29. Pembully dan Pansos

1.3K 244 18
                                    

Curhat memang tidak menyelesaikan masalah saat itu juga, namun setidaknya aku merasa lega. Pelukan Mami memang selalu sukses menenangkanku, membuatku yang sebelumnya kalut dan panik dengan perasaanku kini mulai merasa tenang.

Hari-hari aku jalani seperti biasa, berjibaku dengan berbagai mata kuliah HI yang banyak hafalan adalah hal yang menyenangkan. Dari keluarga Militer dan pengusaha nyasar ke HI namun Mami dan Papi sama sekali tidak mempermasalahkannya selama aku menjalaninya dengan benar, mami dan Papi selalu berkata soal masa depan aku sendiri yang harus memutuskan, orangtuaku hanya pendukung dan pendamping untuk meraihnya, mereka mengarahkan jika mulai salah namun sepenuhnya keputusan ada di tanganku. Diberi kepercayaan sebesar itu tentu saja aku tidak bisa menyia-nyiakannya, aku belajar serajin yang aku mampu, meraih nilai setinggi mungkin, tidak banyak mengikuti aktivitas yang menurutku tidak penting, itu sebabnya banyak orang yang mengataiku sombong hanya karena aku tidak mau diajak nongkrong atau absen bersama mereka.

Disaat ada dosen yang dianggap menyebalkan banyak dari mereka yang berbondong-bondong absen namun aku memilih menghadirinya, menurut mereka aku memiliki jiwa tidak solid namun sungguh sangat disayangkan jika kesolidan yang mereka inginkan untuk hal yang keliru, sama seperti sekarang, mereka mendatangiku saat kelas selesai yang membuatku langsung kebingungan.

"Aira, anak-anak mau ke Sency nih, lo ikut sekalian mau nggak? Sekalian mau bikin konten kita..."

Saat kata konten meluncur dari mereka, aku tahu yang mereka maksud adalah mereka ingin aku masuk frame mereka untuk menaikkan insight, bukan aku GR namun aku seringkali mendengar kasak-kusuk tentang memanfaatkanku demi menaikkan follower di balik bilik toilet kampus. Sudah aku bilang kan aku memiliki trust issue tersendiri terhadap orang-orang yang ada di sekelilingku, dan sikap semacam ini yang semakin memperburuk kepercayaanku kepada mereka. Mami selalu bilang untuk menutup mata dan telinga mengabaikan hal tersebut, anggap saja tidak tahu dan bergaul saja dengan mereka, namun aku tidak bisa bersama dengan seorang yang lain di depan lain di belakang, atau bahasa kasarnya munafik seperti teman-teman kuliahku ini, alhasil sebagai jawaban aku menggeleng atas permintaan mereka.

"Sorry, tapi aku ada kerjaan setelah ini, nggak bisa kumpul!"

Aku membereskan buku-bukuku, sejujurnya aku agak keteteran dengan tidak adanya Amanda, tapi bagaimana lagi, PA-ku tersebut memiliki urusan yang tidak bisa dia tinggalkan, tidak mungkin aku egois dengan menahan Amanda agar tetap disisiku, ditengah kesibukanku membereskan buku panduanku, laptopku yang masih terbuka ditutup dengan keras, siapa lagi pelakunya jika bukan Maryam, perempuan yang merasa dirinya adalah penguasa HI diangkatanku, aku yang mulai resah dengan sikapnya langsung mendongak, menatapnya yang memandangku dengan tatapan menantang.

"Sok banget lo jadi manusia! Baru jadi anak Jendral yang punya follower seupil saja belagu, lo itu kalau bukan anak Bokap lo, lo bukan siapa-siapa! Youre Nothing, Aira!"

Aku tidak tahu apa alasan Maryam ini membenciku hingga dia menghinaku membawa-bawa orangtuaku yang jelas kalimat yang bukan pertama kali aku dengar dan aku dapatkan ini sukses memantik emosiku, jika wanita ini berpikir aku akan mengamuk atau semacamnya atas provokasi yang dia lakukan maka Maryam salah besar, dengan tenang aku meraih laptop yang baru saja dia tutup sampai nyaris gempa, dam melihat ke arah mereka satu persatu. Tidak ada yang namanya takut atau gentar menghadapi mereka, aku justru memberikan seringai meremehkan kepada mereka yang bisanya hanya main keroyokan.

"Seenggaknya manusia Nothing ini nggak perlu pansos ke orang lain! Konten kalian nggak rame ya kalau nggak ada gue? Kalian pikir gue nggak denger apa yang kalian omongin di belakang gue 'deketin saja si Aira, bikin konten bareng biar insight kita ikutan naik kecipratan tenarnya dia, kalau nggak mau tinggal kata-katain saja soal Bokapnya' itukan yang kalian omongin di belakang punggung gue? Kalian pikir gue nggak punya kuping buat denger semua kalimat busuk kalian!" Semua yang pernah mereka ucapkan dibelakang, aku kembalikan tepat di depan wajah mereka, wajah-wajah terkejut tampak diantara mereka sepertinya tidak menyangka jika aku akan tahu sedetail itu obrolan yang mereka anggap rahasia, aku bersedekap menatap Maryam yang dianggap pentolan circle memuakkan ini. "Kalian pikir bully dan intimidasi kampungan ini mempan ke gue? Nggak! Sama sekali nggak ngefek ke gue, kalian sendiri kan yang bilang Bokap gue seorang Jendral, nggak ada yang perlu gue khawatirkan apalagi cuma bully dari mahasiswa sampah kek kalian. Jadi....." pandanganku menajam, cara terampuh melawan bullyan adalah menegaskan bullyan yang mereka berikan, mereka mengatakan aku bukan siapa-siapa jika bukan anak Jendral, kan? Mereka harus tahu seperti apa anak Jendral jika sudah memainkan nepotisme yang mereka sendiri tuduhkan. "Minggir, jangan ganggu gue, jangan deketin gue kalau cuma mau ngambil keuntungan. Bokap gue bisa lakuin hal yang nggak bisa bayangin. Paham kalian......."

Tanpa menunggu jawaban dari mereka, aku menerobos gerombolan perempuan tenar HI, sepertinya ancamanku cukup manjur untuk mereka. Rules pertama menghadapi pembully menurut pengalamanku yang selalu diremehkan karena nama besar Papi adalah jangan pernah takut, jangan pernah  menundukkan kepala kalian menunjukkan rasa takut. Nama besar Papi membuatku mendapatkan banyak priviledge, tapi juga ada banyak luka yang aku dapatkan, seperti sekarang ini. Mendapati ornag yang benar-benar tulus kepadaku tanpa ada niat apapun adalah hal yang sulit untuk aku temui.

Bergegas aku melewati banyak mahasiswa lainnya di lorong, beberapa orang menyapa yang aku balas sekedarnya karena memang aku terburu-buru, sesekali aku melihat ponselku, melihat waktu yang harus aku kejar untuk sampai ke kantor salah satu Kosmetik yang memintaku untuk menjadi BA lip product mereka, Managerku yang mengatur jadwal dan juga pekerjaanku sudah menerorku untuk segera datang ke tempat yang sudah di sepakati. Aku menghela nafas panjang, tanpa mengeluh aku melajukan mobilku ke tempat yang dituju.

Sungguh rasanya capek sekali, biasanya Amanda yang akan menyetir dan aku terima jadi duduk manis beristirahat usai menyerap ilmu, tapi sekarang aku harus pergi sendirian melakukan semuanya sendiri, huhuhu, capek kali rasanya.

Seolah semesta memang ingin mengujiku, sialnya dipertengahan jalan disaat Managerku yang sialan terus menerus menerorku kenapa aku tidak kunjung sampai ditempat, mobilku yang biasanya aman sentosa saat aku kendarai perlahan tersendat-sendat dengan sangat mengerikan sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya, nasib baik aku berhasil meminggirkan mobil sialan ini sehingga aku tidak menjadi sasaran kemarahan pengguna jalan.

Dititik ini aku benar-benar seperti ingin menangis, segera aku ingin menelepon Mami tapi dengan cepat aku mengurungkannya, Mami hanya akan panik yang berujung aku akan dimarahi Papi, jalan terbaiknya adalah aku menelpon Papi langsung, jika harus mengejar waktu dengan Ojol, setidaknya Papi akan membereskan urusan mobil sialan ini.

Persetan dengan aku dan Papi yang tengah tidak bersahabat, aku harus menghubungi beliau, dan syukurlah tanpa menunggu lama panggilanku yang tersambung segera diangkatnya.

"Papi, mobilnya mogok. Mati, ini Aira gimana? Mobilnya Ai tinggalin Ai ngojek aja ya Pi.... Aira buru-buru mau ke studio."

"Amanda kemana? Kenapa kamu bisa sendiri?"

"Amanda adiknya masuk rumah sakit, Pi! Ya sudah ya Pi, Aira shareloc aja, mobil sialan ini tolong diambil. Aira mau naik Gojek aja."

Tanpa basa-basi dan membuang waktu aku langsung mengatakan semuanya kepada Papi masalahku dan apa yang hendak aku lakukan. Aku sudah bersiap untuk mematikan panggilan dan sharelocation posisi mobil biar Papi yang mengurusnya tapi Papi buru-buru menjawab.

"Jangan pergi sendiri, Aira. Mami bisa menggantung Papi jika tahu kamu pergi naik ojek, sharelocation saja biar Anggota Papi yang menjemputmu. Jangan pergi naik Gojek! Tunggu ditempat!"

Tunggu ditempat. Aku bisa apa jika Papi sudah memberi perintah? Seperti orang bodoh aku turun dari mobilku, menunggu disamping mobil sialan yang sudah membuat hariku buruk. Wajahku cemberut, dan semakin cemberut saat beberapa orang yang lewat melongok penuh penasaran saat aku merutuki mobil sialan ini, entah berapa lama aku menunggu rasanya seperti satu abad, yang jelas sangat lama sekali sampai akhirnya satu mobil menepi tepat dimana mobilku terparkir.

Siapapun yang turun dari mobil itu aku sudah bersiap untuk memarahi mereka menyalurkan perasaan kesalku dengan semua kesialan yang aku alami, ya, aku hampir saja memaki Agung, salah satu anggota Papi jika saja satu sosok yang keluar dari balik kemudi tidak muncul yang membuatku tidak bisa berkata-kata.

"Agung, tolong urus mobil Mbak Aira."

Ya, pria dingin yang sudah membuatku dua kali di marahi Papi ini memberikan perintah, jika Agung yang diperintahkan untuk mengurus mobilku, lantas siapa yang akan mengantarku ke studio? Aku tertegun saat menyerahkan kunci mobilku ke Agung, menatap pria yang jelas-jelas tidak menyukaiku itu yang kini juga menatapku.

"Saya yang akan mengantar Mbak Aira ke studio. Mbak Aira tidak keberatan?"

KAIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang