele untuk orang lain tapi sangat menyesakkan untukku. Bahkan untuk sekedar makan pun aku harus menahannya. Bohong jika aku tidak lapar. Awal-awal aku mendisiplinkan diriku untuk tidak makan makanan berat usai jam 8 aku hampir menangis setiap hari, seharusnya ini adalah hal yang mudah untuk aku lakukan tapi sejak tadi siang aku sama sekali tidak makan sama sekali, pagi pun aku tidak sarapan dengan benar karena ditegur Papi di hadapan ajudannya, sungguh hari ini adalah hari yang berat untukku.
Menatapnya, aku ingin tahu apa reaksinya, dan pria di hadapanku ini hanya menatapku lekat khas dengan ekspresinya yang datar, merasa aku sudah terlalu banyak bercerita tentang diriku yang mungkin dianggap annoying oleh orang lain aku hanya bisa merutuki diriku sendiri.
Ditengah keputusasaan dan rasa malu yang menggulungku, Abang Gultik yang mondar-mandir mengantarkan pesanan tiba-tiba datang lagi, sepiring Gultik dengan kerupuk warna-warni yang hangat tersaji di atas meja kecil kami yang sudah penuh dengan tumpukan piring bekas makan Bang Kalla, seketika aku menelan ludah membayangkan Bang Kalla akan menyantapnya dengan nikmat, tapi aku keliru, saat Bang Kalla mengangkat piringnya dia tidak menyantapnya, melainkan membawa suapan itu ke arahku.
Seketika diriku cengo, tidak menyangka sama sekali jika Bang Kalla akan menyuapiku, bergantian aku menatap sendok itu dan wajahnya dan berulangkali juga aku gagal paham. Salah-salah, yang ada aku justru keliru mengartikan apa yang hendak dia lakukan.
"Aku nggak makan, Abang....."
"Nggak, Mbak Aira nggak makan! Ini saya yang makan, Mbak Aira wakilin saja, saya capek ngunyah...."
Hampir saja aku tersedak tawa saat mendengar bujukan Bang Kalla, alasan yang dia berikan terlalu menggelikan. Kok bisa sih ini Kulkas Berkaki tiba-tiba punya ide membujukku seperti ini.
"Nggak mau, ntar gendut!"
Kembali aku menolak namun pria ini sama sekali tidak menyerah.
"Gimana mau gendut, kan yang makan saya! Ayo cepet, keburu lapar saya, Mbak!"
Untuk kedua kalinya Bang Kalla menyodorkan sendok tersebut, persis seperti membujuk anak kecil.
"Ayo Mbak Aira, ini nasinya bisa nangis kalau nggak buru-buru saya makan."
Tawaku kini benar-benar lepas, pria yang tadi pagi dengan lantang mengatakan betapa menyebalkannya diriku kini justru berusaha sangat keras untuk membujukku agar mau makan. Dan yang paling lucu adalah Bang Kalla menyebutnya sebagai aku yang mewakili dirinya jadi aku tidak perlu khawatir dengan lemak, kegendutan atau semacamnya. Antara rasa geli dan terharu, hal sederhana yang membuat kedua perasaan itu campur aduk hingga mataku berkaca-kaca. Sungguh aku sangat cengeng dengan hal kecil seperti ini.
"Ayo, aaaaakkkkk...." Kali ini aku sama sekali tidak menolaknya, aku membuka mulutku dan aku menerima suapan dari Bang Kalla, entah Bang Kalla menyadarinya atau tidak, dia tersenyum kecil menahan geli.
Tidak hanya satu suapan, tapi pria ini menyuapiku berkali-kali hingga sepiring Gultik tersebut habis tanpa bersisa, siapa yang mengira sih sesederhana bisa makan tanpa beban pikiran dan perut kenyang bisa membuat orang menjadi bahagia.
"Mau tambah lagi?"
Tawaran itu begitu menggiurkan, namun dengan tegas aku menggeleng. Tidak, cukup satu porsi meski rasanya sangat menggoda. Namun sayangnya Bang Kalla justru berpikiran lain karena dia kembali memesan satu piring lagi, dan langsung mengangkat sendoknya kepadaku.
"Tapi saya masih lapar, jadi tolongin saya buat habisin ini, Mbak Aira."
Senyuman geli terlihat di wajahku saat aku menyambut suapannya yang juga membuatnya tertawa. Aku sama sekali tidak memikirkan apapun, namun ditengah suapannya Bang Kalla berbicara.
"Maafkan sikap saya tadi pagi, Mbak Aira. Setelah apa yang Mbak Aira lakukan kepada keluarga PA Mbak, saya rasa saya keliru mengartikan kepedulian Mbak sebagai sifat pemaksa dan sok tahu."
Mendapati permintaan maaf yang terlalu tiba-tiba sontak membuatku tertegun.
"Maafkan saya, Mbak Aira."

KAMU SEDANG MEMBACA
KAIRA
RomanceSaat Tuan Putri kesayangan Sang Panglima yang pecicilan dan manja bertemu dengan Ajudan yang dingin. Aira Sekar, perempuan manja mahasiswa Hubungan Internasional tersebut nyatanya harus menjilat ludahnya sendiri, satu waktu dia pernah berkata jika d...