Saat Tuan Putri kesayangan Sang Panglima yang pecicilan dan manja bertemu dengan Ajudan yang dingin.
Aira Sekar, perempuan manja mahasiswa Hubungan Internasional tersebut nyatanya harus menjilat ludahnya sendiri, satu waktu dia pernah berkata jika d...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalian tahu bagaimana reaksi Bang Kalla saat aku mengancamnya? Dia menatapku dengan pandangan tajam, mungkin di dalam hatinya dia mengataiku sebagai cewek gila dan menjadi Ajudan Papi yang membuatnya harus bertemu denganku adalah penyesalan seumur hidupnya. Semuanya tergambar jelas diwajahnya namun aku sama sekali tidak peduli. Aku justru membalas tatapannya dengan tatapan tanpa dosa dan jangan lupakan senyuman manis yang kata ajudan Papi lainnya disebut senyuman egois.
"Diam berarti setuju!" Ujar keegoisanku yang lainnya, yang membuatnya menghela nafas panjang. Tidak menunggu dia mengiyakan karena aku menganggap diamnya adalah persetujuan, aku menggandeng lengannya erat-erat. "Oke kalau begitu hari ini sampai acara selesai Abang pacar aku!"
Dengan sumringah aku menggandengnya, dan pria disampingku ini yang tidak punya pilihan apapun hanya bisa pasrah, benar-benar seperti Doberman yang menurut pada pawangnya, dan yah jika diperhatikan memang Bang Kalla ini seperti Doberman, garang, keren, tapi penurut dan penyayang, meski aku tahu dia menurut juga karena tidak punya pilihan lain.
"Anda membuat saya dalam masalah besar, Mbak Aira!" Aku kira Bang Kalla saking kesalnya sampai tidak bisa berkata-kata, namun rupanya dia masih sanggup berbicara meski dengan desisan yang sangat rendah. Normalnya orang yang mendengar nada suaranya tersebut akan ngeri dan terancam, tapi kenyataannya pria ini tidak membuatku takut sama sekali.
"Salahkan Papi, Abang." Jika ada orang yang bertanggungjawab atas lelucon yang menggelikan ini maka orang itu adalah Papi, beliau yang ngotot memintaku datang ke acara ini, beliau juga yang mengirimkan Bang Kalla padahal beliau jelas-jelas tahu yang menikah adalah mantan istri Bang Kalla. Entah apa yang ada di otak Papi, rencananya dan maksudnya, hanya Papi dan Tuhan yang tahu, karena yang aku inginkan sekarang adalah acara yang tenang tanpa basa-basi perjodohan. Selama ini Ajudan Papi selalu pria beristri, tidak mungkin aku menggandeng mereka sedekat apapun kami dalam obrolan, tapi karena Bang Kalla adalah seorang single dengan status duda, tentu saja aku memanfaatkan semuanya sebaik mungkin.
Sembari menggandeng lengannya yang besarnya mungkin dua kali lipat pahaku aku menatapnya, tingginya ideal untukku yang terpaksa menggunakan heels untuk acara ini, "bisa jadi Papi atur semua ini biar Abang nggak sendirian dihari bahagia mantan Abang. Lagian harusnya Abang seneng dong punya gandengan cantik macam Bidadari kayak aku ini!"
Dengan percaya dirinya aku memuji diriku sendiri yang jelas langsung membuat Bang Kalla memutar matanya, mungkin dia sedang menahan dirinya agas tidak mengeluarkan kata-kata sarkasnya kepadaku yang terlampau jumawa terhadap diriku sendiri.
Ingat, kepercayaan diri itu penting. Saat kita percaya diri kita cantik, maka aura kita akan memancar berkali-kali lipat.
"Harusnya Abang nggak boleh ngeluh! Nggak lucu tahu Bang waktu lihat Abang ada di pinggir sana diacara nikahan mantan istri Abang, harusnya yang bener ya yang kayak gini, datang, bawa gandengan yang lebih oke, syukur-syukur bikin dia nyesel. Kalau dipikir-pikir kayaknya emang ini rencana Papi deh. Papi kan yang paling tahu kalau putri cantiknya ini orangnya nggak tegaan."
Mengabaikannya yang diam seperti patung aku berbicara seperti biasa, tidak ada rasa tersinggung sama sekali karena percakapan yang tengah aku lakukan hanyalah percakapan sepihak dimana aku berbicara sendiri tanpa ada tanggapan darinya. Aku menganggapnya sebagai bagian dari karmaku yang sebelumnya selalu mengabaikan obrolan yang dibuka oleh Ajudan Papi.
Aku yang biasanya mengabaikan, kini terabaikan, dan lucunya aku tidak keberatan diabaikan oleh sosok Kalla Raharja.
"Tidak ada sedikitpun keuntungan yang saya dapatkan dari skenario konyol yang tengah Mbak Aira rancang." Mendengar Bang Kalla berbicara membuatku lumayan terkejut, aku sudah mempersiapkan diriku untuk berbicara sendiri sepanjang malam, tapi sepertinya Bang Kalla tidak tahan jika dia harus mendiamkan ocehanku, aku menoleh ke arahnya, menatapnya, memintanya untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan. "Antara saya dan mantan istri saya, saya bahkan tidak peduli dengan apapun yang terjadi kepadanya. Pernikahannya, kebersamaannya dengan pasangan barunya tidak berarti apapun untuk saya, Mbak Aira. Saya datang kesini hanya untuk menjaga Ibu dan Mbak, tidak lebih! Perkara orang lain melihat saya dengan pandangan kasihan, saya tidak peduli."
Saat dua orang memutuskan untuk menikah, tentu saja ada cinta besar diantara mereka yang membuat mereka akhirnya bisa bersama. Ada banyak perpisahan yang masih menyisakan cinta di salah satu pihak, tapi dalam kasusnya Bang Kalla sepertinya pria ini sudah benar-benar mati rasa terhadap mantan istrinya. Cinta, kasih sayang, atau apapun itu yang pernah dia miliki untuk wanita yang pernah begitu istimewa untuknya nyatanya sudah musnah, lenyap begitu saja.
Pria ini serius dengan ucapannya, perselingkuhan dan pengkhianatan yang pernah Mantan istrinya lakukan nyatanya sudah membuat cinta yang dia miliki mati.
Ada sedikit rasa bersalah bercampur dengan malu yang aku rasakan atas sikap sok tahu dan cerewetku, namun aku yang egois ini mana peduli, aku mengabaikan rasa maluku dengan kalimat andalan. "Ya udah sih, terserah Abang. Bagus kalau Abang sudah nggak ada perasaan, jadi fokus Abang cuma jagain aku saja. Nanti jangan lupa nanti ikut aku sama Mami buat salam-salam ke atas ngasih selamat ke Pengantinnya. Hahaha, aku mau lihat gimana reaksi mantan Abang, kalau Abang udah jelas nggak kesisa sama sekali perasaan masalalunya, tapi kan kita nggak tahu sama perasaan mantan Abang."
Acara belum dimulai, dan aku hanya mengetahui mantan istri Bang Kalla hanya dari foto preweddingnya yang terpajang sepanjang jalan. Biasanya antara anak para tentara kami akan mengenal satu sama lain, tapi berhubung usia mantan istri Bang Kalla dan juga suaminya yang sekarang terlampau jauh dariku membuatku tidak mengenal mereka.
Aku penasaran seperti apa wujud seorang wanita yang selingkuh dari suaminya saat suaminya ditinggal bertugas. Pak Mayor yang diajak selingkuh juga, bisaan ya ngelonin istri anggotanya. Kalau orangtua si cowok itu nggak orang terpandang aku yakin kariernya akan tamat saat itu juga.
Tciiiiihhh, nepotisme terang-terangan namun semua orang seolah tutup mata.
"Aira sini......."
Saat aku tengah asyik berceloteh tanpa ada sahutan dari Bang Kalla, Mami memanggilku, aku bisa merasakan tubuh Bang Kalla menegang, dia seperti ingin menarik tangannya yang aku gandeng, namun lagi-lagi aku memperkuat gandenganku sembari membalas lambaian Mami dengan riang.
"Apaan sih Bang, dipanggil calon Mamer ituloh, kok malah lari! Kamu tahu nggak, kalau Mami loh yang dari tadi minta aku buat manggil kamu biar nggak di tepi sana!"
Tanpa menunggu persetujuan dari Bang Kalla aku menariknya yang pasrah saja, sepertinya dia sudah tidak memiliki daya untuk menolakku lagi. Membuktikan jika ucapanku beberapa saat lalu tidak bohong, Mami yang melihatku datang bersama dengan Bang Kalla justru menyambutnya dengan baik.
"Sini Kal, duduk samping Aira!"
Nah, jika Kanjeng Ratu yang meminta secara langsung, berani Bang Kalla menolak?! Tolak saja, aku mau melihat.