percaya gak percaya, sejauh ini awaa belum nemuin hasil ulangan awa yg di remedial dongg. MTK 82, alhamdulillah woyy. malah ditanyain sama mama awa "knp gk bisa 100?" ktnya:)
─── ・ 。゚☆: *.☽ .* :☆゚. ───
(Name)'s POV.
Aku membuka mata perlahan. Ruangan ini serba putih, bahkan tubuhku terasa ringan sekali. Pakaian ku berwarna serba putih, lalu.. "di mana ini?" Aku mengedarkan pandangan.
"Selamat datang, (Name)." Aku menoleh, di belakangku sosok perempuan yang kukenal berjalan mendekatiku.
"Hinata!" Aku kaget melihatnya, sudah lama sekali kami tak bertemu seperti ini. Yeuu namanya juga dia udah meninggal, kek mana mau ketemu.
"Ini di mana, Hinata? Apa aku sudah mati? Tunggu— Eri-chan! Bagaimana dengan Eri-chan? Apa dia dan Izuku serta yang lainnya selamat?" Hinata malah tertawa terbahak-bahak.
"A-ada apa?" Aku kesal sendiri serasa ingin memukulnya. "Ku bilang ada apa hei!"
"Ahahaha.." dia mengusap air mata di ujung matanya, "tak ku sangka kau yang kukenal ternyata bisa berekspresi heran sampai segitunya, fufu..." Dia menutup mulutnya sedikit, seperti menahan tawa, jarinya telunjuk nya menunjuk ke arahku.
Hinata menetralkan ekspresinya, lalu berdehem, "ehem. Baiklah, pertama-tama, ini ingatan bawah sadar mu. Kedua, kau baik-baik saja, dan kecil kemungkinan kau mati. Selebihnya aku juga tidak tahu, besar kemungkinan mereka selamat, terutama Midoriya Izuku."
Aku menghela nafas lega kala mendengar hal tersebut. "Jadi, apa ada yang ingin kamu bicarakan?" Tanyaku to the point, kalau bisa aku ingin menanyakan hal itu pada Hinata, tapi biarkan dia duluan yang bicara.
"Hmm, tidak."
"Hah?"
"Tidak ada."
Pembuluh darahku serasa mau pecah, "jangan bermain-main dengan ku, aku nge gigit loh." Ancam ku sedikit bercanda untuk menahan emosi. Hal itu sukses membuatnya tertawa terbahak-bahak. Dia suka sekali tertawa lepas, ya.
"Ahahaha! Yang benar saja oi! Hahahaha! Dari mana kau belajar kata-kata itu, hahahaha! Haha, hahaha... Ehem, jadi begini. Karena kamu terlanjur kemari, sekalian kita nongkrong sambil gosip bareng. Itung-itung nunggu bandan mu sembuh." Dia duduk di salah satu tempat duduk, dan menepuk tempat di sampingnya, isyarat untukku duduk disebelahnya.
Aku berjalan mendekatinya, lalu mendudukkan diri disebelah nya. "Memangnya apa yang perlu di gosip kan?"
"Tidak, gosip diakhir pertemuan saja. Mumpung ada kesempatan, aku mau bercerita padamu."
"Ya? Bercerita apa?"
"Begini, villain yang kau lawan sampai membuatmu sekarat itu .. Naosu, kan?" Ada sedikit keraguan dalam nada bicara Hinata.
"Ya, benar. Ada apa memangnya?" Jarang sekali melihat Hinata gugup, ingin sekali aku memotretnya.
Tapi aku tak bisa membawa ponsel ke sini, dan lagi kalaupun bisa lalu ku sebarkan, pasti akan ada gosip yang mengatakan hantu seorang Hero gentayangan.
"Huft, sudah kuduga..." Hinata menenggelamkan wajahnya di telapak tangan, "apa dia tak menyadari ada diriku di dalam diri (Name)...?" Gumamnya yang masih bisa terdengar olehku.
"Aku meminta maaf atas nama Naosu. Gara-gara aku juga kalian yang seharusnya akrab malah jadi musuh... Andai aku bisa menceritakan lebih awal padamu." Tampak banyak sekali penyesalan dalam setiap kata yang Hinata lontarkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐄𝐕𝐄𝐍𝐓𝐇 || 𝐁𝐍𝐇𝐀 𝐱 𝐑𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫
Fiksi PenggemarBagaimana rasanya menjadi kembaran dari Midoriya Izuku dan memiliki Quirk mengendalikan 7 elemen? Midoriya (Name) memiliki Quirk yang cukup berguna di pertempuran. Namun ia merasa tidak adil karena hanya dirinya saja yang memiliki Quirk. Sedangkan s...
