Bab 44

773 89 21
                                        

Kedua langkah kaki yang sejajar berjalan perlahan menapaki aspal menuju bangunan tingkat lima. Pria mungil itu tampak merapatkan jaketnya saat hawa dingin menyusup di sela-sela bajunya. Bukannya ia tidak tahan dingin, hanya saja cuaca malam ini benar-benar dingin membuatnya harus memakai jaket tebal. Sepertinya malam ini akan hujan. Untungnya, ia libur kerja karena pemilik restoran tempatnya bekerja sedang ada urusan. Ia bisa beristirahat untuk malam ini.

Pria tampan di sebelahnya melirik padanya, mendapati Jimin yang memeluk dirinya sendiri cukup membuatnya peka bahwa pria mungil itu merasa dingin.

"Kau dingin?" Tanyanya sambil mendekatkan wajahnya pada Jimin.

Jimin mengangkat kepalanya untuk menatap Eunwoo yang kini menatapnya khawatir. "Hm, sedikit dingin, tapi aku baik-baik saja." Jimin hanya tidak ingin Eunwoo khawatir padanya.

Tanpa berkata-kata, Eunwoo merangkul tubuh Jimin agar mendekat padanya. Ia tidak bisa melihat wajah Jimin yang memerah dengan bibir yang perlahan membiru.

Jimin terkejut tentu saja. Maniknya membulat sempurna saat hidungnya bisa menghirup aroma tubuh Eunwoo yang begitu menyegarkan. Tanpa sadar, pria tampan itu tersenyum kecil saat melihat ekspresi Jimin yang jelas terlihat terkejut.

"A-apa yang kau lakukan?" Jimin tergugu.

Eunwoo semakin melebarkan senyumannya. "Menjagamu agar tetap hangat," jawabnya singkat. Lalu, kakinya lebih dulu berjalan hingga tubuh mungil Jimin ikut terbawa.

***

Yoongi sedang duduk gelisah di dalam kamarnya. Sejak tadi, pesan yang ia kirimkan pada Jimin belum juga dibalasnya. Panggilan telepon pun tidak diangkat. Yoongi jadi khawatir sekali dengan keadaan Jimin saat ini. Apalagi ia menitipkan Jimin pada Eunwoo yang jelas ia tahu jika pria itu memiliki perasaan untuk Jimin-nya. Pikirannya membayangkan jika Jimin sedang tertawa bahagia bersama Eunwoo. Tidak, ia tidak mau hal itu terjadi.

Ia kembali melihat ponselnya yang masih tidak menunjukkan tanda-tanda Jimin menghubunginya. "Ji, ayolah balas pesanku," gerutu Yoongi. Tanpa sadar ia menggigiti ibu jarinya_kebiasaan Yoongi ketika sedang khawatir.

Saat masih mengkhawatirkan Jimin, pintu kamarnya diketuk pelan dari luar.

"Yoongi, ini eomma. Boleh eomma masuk?" Suara ibu Yoongi terdengar samar dari luar.

"Ya, eomma," jawab Yoongi singkat.

Tak lama, pintu terbuka menampilkan wanita paruh baya dengan dress kuning motif bunga kecil berwarna merah muda. Berjalan perlahan mendekati anak laki-lakinya yang duduk dengan wajah gelisah.

Ibu Yoongi duduk di sebelahnya dan menatap wajah Yoongi yang jelas nampak gelisah. "Ada apa, Yoongi? Kenapa wajahmu terlihat begitu gelisah? Ada sesuatu yang salah?" Tanya sang ibu lembut.

Di depan sang ibu, ia semakin menunjukkan wajahnya yang cemberut. Bahunya meluruh lesu. "Sejak tadi, Jimin belum membalas pesanku, Eomma. Aku khawatir dengannya," jujur Yoongi.

Ibu Yoongi tersenyum kecil, anak laki-lakinya sudah dewasa dan kini sedang jatuh cinta.

"Mungkin saja Jimin sedang sibuk, nak. Bukankah lebih baik kau juga menyibukkan dirimu?" Saran dari sang ibu yang langsung ditolak oleh Yoongi.

Kepalanya menggeleng, "Tidak, eomma. Aku tidak bisa berkonsentrasi jika khawatir seperti ini. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada Jimin."

Sang ibu mengangguk paham. "Bukankah Jimin tinggal di asrama? Seharusnya dia baik-baik saja kan?"

Yoongi menggigit kecil bibir bawahnya. "Sebenarnya, Jimin pulang bersama orang lain eomma. Aku menitipkannya pada orang lain untuk menjaganya, tapi seorang yang aku titipkan itu menyukai Jimin." Yoongi menjawab dengan lesu juga wajahnya yang ia tundukkan. Membayangkan Jiminnya bersama Eunwoo ia tidak sanggup.

Just FriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang