Perintah langsung dari seorang yang sudah menjadikan Kalla orang itulah yang membuat Kalla tidak akan pernah bisa menolak. Lebih daripada kedua orangtuanya yang menelantarkan Kalla begitu saja karena sibuk dengan kehidupan keluarga mereka masing-masing, Sura Wibawa adalah sosok orangtua yang tidak pernah Kalla miliki.
Sahabat Ayahnya tersebut merangkul Kalla kala Kalla muda terpuruk tanpa tujuan, memberikan Kalla harapan dan tujuan kemana hidupnya akan dibawa. Sura menyekolahkan Kalla, memasukkannya ke SMA Taruna Nusantara dan melanjutkannya ke Akmil dengan rentetan pendidikan lanjutan, semua peran Ayah diambil oleh Sura, tanpa balasan apapun, Sura tidak pernah meminta Kalla mengabdi langsung kepadanya, Sura membiarkan Kalla berkarier sesuai alur sampai akhirnya saat Sura merasa Kalla sudah matang, Sura memanggilnya, menjadikannya salah satu orang kepercayaannya secara langsung.
Satu kebanggaan untuk Kalla sendiri karena selain pengabdiannya pada negeri ini, pada akhirnya Kalla bisa membalas budi baik pada orang yang sudah menjadikannya manusia lebih baik.
Tanpa penolakan Kalla mengangguk, Sura yang ada dibalik meja tampak waswas. "Tolong bersabar menghadapi Aira, Kal!"
Lagi dan lagi pesan yang diucapkan oleh Komandannya tersebut membuat Kalla merasa bersalah.
"Siap, Jendral."
Penghormatan diberikan Kalla kepada atasannya, berbalik Kalla menerima sharelocation dimana Aira berada. Perempuan manja yang segala hal yang dia inginkan harus terpenuhi tersebut sudah memasang wajah masam nan cemberut saat berdiri disamping mobilnya, nasib baik cuaca mendung, Kalla tidak bisa membayangkan jika cuaca panas akan secemberut apa Aira.
Singkat cerita, city car tersebut sudah diurus oleh rekan Kalla, dan Kalla sendiri yang mengantar Aira ke tempat dia akan bekerja. Tidak ada lagi kata-kata sok tahu yang dilontarkan Aira, kalimat-kalimat sarkas menggoda yang sebelumnya di dengar Kalla untuk menarik perhatiannya tidak ada lagi Kalla dengar. Wanita bertubuh langsing dengan rambut panjang hitamnya tersebut terdiam ditempat, jika tidak memandang lurus ke depan Aira akan sibuk dengan ponselnya.
Berulangkali Kalla meliriknya, memastikan jika putri Jendralnya tersebut baik-baik saja, sebelumnya Kalla sendiri yang berkata jika Aira versi sombong lebih baik daripada Aira yang sok tahu dan sok akrab tapi nyatanya saat Aira diam justru terasa salah.
"Ini tempatnya, Mbak?" Dengan datar Kalla bertanya, memastikan jika tempat yang dituju sudah benar.
"Iya......" hanya itu yang Aira ucapkan sebagai jawaban dengan acuhnya. Tepat saat mobil Kalla berhenti, wanita yang sudah kembali ke stelan mode pertahanan itu bahkan segera turun tanpa basa-basi. "Braaaaakkkkkkkk........" suara keras pintu mobil yang ditutup tanpa ampun tersebut membuat Kalla berjengit.
Wanita memang tidak bercerita soal kemarahannya tapi langsung ngamuk nggak karuan, ya itulah yang Aira lakukan, mengelus dadanya yang senam jantung karena terkejut, Kalla mengikuti Aira masuk ke dalam, setidaknya Kalla harus memastikan jika Putri Komandannya tersebut sampai ditempat yang tepat.
Kalla sangat tahu jika Aira sangat kesal kepadanya, saking kesalnya bahkan Aira tidak menyadari langkah berat Kalla yang mengikutinya, baru saat wanita chinnese yang menyambut Aira dengan ramah turut menyapa Kalla dengan sapaan yang membuat canggung diantara keduanya.
"Saya ajudan Papinya Mbak Aira, Ci."
Bisa lihat wajah Aira merengut, wanita muda nan manja itu dengan tegas meminta Kalla untuk menunggu diluar, dan Braaaakkkkkkkk, untuk kedua kalinya pintu terbanting tepat di depan wajah Kalla, sedikit syok dengan pintu yang nyaris menghantam wajahnya, Kalla justru tertawa sendiri. Aira dan sikap sombongnya yang acuh ternyata tidak semenyebalkan itu, alih-alih menyebalkan, semakin lama justru terlihat semakin katakan saja bahasa sederhana yang mampu Kalla temukan, menarik mungkin?!
Kalla mungkin sudah tidak waras, namun alih-alih tertarik dengan Aira yang menggodanya, Kalla justru lebih menyukai Aira yang mode normal seperti ini, sedikit congkak, sombong, angkuh, dan juga jahil dengan caranya yang pecicilan. Sembari menahan tawanya yang tidak bisa dicegah, Kalla benar-benar menunggu Aira tepat di depan studio, melaporkan langsung kepada Sura sedang apa putri tinggal kesayangannya tersebut, Kalla sama sekali tidak mengeluh.
Sembari menghandle beberapa hal yang memang menjadi tugasnya meski dia tidak ada disamping Jendral Wibawa secara langsung, Kalla menunggu Aira sampai akhirnya empat jam kemudian langkah kaki yang entah sejak kapan familiar ditelinga Kalla melangkah keluar dari balik pintu, menghampirinya dan berjalan tepat di hadapan Kalla.
Sepatu kets, baggy jeans, tanktop yang ditutup dengan kemeja, perempuan ini dibandingkan manja lebih cocok dengan kata tengil dan pecicilan. Kedua tangannya bersedekap menatap Kalla dengan tidak suka, dibalik wajah datar Kalla tersimpan rasa geli yang dia sembunyikan dengan apik.
"Abang masih disini?"
Pertanyaan yang dilontarkan dengan ogah-ogahan tersebut membuat Kalla menaikkan sebelah alisnya.
"Jendral Wibawa memerintahkan saya untuk menjaga Mbak Aira, itu artinya sampai Mbak selesai hari ini." Kalla menjawab dengan mode datarnya, hal yang membuat Aira tampan sangat malas, membuatnya memutar bola mata malas, kebiasaan yang perlahan tanpa Kalla sadari mulai di hafalnya. Memasukkan ponselnya ke saku, Kalla turut berdiri, "jadi, mau kemana lagi, Mbak Aira?!"
Aira berbalik, meski masih dengan wajah jengah dan kesal Aira menjawab apa yang ditanyakan oleh Kalla.
"Kita ke Rumah sakit Citra Utama, Bang!"
Rumah sakit Citra Utama? Kalla tahu rumah sakit itu, rumah sakit yang berada di kawasan sekolah elite, "Mbak Aira sakit?"
Aira yang berjalan di depan Kalla menggeleng, masih enggan untuk melihat Kalla, "bukan aku, tapi nengokin adiknya Amanda, dari tadi aku nanya keadaannya gimana tapi nggak ada balasan! Aku khawatirnya itu manusia nggak punya duit tapi nggak berani bilang, atau malah bener dugaan soal adiknya di bully. Nggak tahulah pokoknya aku nggak tenang sebelum aku ketemu dia langsung. Abang mau nganterin nggak? Kalau sekiranya nggak mau nganterin siniin saja kuncinya, aku bisa pergi sendiri."
Aira tiba-tiba berbalik, menengadahkan tangannya kepada Kalla, gerakan Aira yang tiba-tiba berhenti ini membuat Kalla hampir menubruknya, dan kini dua orang yang sedang tidak akur tersebut saling menatap. Mau tidak mau dari jarak sedekat ini Kalla bisa melihat bagaimana wajah Aira yang tanpa makeup, wajahnya halus, tanpa ada noda dan jerawat kecil yang ada di pipinya tampak memerah, wanita itu baru saja selesai shooting namun memilih untuk tidak berdandan sama sekali. Wajahnya tampak lugu dan polos, berbanding terbalik dengan sikapnya yang pecicilan. Wajahnya kek orang bener!
Lama mereka saling memandang, Kalla ingin melihat sejauh mana Aira mampu menatapnya dan benar saja, lima detik mereka saling memandang Aira yang pertama kali membuang muka. Warna merah menjalar dari pipinya bahkan sampai ke lehernya yang bersih membuatnya semakin kentara.
"Saya sama sekali tidak keberatan Mbak Aira! Saya antar kemana Mbak Aira mau pergi, itu sudah tugas saya!"
Ya, tugas Kalla. Entah kenapa kalimat itu justru lebih seperti penghiburan dan pengingat untuk Kalla sendiri, jika menjaga Aira adalah tugasnya, hanya sekedar tugas, tidak lebih dan tidak boleh lebih.

KAMU SEDANG MEMBACA
KAIRA
RomanceSaat Tuan Putri kesayangan Sang Panglima yang pecicilan dan manja bertemu dengan Ajudan yang dingin. Aira Sekar, perempuan manja mahasiswa Hubungan Internasional tersebut nyatanya harus menjilat ludahnya sendiri, satu waktu dia pernah berkata jika d...