(Name)'s POV.
Aku membuka mata, ini tempat serba putih biasanya aku bakal dilempar kesini pas udah sekarat. Nah sekarang apalagi?
Kosong melompong, tidak ada siapapun selain diriku di tempat ini. Hanya ada bangku taman dan sebuah pohon indah, jadi aku duduk disana.
Ah, aku lupa tadi lagi ngapain bisa sampai keseret ke dimensi ini.
"Kekuatan itu berawal dari perasaan."
Aku mengangkat kepala, celingukan mencari siapa yang bicara. Woy gak ada wujudnya.
"Saat merasa marah, kekuatanmu akan melewati garis batasannya, dan itu sangat bahaya. Alasan mengapa jangan sampai kau memaksakan Quirk-mu karena itu bisa membunuhmu. Memang tidak akan langsung, tapi itu akan membunuhmu secara perlahan sehingga rasa sakitnya lebih dari luar biasa. Setiap kali quirk melebihi batas, sel darah merah di tubuhmu akan berhamburan dan bergerak tak sesuai, itu memicu terjadinya ledakan di pembuluh darah akibat sel darah merah yang tak terkontrol."
Aku mulai kalem mendengarkan, duduk santai di kursi. Padahal aku tahu kalau ini adalah ceramah untukku.
"Hidup manusia itu tergantung lingkungannya. Kau sudah hidup di lingkungan yang baik, tanpa quirk, tapi kau memilih jalan yang rumit."
Aku menggaruk rambut, merasa tak paham.
"Manusia itu lemah tanpa manusia lainnya. Jembatan dan tembok bisa dibangun dari hasil kerjasama dan gotong royong orang-orang."
Ini sebenarnya topik yang dibahas apasih? Tadi Quirk, abis itu malah jadi motivasi, kan aku jadi ga paham.
"Kalau kau pintar, seharusnya kau mengerti."
Astaga, aku merasa kesal.
"Apa yang ingin kau bicarakan?!" Aku tak tahan, akhirnya angkat suara.
"Intinya, aku ingin memberitahumu kalau kau dan Quirk yang mengalir di tubuhmu itu takkan bisa saling sinkron."
Aku terkejut, "Kok gitu?!"
"Niat aslimu menjadi hero bukan murni untuk menyelamatkan orang lain, 'kan?"
Deg
Itu tidak salah, tapi ..
"Aku sudah merubah prinsipku!"
Dia tertawa meremehkan, "Meski merubah prinsipmu saat ini, apakah prinsip hidup bawaan lahir bisa diubah? Kau mendaftar di U.A pun karena kau merasa perlu melindungi adik kembarmu, 'kan? Sampai saat ini, alasan mengapa tubuhmu selalu diambil alih adalah karena prinsipmu sendiri. Sedari lahir kau itu sudah memiliki prinsip untuk melindungi kembaranmu meski ia lebih kuat darimu."
"Itu karena aku menyayangi Izu-chan!" Aku mengepalkan tanganku, "Aku merasa tidak bisa melindunginya dan malah membiarkannya dibully di sekolah, sementara diriku terus terkurung di rumah sakit. Aku benci diriku—"
"Kalau begitu, lindungi lah apa yang kau rasa perlu kau lindungi."
Aku mendongakkan kepala, "Eh?"
Apa sih woy, tadi dianya sendiri bilang ubah prinsip idupku!? Aneh hiihhhhh.
"Niat melindungi adik kembarmu, buatlah itu seakan hidup di dalam dirimu. Alasanmu hidup, alasanmu masih bisa bernapas dan bertahan hingga saat ini, jadikanlah melindunginya alasan itu semua. Itulah niat murni yang diinginkan quirk ini, sampai niat murni itu belum ada kau dan quirk ini tidak akan bisa bersatu."
"Hinata bisa mengendalikan quirk dengan baik dan tak pernah sampai sekarat karena dia sudah punya prinsip dan alasan hidup yang jelas. Alasan hidupnya satu, dia hanya ingin melindungi adiknya. Lalu urusan melindungi warga pun tetap dijalankannya, ia membayangkan kalau melindungi warga sama dengan melindungi adiknya."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐄𝐕𝐄𝐍𝐓𝐇 || 𝐁𝐍𝐇𝐀 𝐱 𝐑𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫
FanfictionBagaimana rasanya menjadi kembaran dari Midoriya Izuku dan memiliki Quirk mengendalikan 7 elemen? Midoriya (Name) memiliki Quirk yang cukup berguna di pertempuran. Namun ia merasa tidak adil karena hanya dirinya saja yang memiliki Quirk. Sedangkan s...
