Yoongi, pria dengan wajah pucat itu terduduk di sofa empuk sebuah ruangan yang begitu elegan. Nuansa hitam dan abu-abu gelap dengan sedikit kombinasi cokelat di beberapa bagian cukup membuat kesan klasik.
Jujur saja, ia merasa gugup saat ini. Perihal syarat yang diminta oleh sang ayah sedikitnya membuat hatinya khawatir. Namun, yang bisa ia lakukan saat ini adalah tenang untuk menutupi rasa gugupnya.
Kepalanya mendongak saat sang ayah memanggil namanya. Memandang wajah sang ayah yang tegas, tetapi terlihat lengkung senyum di wajahnya membuat Yoongi ikut tersenyum kecil.
"Kau sudah dewasa rupanya," begitu singkat tetapi tersirat.
Yoongi semakin gugup, ia menggigit kecil bibir bawahnya. Ia diam, menunggu sang ayah melanjutkan ucapannya.
"Kau begitu mencintainya sampai ingin terjun ke dunia kerja hanya untuknya, bukan?"
Yoongi menggumam, ia tidak tahu harus merespon bagaimana sebab kalimat sang ayah yang terdengar begitu ambigu. Entah itu pujian atau sindiran karena ia begitu nekat.
Sang ayah mengangguk, tangannya terulur dan jemarinya meraih cangkir berisi kopi hitam buatan sang istri. Menghirupnya sebentar lalu menyeruput dengan nikmat. Kemudian, ia meletakkan kembali cangkir kopi tersenyum di atas meja. Semua itu tidak lepas dari pandangan Yoongi.
"Kalau boleh appa tahu, apa tujuanmu sampai begitu menginginkan bekerja di kantor appa?" Tanya sang ayah.
"Aku ingin membantu Jimin, Appa. Selama ini ia bekerja setelah pulang kuliah dan itu sampai larut malam. Belum lagi jika banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan malam itu juga. Ia tidak memiliki waktu istirahat yang cukup untuk dirinya sendiri. Bolehkah aku bekerja di kantor appa untuk membantu Jimin? Dan tentang syarat yang appa minta, aku akan melakukan apapun yang penting aku bisa bekerja, Appa."
Ia sangat berharap agar sang ayah menyetujui permintaannya kali ini.
Ayah Yoongi kembali mengangguk. "Kau benar mencintainya?" Tanya ayah Yoongi sekali lagi.
Kini, Yoongi yang mengangguk mantap. "Iya, Appa. Aku sangat mencintai Jimin. Aku tidak ingin melihatnya kelelahan seperti itu. Aku ingin menjaga dan membahagiakannya, Appa."
Sang ayah tersenyum lebar. Anak laki-lakinya sudah begitu dewasa. Terbesit di hati kecilnya rasa bangga terhadap Yoongi. Ia bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan menjaga orang yang ia cintai. Ia sudah bisa mempercayakan perusahaannya pada Yoongi.
"Baiklah. Kau boleh bekerja di kantor appa!" Jawab tegas sang ayah.
Yoongi tersenyum lebar, "Terima kasih, Appa. Lalu dengan syarat yang appa minta, apa itu?" Yoongi begitu penasaran dengan syarat yang diminta sang ayah.
Sang ayah tersenyum sembari menggeleng samar. "Syaratnya kau harus bertanggung jawab pada pekerjaanmu, kuliahmu, dan pada Jimin. Apakah kau sanggup melakukannya?"
Lengkung di bibir Yoongi semakin lebar. "Aku sanggup, Appa!" Ucapnya begitu semangat. Ia memeluk sang ayah begitu erat sambil terus mengucapkan terima kasih. Sang ayah membalasnya dengan tepukan di punggung Yoongi.
***
Jimin duduk di tepi kasur milik Yoongi. Ia menatap pria pucat yang kini duduk di kursi tepat di hadapannya. Ia kesal, wajahnya menunjukkan bahwa dirinya sedang marah. Namun Yoongi, hanya tersenyum sembari menatap Jimin penuh cinta.
"Gi, sekarang katakan padaku. Mengapa kau meminta pekerjaan seperti itu pada orangtuamu? Kau masih sanggup membayar kuliah dan memenuhi kebutuhanmu, lalu untuk apa kau bekerja? Dan kau bilang apa tadi, untuk membahagiakanku? Gi, yang benar saja!" Jimin tidak dapat mencerna apa yang baru saja Yoongi lakukan. Untuk apa ia ingin bekerja hanya untuk dirinya, sedangkan ia tahu benar jika bekerja itu sungguh melelahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Friend
RomansaJimin hanya sebatas teman bagi Yoongi, tetapi Yoongi adalah sosok yang paling berarti bagi Jimin. Iya, Jimin menganggap Yoongi lebih dari teman, sedangkan pria itu akan selalu menganggapnya teman baik.
