Dengan kamu merajuk seperti ini, itu justru menegaskan sikap tidak dewasamu, Aira. Kamu selalu dengan lantang menyatakan ketidaksukaanmu terhadap orang-orang yang berusaha menjilat untuk mendapatkan keuntungan darimu tapi kamu justru marah dan terpukul saat kamu mendapatkan kritikan atas sikapmu yang dianggap menyebalkan.
Mungkin niatmu baik terhadap mereka, tapi perlu diingat, tidak semua yang kamu anggap baik, baik untuk mereka. Bukankah kamu sendiri juga sering berprasangka buruk kepada mereka yang hendak mendekatimu? Kurang lebihnya itulah yang Bang Kalla rasakan kepadamu.
Dia sudah memiliki zona nyamannya sendiri, dia tidak suka diusik oleh orang-orang yang sok tahu dengan keadaannya tidak peduli apapun alasan yang kita miliki. Sama seperti orang-orang yang mengasihaniku karena aku adalah anak tunggal dan tidak memiliki saudara, semua orang melihatku sebagai sosok yang kesepian. Dan sepertinya itulah yang Bang Kalla rasakan, semua orang mengasihaninya karena mantan istrinya menikah, berakhir bahagia dengan selingkuhannya sedangkan Bang Kalla masih sendiri, bahkan datang di acara pernikahan mantan istrinya pun sebagai ajudan yang menjaga tamu undangan, semua orang mengasihaninya padahal kenyataannya pria itu tidak nelangsa seperti yang orang-orang pikirkan.
Selama mengeringkan rambutku yang basah aku berpikir tentang semua kalimat menyakitkan yang dilontarkan Bang Kalla tadi. Bohong jika aku tidak sakit hati, aku sedikit syok, aku juga sedikit marah tidak terima niat baikku dianggap menyebalkan, namun saat kemarahanku mulai mereda, aku mulai bisa menggunakan akal sehatku, kata Mami yang namanya manusia itu pasti pengennya selalu benar, nggak mau disalahin, itu sebabnya kemarahan itu pasti muncul saat kita menerima kritik, alih-alih marah dan tidak terima, lebih baik kita menelannya dan menggunakan akal sehat untuk memperbaiki diri kita yang masih penuh kekurangan. Seringkali kritik dan rasa tidak suka itu tidak sepenuhnya karena mereka benci, bisa juga karena mereka peduli.
Jadikan kritik dan masukan itu sebagai sesuatu yang membangun pribadi kita menjadi lebih baik.Aku sudah selesai dengan marahku, aku paham dengan kesalahan dan kekonyolan yang aku lakukan karena tidak terima diabaikan oleh Bang Kalla, dan aku mengerti bagian mana aku harus memperbaiki diriku. Yah, diam, koreksi diri, itu adalah ajaran
Mami dan Nenekku tercinta untuk menjaga diriku sendiri agar tidak disepelekan.Sekarang tinggal meminta maaf, dan mengakui kesalahan.
Memastikan wajahku sudah tidak berantakan lagi, apalagi aku ada Matkul Diplomasi yang tidak bisa aku lewatkan, aku meraih tasku dan bergegas keluar kamar. Tepat saat aku membuka pintu, aku menemukan Amanda yang hampir menangis di depan pintu.
"Aira......" Panggilnya dengan terbata-bata yang membuatku keheranan sendiri. Tentu saja mendapati wajahnya yang bundar dan biasanya menyenangkan kini hampir menangis giliranku yang bingung dengan sikapnya. Aku sama sekali tidak memarahinya, seharusnya dia tidak menangis dan membuatku terlihat sangat kejam.
"Kenapa Man? Aku loh nggak ada marahin kamu, kenapa kamu mewek-mewek kayak gini?" Sejujurnya, sikap Manda ini sedikit menggangguku, sungguh jika aku marah dan membentaknya wajar jika dia menangis, tapi runut kembali ke belakang, bahkan aku tidak meninggikan suaraku sama sekali sehingga dia harus menahan tangis seperti sekarnag. Beberapa saat lalu aku baru saja dikatai pemaksa, kekanakan, haruskah ditambah dengan julukan atasan yang zholim juga?
"Bukan itu, Ra. Ini adik gue, adik gue......"
Terbata-bata lagi-lagi Amanda membuatku kebingungan, apalagi kini dia menangis sesenggukan semakin hebat bukan hanya berkaca-kaca yang membuatku semakin kebingungan.
"Adikmu kenapa?!" Tanyaku dengan agak keras, aku gemas sekali dengannya yang menangis heboh, jika seperti ini bagaimana bisa dia menjelaskan kondisi buruk yang sudah menimpanya, "jelasin kenapa, jangan nangis kayak gini?! Aku bisa bantu gimana kalau kamu nangis kayak gini?"
"Adikku masuk rumah sakit, Ra. Kata Bibik dia dianter dari sekolah gegara jatuh dari tangga!"
Jatuh dari tangga? "Ya sudah tunggu apa lagi, sana cepetan ke rumah sakit! Kalau kamu khawatir nggak ada duit, gampang nanti aku bayarin biaya rumah sakitnya."
Amanda menggigit bibirnya kuat, menahan tangisnya saat dia meraih tanganku, "makasih banyak Ra, tapi gimana sama kerjaan gue, selesai kuliah lo ada jadwal buat take endorse lip serum....."
Aku menggeleng pelan, gemas karena disaat seperti ini Amanda bisa-bisanya masih memikirkan pekerjaannya. "Gampang, nanti bisa aku urus sendiri. Sekarang mending kamu cepetan ke rumah sakit, sekalian minta rumah sakit buat pastiin itu adikmu beneran jatuh dari tangga atau bullying yang ditutupi."
Bukan aku bermaksud membuat parno Amanda dengan pemikiran dan prasangkaku, tapi dari apa yang sudah aku lewati dan kegilaan pelajar sekarang, Bullying yang ujung-ujungnya dikatakan sebagai kecelakaan seringkali terjadi. Bukan maksudku merendahkan, tapi kondisi keluarga Amanda yang yatim piatu, bersekolah ditempat yang elite, dan adiknya Amanda yang bisa aku katakan cantik, itu rentan pembullyan.
"Terimkasih banyak, Aira. Makasih banyak."
Aku mengangguk, bergegas Amanda berjalan pergi tidak ingin membuang waktunya lagi. Memeriksa jam tanganku, aku merasa hariku hari ini akan sangat panjang tanpa PA-ku, dan tepat saat aku mendongak hendak turun, aku mendapati seorang yang tadi pagi mengeluarkan ketidaksukaannya kepadaku berdiri diujung tangga.
Siapa lagi orangnya kalau bukan Kalla Raharja. Pria itu memandangku tanpa ekspresi yang aku balas dengan tatapan sama datarnya. Tatapannya seakan tidak ada sesuatu yang terjadi beberapa saat lalu diantara kami.
"Jendral memanggil Mbak Aira untuk turun sarapan."
Ooohhhh, diminta Papi, gumamku dalam hati. Mengangguk, aku mengiyakan. "Oke, minta Papi sama Mami duluan saja sarapannya, Bang."
Bang Kalla mengangguk, pria itu berbalik begitu saja membuatku hanya bisa menatap punggung tegapnya. Ada rasa tidak nyaman menyelusup ke dalam hatiku perlahan, rasanya seperti memandang sesuatu yang indah namun tidak bisa di gapai dan disentuh, hanya bisa diperhatikan karena saat mendekati kita akan merasakan luka yang tidak disangka.
Kalla Raharja itu seperti matahari, hangat, indah, namun tidak bisa disentuh dan didekati. Menghela nafas aku mengikuti langkahnya untuk turun, namun bukan menuju ruang makan, melainkan menuju dapur, ada hal yang harus aku lakukan di dapur.
"Non mau bikin minum? Bibik bikinin ya?!" Bik Mirah mendekatiku saat aku meraih cangkir dan juga kopi favoritku. Jika ada yang aku banggakan dari diriku mungkin itu adalah kecintaanku pada kopi.
"Nggak usah Bik, Ai bikin sendiri." Bik Mirah mengangguk, membiarkanku menyiapkan kopi untuk diriku. Mami memang menyediakan mesin kopi karena tahu jika aku sering diet Americano, kini kapsul kopi instan yang aku pilih ini bukan untuk aku nikmati sendiri melainkan untuk seseorang.
Suara kopi yang mulai mengalir perlahan adalah suara yang menyenangkan untuk di dengar, tanpa sadar aku memejamkan mata, menikmati suaranya dan juga aroma kopi yang menyebar. Menenangkan sekali hingga tanpa sadar aku bersenandung pelan.
"Mbak Aira......"
Lagi, suara berat tersebut terdengar memanggilku membuatku membuka mata mengakhiri senandungku, debaran tidak nyaman itu lagi-lagi aku rasakan yang susah payah aku singkirkan, menghela nafas pelan aku mencoba menenangkan diriku sendiri sebelum berbalik untuk menatap ke arah pemilik suara berat.
Didepan ruang dapur, Bang Kalla berdiri, dengan seragamnya dia tampak gagah, jauh lebih berkharisma daripada kemarin saat dia mengenakan suit rancangan Eve. Papi memang tidak pernah salah dalam mendidik anak asuhnya, mereka bukan hanya seorang yang mengenakan seragam, tapi mereka memang pantas mengenakannya. "Jendral memanggil Mbak, kata Bapak, sarapan tidak akan dimulai jika Mbak tidak ada."
Aku mengangguk, hanya itu jawaban yang aku berikan kepadanya. Berjalan aku membawa secangkir kopi yang aku buat, kali ini aku tidak menikmatinya untuk diriku melainkan aku berikan kepadanya sebelum aku melewati pintu.
"Ini bukan kopi, ini permintaan maaf dariku karena sudah mengusikmu. Aku janji, tidak akan ada kebodohan dan pemaksaan lainnya."

KAMU SEDANG MEMBACA
KAIRA
RomanceSaat Tuan Putri kesayangan Sang Panglima yang pecicilan dan manja bertemu dengan Ajudan yang dingin. Aira Sekar, perempuan manja mahasiswa Hubungan Internasional tersebut nyatanya harus menjilat ludahnya sendiri, satu waktu dia pernah berkata jika d...