56

468 49 21
                                        

(Name)'s POV.

"... Disaat Dewi rembulan terpeleset dari langit malam, ia tak sengaja turun ke dunia manusia. Ia terjatuh diatas tubuh seorang pria gagah berotot dengan wajah tampan dan pakaian yang rapi. Pria itu kebingungan, sorot matanya menatap sang Dewi dengan tatapan terpesona sekaligus kagum. Ia berkata, "Engkau.. Dewi?" Tebak sang pria."

"Sang Dewi lantas terkejut, bagaimana manusia macam pria ini bisa tahu kalau dirinya ini Dewi? Namun, si Pria kembali berucap, "Cantik seperti Dewi..." Sang Dewi menghela napas, ternyata Pria itu menganggapnya Dewi karena kecantikannya. Lantas sang Dewi hendak beranjak dari posisinya, namun lengannya tertahan oleh lengan si pria. Dengan tatapan terpesona dan mata yang berbinar sang pria berkata, "Dimana rumahmu, Dewi?" Tanyanya yang membuat Sang Dewi kebingungan."

"Alisnya mengernyit, lantas ia berkata, "Aku tidak punya rumah." Si pria sedikit terkejut lantas menawarkan "Kalau begitu, mari menginap di istanaku. Suatu kehormatan bagiku bisa menerima kunjungan dari orang secantik Dewi macam dirimu." Sang Dewi bergidik.

Sang Dewi menatap bibir si pria, "Astaga ... Kau tahu, tidak ada bibir yang secantik bibirmu." Puji sang Dewi, sejujurnya ia mengatakan seperti itu karena ia tidak pernah melihat siapapun di langit malam. Ia hanya mengawasi dan memastikan cahaya rembulan sampai ke bumi, kalau tidak manusia akan musnah.

Si pria merasakan jantungnya berdegup kencang tak karuan. Lantas ia segera beranjak sembari mengulurkan tangan pada sang Dewi. "Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi aku akan membantu orang yang tersesat." Lucu sekali rasanya disebut 'orang tersesat'. Padahal dirinya bukanlah orang apalagi ia tidak tersesat sama sekali, pikir sang Dewi. Namun pria dihadapannya bersikeras membawanya ke Istana milik si pria. Sang Dewi awalnya menolak namun akhirnya ia mengikuti pria tersebut karena ia tergoda dengan suara musik.

Rupanya di Istana yang dimaksud sedang diadakan pesta pendirian negara...."

.....

"Bertahun-tahun telah berlalu. Sang Dewi kini sudah merasa nyaman berada di bumi bersama kekasihnya, si pria yang pertama kali ia temui. Namun, kian hari cahaya rembulan kian meredup. Seakan sudah lelah menerangi bumi, cahaya itu semakin sulit terlihat. Sang Dewi yang sudah nyaman hidup di dunia manusia mengira kalau dirinya juga adalah bagian dari manusia-manusia tersebut. Sayangnya kenyataan membawanya, ia adalah Dewi Rembulan yang harus kesepian diatas langit malam yang memiliki tugas untuk memastikan cahaya bulan tetap menerangi bumi.

Ia lalai dengan tugasnya dan malah bersenang-senang di dunia manusia. Sang Dewi merasa gagal sebagai Dewi Rembulan, ia sering kali menatap bulan dengan tatapan kecemasan. Ia adalah Ratu di kerajaan ini, ia tidak bisa pergi kemana-mana tanpa Raja karena kondisinya. Kian cahaya rembulan melemah, tubuh sang Dewi juga melemah. Ia harus segera pergi ke samping bulan lagi, namun tak ada lagi cara untuknya kembali ke dunia manusia setelah ia ke bulan nanti. Apakah ia harus mengikuti keegoisannya yang ingin tetap di bumi bersama Raja, Pangeran, dan Putri mereka, atau justru ia harus kembali ke bulan dan kesepian lagi?

Sang Dewi merasa frustasi, ia dihantui rasa bersalah karena melalaikan tugas. Tetapi kalau ia kembali sekalipun, ia tak tega meninggalkan anak-anaknya di bumi hanya bersama Raja sebagai orangtua tunggal nantinya. Suara langkah kaki terdengar membuyarkan lamunan sang Dewi.

"Wahai Ratuku, mengapa engkau menangis kala menatap bulan?" Tanya si pria yang kini telah menjadi Raja. Ia melihat sang Dewi menangis lantas membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya.

𝐒𝐄𝐕𝐄𝐍𝐓𝐇 || 𝐁𝐍𝐇𝐀 𝐱 𝐑𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang