(NAME)'S POV
Rencana berlatih tetap dilakukan, tapi nanti akhir pekan. Karena aku benar-benar kelelahan setelah hari itu.
Aku tidak ingat apa saja yang telah terjadi dihari kami berlatih. Seakan ingatan tentang hari itu dihapus dari memori ku, dan anehnya hanya hari itu yang tak ku ingat. Aku bahkan tidak ingat kalau hari itu juga kami kelas 1-A berlatih dan melawan Amajiki-senpai beserta Nejire-senpai.
Aku tidak ingat dan aku tidak ingin ingat, karena setiap kali aku berusaha mengingat aku pasti merasa sakit kepala yang luar biasa.
Bahkan terkadang saat bangun tidur, aku lupa siapa diriku dan dimana ini, kenapa aku, semua pertanyaan meluap dari pikiranku. Rasanya kepalaku mau pecah.
"Apa lain kali aku harus ke psikolog? Tapi..." menghela napas.
"Kenapa denganku akhir-akhir ini, sih? Apa akhirnya aku jadi gila?" Menutup buku lalu bersandar pada kursi.
"Tidak seperti biasanya aku begini. Setidaknya selama ini, tidak pernah ada satupun kejadian yang ku lupakan hanya karena pingsan begitu saja..." Aku bergumam sendiri sembari memainkan pulpen.
"Oh, (Name)-san. Sedang banyak pikiran, ya? Apa itu masalah saat latihan..? Jangan terlalu dipikirkan sampai seperti ini..." YaoMomo si peka bertanya padaku.
"Tidak, tidak. YaoMomo tidak perlu khawatir! Aku sedang memikirkan hal lain, kok!" Aku menyangkal.
"Iya, 'kan? Aku sedang mempertimbangkan untuk pergi ke psikolog atau tidak, berarti aku sudah tidak memikirkan kejadian hari itu... 'kan?"
Raut wajah YaoMomo seakan tak percaya dengan perkataan ku. Sepertinya dia sangat khawatir.
YaoMomo menghela napas, "Baiklah. Tapi kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, ceritakan saja padaku."
Aku tersenyum sembari mengangguk, "Terimakasih."
"Ah, iya. Entah ini perasaanku doang atau..." Ia melirik ke belakang, tepatnya ke arah bangku Shoto yang kosong. Ia melanjutkan sembari berbisik, "Aku melihat Todoroki-san akhir-akhir ini sering sekali menatap ke arahmu. Mungkin dia juga mencemaskan (Name)-san."
Aku terdiam selama beberapa saat, "...Mungkin."
YaoMomo terkekeh, "(Name)-san, jangan buat orang bertanya-tanya dalam benaknya sendiri. Bukankah perasaan itu tidak enak jika hanya dipendam?"
Aku melongo, masih mencerna kata-katanya.
"Nah, kalau begitu ayo bersiap ganti ke kostum mu. Karena kita akan bertanding dengan kelas B hari ini!" Ia memberikan semangat sebelum pergi meninggalkan kelas sembari membawa kopernya.
"YaoMomo... Tidak biasanya dia meninggalkanku kalau sedang bingung. Apa akhirnya dia menyerah dengan pikiranku yang absurd dan tidak peka ini?"
Aku menyimpan buku dan pulpen kembali ke dalam tas, lalu mengambil koper ku untuk segera menyusul YaoMomo ke luar kelas.
"Apa quirkku sudah membaik dan bisa digunakan lagi dengan aman saat ini...? Kalau masih seperti saat itu, aku akan minta izin ke Aizawa-sensei untuk tidak mengikuti kegiatan praktek kali ini." Aku menggenggam erat koper.
"Apa aku akan menyakiti teman-temanku...?"
──────⊹⊱✫⊰⊹──────
THIRD PERSON'S POV (AUTHOR'S POV)
"Wah, kostum mu baru lagi, (Name)?!" Jiro nampak kagum.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐒𝐄𝐕𝐄𝐍𝐓𝐇 || 𝐁𝐍𝐇𝐀 𝐱 𝐑𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫
FanfictionBagaimana rasanya menjadi kembaran dari Midoriya Izuku dan memiliki Quirk mengendalikan 7 elemen? Midoriya (Name) memiliki Quirk yang cukup berguna di pertempuran. Namun ia merasa tidak adil karena hanya dirinya saja yang memiliki Quirk. Sedangkan s...
