60

504 40 10
                                        

pilih cinta dan kasih sayang yg damai serta mampu memahami satu sama lain, atau uang unlimited?

haaaaaahhhh pertanyaan yang sangat mudah sekali dijawab, bukan? (⁠ ⁠╹⁠▽⁠╹⁠ ⁠)



Author's POV.

"Sakura! Cepat bangun!" Hokuto Sai—Ayah Sakura—hendak mendobrak pintu kamar putrinya. Tapi niatnya dia urungkan karena untuk mengganti pintu kamar itu cukup memakan uang.

"5 menit lagi aku turun, Ayah..." Suara pelan itu menyahut dari balik pintu.

Sai mendengus kesal, "Ayah tidak masalah kalau kau mengatakan itu dihari-hari biasa! Tapi hari ini adalah hari yang berbeda!"

Sakura menjawab tanpa tertarik sedikitpun, "Hari apa..? Ini 'kan cuma hari kerja, lagian aku bagian sore, 'kok."

Sai merasakan kesabarannya semakin diambang batas. "Untung saja dia anakku, kalau bukan pasti aku sudah mencincangnya untuk dijadikan pakan ikan!"

"Aku capek, Ayah... Seharian kemarin—ah, bukan. Seminggu kemarin aku sudah memberikan plus ultra ku untuk persiapan pernikahan. Hanya untuk menentukan tempat resepsi dan mencari gaun pengantin saja sesulit ini..." Sakura mengeluh sembari menaikkan selimutnya supaya menutupi seluruh tubuh.

"Justru itu yang dapat kau jadikan sebagai memori indah." Sai berkata lirih dari luar, masih dapat didengar oleh Sakura meski samar-samar.

Sakura berdehem tidak tertarik, "Ya, ya. Sepertinya Ayah hari ini sangat berbeda, malah jadi orang cringe! Padahal biasanya Ayah benci kalau aku mengatakan 'kenangan' atau 'memori indah' dan semacamnya."

Sai termakan omongan sendiri.

"Pokoknya sekarang kau—"

Pintu dibuka, menampilkan sosok Sakura dengan penampilan berantakan. Hampir saja Sai memukul putrinya itu karena mengagetkannya.

"Awas, Ayah. Aku mau mandi."

Sai menghela napas lalu berjalan menuju dapur. Sakura di belakangnya berhenti melangkah, menatap punggung Sai.

"Ayah."

Sai menoleh malas, "Apa?"

"Kalau bapak tua ini bukan ayahku sudah dipastikan dia ku pukul detik ini juga!" Sakura mengepalkan tangannya, menahan geram.

Sakura menenangkan diri. Bukan saatnya dia marah dalam keadaan seperti ini.

"Apa Ayah.. akan tetap tinggal disini?"

Pertanyaan ambigu itu membuat Sai mengangkat satu alisnya, "Hah?"

"Hentikan, Sakura. Jangan merusak momen!" Mati-matian pro hero itu menahan amarahnya. Sakura bukanlah tipe orang yang bisa menahan amarahnya sedetikpun bahkan pada Ayahnya sendiri. Sudah tentu sifatnya menurun dari si bapak.

"Maksudku,.."

"Apa maksudmu? Tentu saja Ayah akan tetap tinggal disini. Kau pikir mau dimana lagi Ayah tinggal selain di rumah ini, hah?" -Sai.

"Dengarkan dulu sampai selesai, Pak Tua! Dasar..!" Sakura mendengus, lalu terdiam. Menatap serius pada Ayahnya.

"Kalau aku sudah menikah, apa Ayah akan tetap tinggal disini...?"

Sai terdiam, menatap putrinya dengan lembut. Tersenyum tipis lalu membalikkan badan, berjalan menuju dapur.

"Yah, Ayah tidak akan mengganggu kehidupan rumah tangga kalian. Pak Tua sepertiku tidak dibutuhkan dalam rumah tangga kalian yang pastinya hebat itu, buk—"

𝐒𝐄𝐕𝐄𝐍𝐓𝐇 || 𝐁𝐍𝐇𝐀 𝐱 𝐑𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang