Saat Tuan Putri kesayangan Sang Panglima yang pecicilan dan manja bertemu dengan Ajudan yang dingin.
Aira Sekar, perempuan manja mahasiswa Hubungan Internasional tersebut nyatanya harus menjilat ludahnya sendiri, satu waktu dia pernah berkata jika d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pria berusia 35 tahun tersebut mengusap wajahnya yang basah, merapikan rambutnya ke belakang, hanya sebuah hal yang sederhana dan wajar dilakukan oleh seseorang yang baru saja keluar dari air namun dalam pandangan mataku yang tengah terganggu kejiwaannya, kenapa hal sesederhana ini tampak sangat seksi dan menarik untuk dilihat.
"Aku menyukai apa yang aku lihat sekarang ini." Gumamku pelan, dan sepertinya riak air yang berkecipak di sekeliling Bang Kalla membuatnya tidak mendengar hal memalukan apa yang aku katakan.
"Sorry, gimana Mbak Aira?" Meraih botol minum yang aku ulurkan kepadanya, Bang Kalla naik ke atas membuat separuh tubuh yang sempat membuat Amanda ngiler tersebut kini tampak sepenuhnya. Selayaknya seseorang yang ditempa secara fisik, tubuh bugar tersebut sempurna tanpa ada lemak yang tidak penting. Liat, gagah, dengan postur tubuhnya yang bagus, tidak berlebihan seperti yang seringkali di bentuk di Gym.
"Tidak! Nggak gimana-gimana...." Jawabku dengan senyuman tipis, penasaran dengan segarnya kolam renang yang mampu membuat Bang Kalla tertarik, aku turut memasukkan kakiku ke dalam sana dan seketika aku langsung memejamkan mata saat air yang terasa segar tersebut menyentuh kakiku, sinar matahari yang bersinar lembut, segarnya air yang ada di separuh kakiku, mendadak aku menyadari jika ada banyak hal yang menyenangkan bisa kita dapatkan dari sesuatu yang sederhana.
Menggelikan, namun moodku benar-benar bagus karena kehadiran seorang yang bahkan tidak memperhatikanku seperti aku yang memperhatikannya, siapa yang menyangka jika Aira yang sangat mandiri untuk kebahagiaannya sendiri, tidak pernah mengharapkan kebahagiaan dari orang lain, dan mampu bahagia karena usaha sendiri nyatanya kini mengerti kenapa seseorang bisa bahagia hanya dengan melihat kehadiran orang lain tersebut di depan matanya tanpa orang lain itu harus berbuat apapun.
Orang yang bahkan segala hal di dirinya tidak aku sukai dan tidak pernah aku bayangkan akan membuatku tertarik. Lucu bukan? Aku tertarik kepada seorang yang sangat bukan kriteriaku, tapi sungguh sikap dan perlakuannya benar-benar membuatku terpikat.
Dia sederhana, tidak banyak berbicara, tidak mencari muka, namun dia sangat perhatian dan yang paling penting dia seorang yang memiliki pendirian dan tidak asal menurut kepadaku seperti ajudan Papi lainnya. Entahlah, aku yang selama ini merasa jika aku adalah manusia bebas yang tidak pernah mendapatkan penolakan sama sekali tidak keberatan saat akhirnya mendapatkan kata 'tidak' darinya.
"Kalau begitu saya balik duluan, Mbak."
Dia hendak berbalik pergi, namun aku yang memang ingin mengganggunya seketika menghentikan langkah kakinya.
"Loh, terus yang nemenin aku disini siapa?"
Pertanyaan yang aku lontarkan membuat Bang Kalla yang hendak pergi seketika berbalik ke arahku, tanpa merasa berdosa aku tersenyum kepadanya yang tampak menghela nafas seolah tengah berusaha bersabar menghadapi tingkahku yang kadang diluar nurul.
"Mbak Aira, pekerjaan saya membantu Bapak, bukan menjadi Babysitter Mbak Aira. Jadi mohon maaf, saya duluan ya Mbak."
Lagi-lagi penolakan yang aku terima, disaat para anggota Papi berlomba-lomba untuk menarik perhatianku, pria yang sengaja aku ajak bicara justru mengacuhkanku. Demi apapun aku tidak suka dengan mantan istrinya yang sudah membuat pria sehangat Bang Kalla menjadi sangat tertutup. Aku jadi penasaran seperti apa Bang Kalla versi normal sebelum dia cosplay jadi kulkas berkaki.
Tapi kalau nggak dikhianati Bininya, statusnya suami orang Bego. Nggak banget kepincut sama suami orang.
Hati kecilku berbisik, membantah apa yang aku pikirkan sendiri. Tidak terima karena ditinggalkan begitu saja, sontak aku langsung mengeluarkan ancaman, "aku aduin Papi tahu rasa....."
Bang Kalla yang hendak melangkah pergi lagi-lagi harus menghentikan langkah kakinya saat mendengar ancamanku, aku pikir ancamanku akan berhasil tapi rupanya pria itu justru menyeringai meremehkanku. "Adukan saja, toh Jendral sendiri yang berpesan untuk tidak menanggapi rengekan manja Anda, Mbak Aira. Sekali lagi, saya hanya melaksanakan tugas."
Damn! Sikap macam apa itu?! Kenapa dia menolakku berulangkali, dan kenapa Papi menyebalkan sekali sampai harus berpesan hal seperti ini kepada Bang Kalla. Ya Tuhan, ternyata diacuhkan seseorang seperti yang selama ini seringkali aku lakukan kepada mereka yang mendekatiku rasanya tidak enak sekali, ya?! Malu, sebal, marah, semuanya campur aduk jadi satu yang membuat makian dan rasa penasaranku kepada pria acuh ini semakin besar.
"Oke, pergi saja! Awas saja kalau sampai aku tenggelam waktu berenang, Abang bakal di eksekusi sama Papi!"
Seperti anak kecil yang kehabisan akal karena diacuhkan aku kembali melontarkan ancaman, sumpah demi apapun aku tidak suka diabaikan seperti ini? Hanya menemaniku seperti yang aku minta apa susahnya sih? Mendapati dirinya menjauhiku seolah aku adalah kuman membuat rasa jengkel itu timbul tanpa bisa aku cegah.
Awalnya aku yang tidak suka dengan kehadirannya namun sekarang dia yang bersikap sangat menjengkelkan.
Disaat aku sudah mengeluarkan ancamanku seperti ini seharusnya pria menyebalkan ini mengalah saja menuruti apa yang aku minta darinya, tapi kalian tahu apa yang dia lakukan? Dia berbalik, melampirkan handuk ke bahunya dan menatapku dengan pandangan yang seolah menganggap ancamanku hanyalah lelucon untuknya.
"Tidak mungkin seorang putri keluarga Jendral tidak bisa berenang, Mbak Aira. Anda jangan bercanda, itu terlalu lucu untuk didengar."
Kekeh tawa sarkas itu muncul darinya, tawa yang tidak sampai ke matanya, rupanya pria ini tidak sehangat yang aku pikirkan. Dia benar-benar dingin, sikap baiknya kepadaku kemarin rupanya sesuatu hal yang sangat salah. Beralih dariku, Bang Kalla mengedikkan kepalanya ke arah Amanda yang mematung di depan pintu belakang.
"Lagipula, ada teman Mbak Aira yang akan membantu Mbak jika memang Mbak Aira tidak bisa berenang. Sekali lagi, kata Jendral saya tidak perlu menuruti ancaman, Mbak. Saya hanya menjalankan perintah, jika ada yang ingin Mbak ajak bermain-main, ajak yang lain saja Mbak. Mereka akan dengan senang hati menuruti apa yang Mbak katakan."
Aku tidak keberatan dengan kata tidak yang dia ucapkan, namun kalimatnya kali ini menohokku dengan sangat menyebalkan seolah menyiratkan aku hanyalah tukang ancam yang berlindung dibawa ketiak Papi. Tanpa ragu lagi pria itu berbalik pergi, aku sontak berdiri, rasa marah atas sikapnya yang mengabaikanku seolah aku ini adalah kuman yang ingin dia hindari membuatku sangat geram.
Satu hal yang aku pikirkan sekarang adalah membalas sikapnya yang menyebalkan itu, tanpa banyak berpikir aku langsung menyeburkan diriku ke dalam air. Suara riak air yang berdengung memenuhi telingaku, dinginnya air menyergap seluruh tubuhku dengan mengejutkan karena aku sama sekali tidak pemanasan. Aku tahu apa yang aku lakukan adalah hal konyol terbawa emosi namun semua sudah terlanjur aku lakukan.
Dalam dengungan air yang beriak karena aku berusaha untuk tidak tenggelam, aku sama sekali tidak mendengar Amanda yang berteriak panik memanggil namaku, wanita gempal itu paling takut dengan kolam renang karena memang tidak bisa berenang, itu sebabnya saat aku menuju kolam renang dia masih ada ditempatnya. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak tenggelam, menggapai-gapai permukaan, air mulai masuk ke hidung dan mulutku, dan saat aku mulai lemas karena tersedak yang membuatku kesulitan untuk bernafas sehingga perlahan berat tubuhku menyeretku ke dalam, aku merasakan air yang kembali beriak menandakan seorang yang terjun dengan tergesa, tubuhku ditariknya dan dari tangannya yang liat aku tahu siapa yang menarikku dari kepura-puraan yang sangat sempurna.
Tanpa penyelamatku tahu, senyuman mengembang di wajahku, dia boleh mengabaikanku, tapi aku punya sejuta cara untuk menarik perhatiannya.
Umpatan berulangkali aku dengar darinya, hal yang tidak aku sangka akan keluar dari perawakannya yang terhormat, susah payah dia menggendong untuk naik ke atas dengan kepanikan yang luar biasa , mungkin dia mengira aku akan benar-benar tenggelam. Aktingku memang sangat bagus, dan saat Bang Kalla meletakanku di pinggir kolam untuk CPR, betapa terkejutnya dia saat melihatku menatapnya dengan sangat santai, mataku terbuka dengan normal, tidak ada tanda-tanda kematian hampir datang kepadaku.