35. Peringatan Kalla

1.7K 259 28
                                    

Ancaman yang diucapkan Aira dengan sangat serius itu seharusnya membuat Kalla bergidik sama seperti tiga Ibu-ibu yang gemetar saat mendengarnya, namun alih-alih merasakan aura mengerikan yang menguar dari keseriusan yang diucapkan Aira, yang ada Kalla justru merasa geli sendiri, seulas senyuman terukir di wajahnya tanpa bisa dia cegah.

Bagaimana tidak merasa geli jika Kalla seringnya mendapati Aira dalam mode tengil, menyebalkan dan pecicilan khas seorang anak yang manja, tapi sekarang Aira berdiri menjulang mengembalikan intimidasi yang diberikan oleh ketiga orang Ibu-ibu terhadap kakak beradik yang mereka sebut sebagai seorang yang tidak punya kuasa dan seharusnya menghindari masalah.

"Mbak jangan keterlaluan ya sama orangtua!"

Khas seorang yang terpojok dan tidak mau kalah, usia di bawa-bawa namun Aira sama sekali tidak bergeming, dia tetap berdiri di tempatnya bahkan memaksa Ibu tersebut untuk mundur.

"Orangtua macam Ibu yang nggak bisa memberikan contoh yang baik nggak akan pernah saya hormati. Guru macam apa Ibu ini yang berat sebelah, menakut-nakuti anak didiknya hanya karena dia orang biasa, orang biasa yang Ibu anggap tidak pantas membela dirinya dan harus pasrah di injak-injak itu sekolahnya juga bayar, Bu! Sama-sama bayar kenapa kalian bersikap seburuk ini, bisa-bisanya ditahun 2025 kalian masih menjilat wali murid! Ibu nggak malu sebagai orangtua mengatakan hal itu, dikasih apa Bu Ibu ini sama anak-anak pembully yang Ibu bela?"

Bertubi-tubi Aira menyerang perempuan berusia 50an tersebut sampai terpaksa mundur, tinggi badan yang berbeda, wajah Aira yang sangat antagonis membuat Aira benar-benar seperti penjahat.

"Mbak, tolong jangan seperti ini, maksud Bu Fatimah bukan kayak yang gitu, Bu Fatimah bermaksud ba.....,"

Salah satu dari mereka angkat bicara, berusaha menyelamatkan guru bernama Fatimah tersebut dari auman Aira namun belum selesai dia berbicara, guru yang lebih muda itu langsung kicep saat mendapati pandangan Aira.

"Mengatakan untuk tidak berbuat apa-apa karena yang akan dilawan adalah orang yang berpengaruh, mengatakan Adinda akan mendapatkan masalah besar jika berani berbicara itu yang kalian maksud  niat baik, Bu Guru? Kayak gitu yang Ibu Guru maksud dengan hal baik? Benar memperingatkan adalah maksud baik, tapi itu artinya kalian selama ini tahu kan orang-orang berpengaruh itu mengintimidasi siswa yang lebih lemah! Kalian selama ini sebagai guru ngapain saja saat ada siswa yang laporan di bully dan dikucilkan, kalian nggak pernah menanggapi, kan? Dari dulu loh saya sering lihat Adinda kena bekas cubitan, dia sering bilang tertekan di sekolah gegara ulah anak-anak nakal itu, tapi nggak ada tindakan dari sekolah? Ini gurunya pada takut sama orangtua mereka atau menyepelekan karena Adinda orang biasa?"

Tampak mereka hendak menyela namun Aira mengangkat tangannya, wajahnya yang marah benar-benar seperti antagonis yang siap menelan siapapun yang berani mendebatnya.

"Kalau kalian nggak bisa melindungi, setidaknya jangan ikut-ikutan mengintimidasi berdalih untuk kebaikan. Ibu-ibu ini sekalian nggak pada buta buat ngelihat kalau Adinda sampai di operasi, kan? Kalian matanya pada terbuka buat ngelihat kalau ini anak sakit, kan? Kalau mata kalian nggak bisa digunakan, pakai mata kaki!"

Pada saat itu tawa Kalla benar-benar hampir lepas karena kalimat absurd yang Aira lontarkan saking gedeknya dia dengan rombongan para guru yang dia maki-maki.

"Sekarang mending kalian pergi sana, kalian cuma bikin orang sakit makin sakit, katakan kepada siapapun yang meminta Ibu sekalian datang kemari jika ingin berhadapan dengan Adinda, temui saja Aira Sekar Wibawa!"

Dengan gemas Aira menunjuk ketiga Ibu-ibu tersebut yang semakin tampak khawatir, Kalla yakin tiga orang siswa yang dilihatnya tadi siang tentu saja ada hubungannya dengan kehadiran para guru ini ke rumah sakit.

"Abang, tolong bawa ketiga orang ini keluar, pastikan mereka jauh-jauh dari kamar ranap Adinda. Kesel banget rasanya lihat mereka....."

Kalla mengangguk, selain memenuhi permintaan Aira, Kalla sendiri juga kasihan dengan tiga orang yang nyalinya menciut jadi sebesar telunjuk ini saat melihatnya. Kalla memang sudah tidak mengenakan seragamnya, tapi postur tubuhnya yang jangkung dan tegap sudah menunjukkan jika seorang Aira Wibawa yang baru saja mengancam mereka bukan orang sembarangan.

"Silahkan......" hanya itu yang Kalla ucapkan sembari mempersilahkan dengan tangannya pintu keluar, Kalla bisa melihat bagaimana mereka menelan ludahnya kelu sebelum akhirnya mereka berbalik untuk pergi dengan tergesa. Mengikuti Ibu-ibu ini untuk memastikan jika mereka memang menjauh dari ruang ranap, Kalla berjalan di belakang mereka, tentu saja kehadiran Kalla ini sangat mengintimidasi mereka sehingga Ibu Fatimah yang merupakan pentolan geng Ibu-ibu ini berbalik.

"Mas nggak usah ya memperlakukan kami seperti penjahat! Pakai di giring segala! Kami itu Guru! Nggak ada sopan-sopannya kalian para anak muda."

Kalla yang tiba-tiba dibentak sedemikian rupa justru mengerutkan dahinya, sebelas alisnya naik dan wajahnya yang sebelas dua belas dengan Aira yang wajah-wajah antagonis menambah kesan angker wajahnya.

"Saya hanya menjalankan perintah, Bu. Sama seperti Ibu dan rekan-rekan Ibu yang rela datang menemui murid yang menurut Ibu sama sekali tidak berguna untuk kelangsungan hidup Ibu." Seperti yang sudah diperkirakan mereka bertiga tampak murka, tidak terima dengan apa yang Kalla katakan, tapi sebelum mereka berbicara, Kalla lebih dahulu mengeluarkan bom atomnya. "BTW, anak-anak yang dorong Adinda dari tangga tadi datang kesini, kan? Mereka yang ngasih tahu Ibu kalau keluarga Adinda melakukan visum untuk lebam-lebam ditubuhnya." Tidak ada gurat darah mengalir di wajah ketiga orang tersebut, apalagi Bu Fatimah yang mengomandoi mereka bertiga, wajah mereka memucat persis seperti mayat penuh kengerian yang membuat Kalla semakin yakin jika tebakannya benar. Anak-anak yang dilihatnya tadi siang adalah pelaku perundungan yang ingin tahu keadaan korban.

Khas seorang kriminal sekali tingkah mereka.

Meski Kalla sangat menikmati wajah mereka yang memelas, pasrah dan tidak bisa berkutik, namun Kalla harus mengakhiri pemandangan yang menyenangkan ini.

"Tebakan saya benar kan, Bu Ibu? Murid-murid itu kan pelakunya? Wah-wah, wajah mereka pasti terekam jelas di CCTV rumah sakit. Saran saya, sebagai guru bersikap saja yang baik Bu selayaknya guru yang seharusnya. Wanita gila yang mengancam Ibu tadi bisa melakukan hal yang lebih gila lagi hanya bermodalkan CCTV yang memperlihatkan wajah mereka. Ibu lihat CCtV diatas sana." Kalla menunjuk CCtV yang ada di atas mereka, menurut pada Kalla, ketiganya pun kompak mendongak memperlihatkan wajah mereka, "Ibu bisa say hai kesana? Biar gambar Ibu bertiga kelihatan bagus saat diviralkan Putri Komandan saya karena sudah mengintimidasi seorang murid di kamar ranapnya."

"MAS!!!!" Ketiga orang tersebut serempak memekik karena Kalla berbicara dengan nada horor penuh misteri, apalagi mereka terhipnotis mengikuti apa yang Kalla katakan untuk melambai ke CCTV, entah apa khodam Kalla sampai menurutinya. "Jangan menakuti-nakuti saya!"

Kalla menyeringai, "loh kok nakut-nakutin sih, saya baik loh ngasih peringatan Ibu-ibu sekalian. Lawan kalian ini, perempuan gila yang bisa melakukan apapun, Bu. Jangankan Ibu, saya saja sampai geleng-geleng nyebut mulu kenapa sampai dipertemukan sama dia!"

Perempuan gila yang harus Kalla akui dengan besar hati telah membuat hidupnya jungkir balik tidak karuan dan berulang kali tersandung kakinya sendiri karena terlalu cepat dalam memberikan penilaian hanya dari ucapan orang.

Aira, dia gila dalam artian yang bagus sebenarnya.

"Jadi Ibu paham, kan? Lebih baik Ibu diam, bersikap yang bijak daripada Ibu dibuat diam selamanya seperti ancaman yang dilontarkan Putri Komandan saya barusan."

KAIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang