Cangkir hangat itu berpindah tangan, tidak ada reaksi dari pria yang menerimanya, dia hanya menatapku dengan wajah datarnya yang membuatku kesulitan untuk menerka seperti apa perasaannya yang sebenarnya.
Merasa Bang Kalla tidak akan mengatakan apapun atas secangkir kopi yang diterimanya, aku hanya mengangkat bahuku acuh. Terserah dia mau menerima permintaan maafku atau tidak, yang jelas aku sudah menyadari kesalahanku dan berjanji kepada diriku untuk memperbaikinya. Perkara dia tidak mau memaafkan, ya itu urusannya.
Aku berjalan, hendak meninggalkannya, Papi dan Mami adalah orang yang disiplin soal waktu, bahkan soal sarapan sekalipun, jika Papi berkata akan menungguku maka beliau tidak akan menyentuh makanannya sampai aku duduk disamping beliau. Sekarang sudah terlambat dan aku yakin aku akan mendapatkan teguran, namun saat aku berjalan keluar, pria itu ternyata mengikutiku, degup jantungku mulai bertingkah, berirama seirama dengan langkah sepatunya yang berat. Sungguh aku merutuki manusia yang sebelas duabelas dengan kulkas ini, bagaimana bisa ada manusia sedingin dirinya?
"Maafkan saya juga Mbak Aira."
Dug.......
Seketika langkah kakiku terhenti, dan pria ini berhenti tepat dibelakangku, sontak aku berbalik untuk melihatnya yang ada di belakangku, mendengarnya meminta maaf usai dia dengan lantang menyatakan betapa dia sangat tidak menyukai segala hal yang melekat di diriku rasanya aneh sekali mendengarnya berkata maaf. Sepertinya aku salah dengar, hal itulah yang membuatku memicing menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
Merasa tatapanku penuh selidik, pria yang ada di hadapanku tampak menghela nafas panjang, "saya bersalah kepada Mbak, meskipun saya sangat tidak suka dengan sikap Mbak yang seenaknya, tidak seharusnya saya mengatakannya dengan sangat kasar seperti tadi."
Mendapatkan penjelasannya aku hanya termangu, pria dingin di hadapanku ini sulit ditebak, mendapati dirinya merasa bersalah usai menelanjangi semua keburukanku bukan masuk dalam perkiraanku. Jujur, aku terkesima dengan permintaan maafnya, ada perasaan senang yang membuat jantungku serasa menari-nari, rasanya Papi yang memberikan puk-puk ajaibnya usai memarahiku. Namun sebelum aku tenggelam dalam kekaguman akan sosok dingin yang sulit ditebak yang ada di hadapanku, aku buru-buru mengusir perasaan sialan yang sangat sulit untuk dikendalikan ini. Demi apapun, aku benci dengan diriku yang tiba-tiba saja lemah terhadap seorang Kalla Raharja. Ada banyak pria dengan sikap seperti Bang Kalla di sekelilingku, namun sialnya aku justru terpaku dengannya.
Berusaha tidak peduli meski jantungku tengah menari-nari, aku hanya mengangguk sekilas, "oooh, anggap saja kita impas. Anggap sikap Abang tadi pagi untuk membalas sikapku semalam yang menurut Abang menyebalkan."
Aku tersenyum sekilas usai mengucapkannya, dan tanpa ingin berbicara lagi aku berbalik meninggalkannya. Dia sendiri bukan yang berkata jika aku lebih baik dalam versi sombong dan angkuh yang aku gunakan untuk melindungi diriku dari orang-orang yang tidak aku kenal.
Diiihhh, Aira. Sok cool amat lo! Rutukku dalam hati, namun bagaimana lagi, setelah mendapati orang yang akhirnya membuatku tertarik ternyata sangat tidak menyukaiku, satu-satunya yang terpikir olehku adalah aku ingin melindungi perasaanku sendiri, aku tidak terbiasa dengan penolakan, dan sikap tegas Bang Kalla yang melarangku untuk menunjukkan segala hal yang aku niatkan untuk mencari perhatiannya cukup membuatku sakit hati.
Sesak ya rasanya, baru mulai tertarik tapi sudah dipatahkan dengan kenyataan jika dia tidak menyukai kita secara terang-terangan.
Sepertinya sumpah Eve benar-benar manjur.
"Aira, ngapain kamu lama banget!"
Suara teguran Papi saat aku sampai di ruang makan yang mejanya sepanjang harapan rakyat Indonesia menuju Piala Dunia membuatku tersentak, sedari tadi aku sibuk dengan pikiranku yang terganggu dengan suara langkah kaki berat Bang Kalla hingga tidak menyadari jika aku sudah sampai di tempat kedua orangtuaku menunggu.
Papi memang bukan orang yang akan membentak saat kita ada salah, tapi hanya dari tatapan mata beliau yang tajam aku tahu jika beliau tengah menegur keterlambatanku.
"Maaf Papi."
Jawabku singkat, meraih kursi di sebelah kiri Papi, aku duduk dengan tenang, namun sayangnya suara kursi yang berdecit membuatku harus menoleh dan mendapati pria yang sudah membuat hari dan hidupku berantakan dalam waktu kurang dari 48 jam tersebut duduk di sebelahku, Mbak Yunita yang ada disamping Mami terbatuk, namun senyum penuh isyarat terlihat sekali di wajahnya saat aku menatapnya.
Ya, sudah menjadi tradisi jika ada Papi mengambil Ajudan baru, maka makan pagi bersama sebagai bentuk keakraban bersama dengan anggota Papi yang lain akan dilakukan, namun aku sama sekali tidak menyangka jika dia akan duduk di sebelahku, kursi yang selama ini sengaja di kosongkan karena Bang Dika aku minta menjaga jarak satu kursi dariku mengingat aku trauma dengan istrinya yang pencemburu, justru diisi oleh laki-laki yang terang-terangan antipati terhadapku.
"Akhirnya kursi kosong keramat yang bikin sakit mata terisi ya, Yun."
Celetukan Mami yang menyindirku bersama dengan Mbak Yunita aku balas dengan putaran mata malas, bukan aku bermaksud sombong dengan tidak ingin ada orang yang ada di sebelahku, tapi aku hanya tidak ingin membuat masalah.
"Mami, kalau Bang Dika disuruh duduk di kursi ini, bukan di sebelah sana, aku khawatir pernikahan Bang Dika berakhir saat dia pulang tugas. Tahu sendiri kan gimana istrinya, Mami lupa aku pernah di damprat gegara Bang Dika bau parfumku?"
Mami yang mendengar kekesalanku justru tertawa, sungguh ingatan tentang hal itu sangat menyebalkan, itu sebabnya aku sangat sewot jika menyangkut tentang Ajudan Papi mengingat mereka sudah memiliki pasangan dan kadar cemburu yang mengerikan. "Mami nggak akan pernah lupa, Ra."
Aku mencibir, mendapati Mami mulai menyendokkan nasi ke piring Papi, aku pun mulai membalik piringku diikuti dengan yang lain. Tidak, aku tidak makan nasi, aku hanya mengambil sayur, dan protein yang ada diatas meja, mendapati ukuran bajuku bertambah adalah hal yang mengerikan. Suasana hening terjadi beberapa saat kala kami mulai sibuk dengan makanan kami masing-masing, Papi tidak berbicara seperti yang biasa kami lakukan karena ada orang lain selain keluarga inti. Baru saat akhirnya Papi meletakkan sendoknya mengakhiri sarapan, Papi mulai berbicara.
"Seperti yang kalian tahu, Kalla sekarang akan membantu saya dalam pekerjaan. Semoga kalian semua yang lebih dahulu membantu saya bisa mendukung Kalla. Bantu, tidak ada persaingan, saya menganggap kalian semua yang ada di meja ini seperti keluarga saya sendiri. Kalian paham?"
"Siap, paham Jendral!" Mereka semua yang ada di meja ini selain aku dan Mami menegakkan tubuhnya, mereka semua menjawab perintah Papi dengan tegas dan mantap. Aku yang sudah terbiasa dengan hal semacam ini biasanya akan mengacuhkan formalitas yang menurutku terlalu kaku, namun suara berat dari sisi kiriku membuatku menoleh ke arahnya. Dengan wajah datarnya Bang Kalla menatap ke arah Papi, mengikuti pandangannya aku pun turut melihat ke arah Papi yang rupanya menatapku bergantian dengan cangkir kopi yang diletakkan Bang Kalla di sisi gelas air putihnya. Cangkir itu terlihat mencolok diantara gelas-gelas air putih yang membosankan.
Aku menelan ludahku kelu, tatapan tajam Papi berarti banyak hal ditambah dengan telunjuk beliau yang terarah kepadaku.
"Termasuk kamu, Aira. Papi harap kamu tidak mengganggu Kalla. Kamu mengerti."

KAMU SEDANG MEMBACA
KAIRA
RomanceSaat Tuan Putri kesayangan Sang Panglima yang pecicilan dan manja bertemu dengan Ajudan yang dingin. Aira Sekar, perempuan manja mahasiswa Hubungan Internasional tersebut nyatanya harus menjilat ludahnya sendiri, satu waktu dia pernah berkata jika d...