39. Permintaan Maaf Ibu Jendral

1.2K 255 22
                                    

Tidak, Aira tidak berpura-pura tidur untuk menghindari kecanggungan, dia benar-benar tidur dengan pulas bahkan sampai mendengkur. Definisi perut kenyang tidur pulas tengah dirasakan Aira yang membuat Kalla dengan santai melajukan mobilnya.

Aira terlalu lelap dalam tidurnya sampai-sampai saat panggilan masuk dari Ayahnya dia sama sekali tidak terganggu.

"Sudah pulang kalian, Kal?!"

"Siap, masih di perjalanan, Jendral! Mbak Aira tertidur sekarang. Jendral ingin melihat Mbak Aira?"

Kalla sudah bersiap untuk menepikan mobilnya jika Komandannya tersebut ingin melakukan panggilan video untuk memastikan kondisi putri kesayangannya, namun Kalla menolak diujung sana.

"Tidak, saya percaya denganmu. Tolong jaga Aira, Kal. Malam ini saya langsung berangkat ke Posso, kamu bisa menyusul saya besok penerbangan pertama bersama Ibu. Saya berangkat dengan Pandu."

Agenda ke Posso sudah direncanakan jauh-jauh hari, sebagai seorang Panglima Sura memang lebih sering pergi dibandingkan diam di kantornya, apalagi jika Presiden tengah ada kunjungan bersama dengan petinggi negara lain ke satu daerah maka Panglima akan meninjau langsung keamanan ditempat yang dituju.

Kalla yang kembali ditegaskan untuk menjaga Aira sontak menoleh ke arah putri komandannya, ditengah keterpakuan Kalla pada Aira yang terdiam, suara Sura terdengar kembali.

"Aira itu punya insomnia yang nggak pernah diceritakan kepada saya dan Ibu, saya tahu dia kesulitan tidur, entah apa yang anak itu pikirkan sampai tidak bisa tidur dan tidak mau menceritakan alasannya, jadi jika sekarang dia tertidur tolong jaga dia, Kal. Biarkan tidur jangan sampai dia terganggu dan terbangun."

Aira, hidup wanita ini sempurna, tidak ada cela untuk mengeluh namun rupanya ada hal sederhana yang justru tidak bisa dia lakukan, pada akhirnya setiap orang selalu memiliki masalahnya tersendiri. Makan kenyang, tidur nyenyak adalah hal yang seringkali diabaikan banyak orang rupanya hal yang sulit untuk Aira dapatkan, dan parahnya Aira tidak bisa bercerita kepada siapapun tentang keresahannya. Kembali lagi, hidup Aira terlalu sempurna sehingga mengeluh seolah pantang untuk dia ucapkan.

"Siap, Jendral!"

Sura tidak menjawab apapun tapi langsung mematikan panggilannya menyisakan Kalla yang tenggelam dalam kesunyian bersama Aira yang mendengkur pelan. Pandangan Kalla kepada Aira kini sepenuhnya berubah, alih-alih kesal dan jengkel seperti yang dia rasakan sebelumnya, Kalla justru merasa sangat kasihan kepadanya. Simpati itu muncul begitu saja, membuat Kalla merasa sesak saat memandang wajah damai Aira yang tertidur.

Kalla tidak pernah tahu jika simpatinya bisa saja menjadi boomerang untuknya, bisa juga Kalla menyalahartikan perasaan yang sebelumnya dia anggap sebagai sebuah simpati semata.

"Kalla, dimana Aira?"

Baru saja Kalla turun dari mobilnya, Maira, sang Nyonya besar Sura Wibawa tersebut tergopoh-gopoh turun dari teras rumahnya. Wanita yang mungkin hanya sebahu Aira tersebut tampak masih segar pertanda beliau belum tidur sama sekali karena menunggu Aira pulang, segera Maira menghampiri Kalla bertanya-tanya dimana putri tunggalnya.

"Mbak Aira ketiduran di dalam, Bu." Kalla menunjuk mobilnya yang masih menyala, Maira melongok sekilas kesulitan melihat karena kacanya yang gelap namun jelas sekali jika Aira tengah tertidur.

Hela nafas penuh kelegaan meluncur keluar dari bibir Maira saat akhirnya dia melihat ke arah putrinya, pandangannya yang hangat beralih ke arah Kalla dengan penuh rasa terimakasih.

"Aira sulit tidur sebenarnya, jam tidurnya berantakan. Syukur kalau dia ketiduran." Lagi-lagi Kalla mendengarkan hal yang sama untuk kedua kalinya, kali ini rasa mirisnya semakin besar mendapati hal sesederhana tidur nyenyak saja tidak bisa Aira dapatkan. Menepis rasa simpatinya yang semakin lama semakin besar, Kalla buru-buru menenggelamkan simpati yang tidak wajar itu ke dasar terdalam hatinya.

"Lantas ini bagaimana Bu? Mbak Aira saya bangunin atau bagaimana?"

Meski sangat disayangkan Aira yang tertidur lelap harus dibangunkan, mau tidak mau Aira memang harus bangun, tidak mungkin jika Aira harus tidur di mobil, bisa rontok badannya tidur di jok semalaman! Kalla sudah bersiap untuk membangunkan Aira namun Maira justru meminta hal yang tidak terduga.

"Kall, tolong bantu Ibu angkat Maira ke kamarnya, ya."

"Hah?" Untuk sepersekian detik Kalla melongo tidak percaya dengan apa yang didengarnya, rasanya mustahil permintaan Ibu Jendralnya barusan untuk akal sehat Kalla, "gimana, Bu?"

Desah lelah terdengar dari Maira saat mendengar Kalla justru bertanya. "Angkatin Aira ke kamar, Kall. Nggak mungkin kan kalau saya yang gendong Aira, saya minta tolong ya, nggak kuat saya kalau musti mindahin Aira. Kasihan kalau dia dibangunin!"

Seketika Kalla menelan ludah merasa kelu, tidak heran jika Aira bisa seabsurd itu dalam bersikap, Emaknya saja seperti ini, bukan perkara Kalla kuat atau tidak menggendong Aira, jelas Kalla kuat karena tubuh Aira menurut Kalla cuma seberat guling, tapi..... aduh bagaimana mendeskripsikannya ya, masalahnya ini yang digendong anak komandan yang umurnya 25 tahun bukan bocah cilik yang umurnya 5 tahun, yang nggak akan bikin Kalla berpikir dua kali untuk mengiyakan perintah Maira.

Ini mau ditolak tapi, permintaan Ibu Jendral yang bintangnya bintang lima diatas Jendral Sura, diterima tapi kok, ya ampun gendong anak gadis orang?! Kalla merasa berdosa!

"Mbak Aira apa nggak kebangun, Bu. Kalau sama-sama kayak gitu, mending dibangunin saja Bu. Saya nggak berani!"

Jujur-jujuran saja Kalla mengutarakan rasa keberatannya, mau bagaimana lagi, baru membayangkan saja dirinya sudah ngeri. Ini rasanya lebih mengerikan dibandingkan menjadi baret Indo sendirian diantara para Army luar. Tapi siapa Kalla memangnya Kalla, dia pikir dia mampu berdebat dengan para wanita Wibawa? Jendral bintang empat saja tunduk, apalagi Kalla? Benar Maira tidak berteriak saat Kalla menolaknya, namun saat Maira mencibirnya, dan cara mencibir Maira sangat mirip dengan Aira, kini Kalla paham darimana kebiasaan Aira berasal.

Definisi buah jatuh sepohon-pohonnya.

"Jadi maksud kamu saya yang harus gendong anak saya ke dalam? Kalau saya kuat, ngapain saya minta tolong ke kamu, Kal! Nggak beraninya kenapa sih, itu anak kalau udah tidur kayak orang mati."

Katakan, bisa apa Kalla sekarang?!

"Kamu mau bantuin saya nggak Kall? Kalau nggak, ya sudah saya nggak mau maksa! Nggak apa-apa!"

Nahkan, kena ultimatum, bilangnya nggak apa-apa, tapi perempuan mana yang bilang nggak apa-apa dalam arti yang sebenarnya?! Pasti kebalikannya, dan sekarang rasanya Kalla ingin sekali membenturkan kepalanya ke kap mobil saking jengkelnya dia pada dirinya sendiri. Ya Tuhan, ada-ada saja permintaan para perempuan Wibawa ini?

"Saya bantu, Bu! Saya bantu, Ya Tuhan!

Kalla menyerah, tidak berniat lagi membantah apa yang Ibu Jendral perintahkan, senyuman mengembang di wajah Maira yang membuat Kalla semakin merutuk, menekan debaran di dadanya sendiri, Kalla membuka pintu penumpang, Aira masih tertidur, dan menepis semua perasaan yang menurutnya tidak penting, Kalla meraih tubuh Aira ke dalam gendongannya, dan seperti yang Kalla perkirakan, tubuh tinggi Aira untuk ukuran seorang wanita seperti tidak berbobot.

Dengan mudahnya Kalla membawa Aira ke dalam gendongannya, alih-alih terbangun Aira justru mendusel mengalungkan tangannya ke leher Kalla.

"Aira nggak nakal Papi."

Suara lirih itu terdengar dari Aira, Kalla sempat mengira jika Aira terbangun tapi wanita ini seperti mengigau karena detik berikutnya dia tertidur kembali. Benar yang dikatakan oleh Maira, Aira tertidur seperti orang mati, bahkan saat Kalla membawanya ke kamar wanita tersebut, dengan mudahnya Aira berguling mencari gulingnya sebelum kembali mendengkur pelan tanpa peduli betapa Kalla berjuang untuk meredam jantungnya yang bekerja berpuluh-puluh kali lipat lebih keras.

Aira, dia sibuk dengan mimpinya sampai-sampai tidak menyadari ada jantung seseorang yang lepas dari tempatnya saat menatap wajahnya dari jarak yang begitu dekat.

Kalla pikir hatinya sudah mati, tapi rupanya hatinya hanya beristirahat sejenak untuk menyembuhkan luka yang tertoreh dan menunggu waktu yang tepat untuk berkembang saat menemukan seorang yang tepat untuk membuatnya kembali berbunga.

KAIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang